Nasionalisme di Sebaris Lahan Wakaf

Upaya pemerintah meningkatkan kesejahteraan di kawasan sabuk pengaman negara tersebut masih harus menempuh jalan panjang.

Aries Munandar

LIMA tahun lalu, hamparan itu hanya berupa hutan bawas yang dipenuhi semak belukar dan beberapa jenis pohon lokal. Nyaris tidak ada kehidupan dan aktivitas warga di sana, kecuali peladang berpindah. Mereka memanfaatkan sebagian kecil hamparan itu untuk ditanami padi, sayuran dan buah-buahan.   

Kini, lahan sekitar 1.500 hektare (ha) itu telah menjelma menjadi sebuah perkampungan warga. Sebanyak 155 rumah sangat sederhana berukuran 5x7 meter berjajar rapi dan tertata apik, memenuhi berbagai sudut lokasi permukiman.

“Lahan ini milik masyarakat setempat yang memang diwakafkan untuk membangun sebuah perkampungan,” kata petugas pendamping lokal Alian. 

Perkampungan kecil ini terletak di Desa Semongan, Kecamatan Noyan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Sebuah unit permukiman yang dihuni komunitas adat terpencil. Mereka sebelumnya merupakan peladang berpindah dan tidak memiliki tempat tinggal tetap (nomaden) yang tersebar di sekitar relokasi.  

Selama menjalani model kehidupan pra-sejarah tersebut, komunitas adat dari subsuku Dayak Kotek ini benar-benar terasing dari kehidupan dunia luar. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengakses berbagai sistem dan sumber layanan sosial.

“Atas dasar itulah, Departemen Sosial kemudian merelokasi mereka melalui program pemberdayaan komunitas adat terpencil. Tujuannya, untuk memutus mata rantai keterisolasian dan ketertinggalan,” kata Bupati Sanggau Setiman H Sudin.

Relokasi atau upaya pemukiman kembali komunitas adat terpencil ini dilakukan dalam dua tahap. Pada 2004 diikuti sebanyak 65 keluarga dan pada 2008 sebanyak 40 keluarga. Disamping itu, terdapat 50 keluarga menempati relokasi pada 2006 melalui program bantuan stimulan bahan bangunan rumah.

Selain tempat tinggal beserta lahan pekarangan seluas 15 meter persegi, setiap keluarga dijatah 1 hektare lahan pertanian beserta benih dan bibit tanaman serta ternak. Bantuan ini sebagai rangsangan untuk meningkatkan kemandirian warga dalam memberdayakan sumber ekonomi dan pendapatan keluarga.

“Relokasi KAT (komunitas adat terpencil) bukan program pembangunan rumah. Kalau hanya membangun rumah tanpa diikuti program pemberdayaan masyarakat, begitu selesai dibangun bisa-bisa mereka malah meninggalkan atau menjual rumahnya,” kata Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, saat mengunjungi relokasi komunitas adat terpencil di Desa Semongan, Jum’at pekan lalu (5/6).

Erosi Nasionalisme
Relokasi komunitas adat terpencil di Desa Semongan memiliki kelebihan tersendiri jika dibandingkan dengan relokasi serupa di berbagai daerah. Letaknya yang berada di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia menjadikan relokasi ini memiliki peran strategis bagi fungsi pertahanan dan keamanan negara.  

“Kita harus memberikan kesejahteraan yang lebih baik. Kalau tidak, nasionalisme mereka secara berlahan akan mengalami erosi karena tingkat kesejahteraan negara tetangga jauh lebih baik daripada di sini,” tegasnya.

Kesenjangan dan tingginya tingkat ketergantungan menyebabkan warga di perbatasan Indonesia banyak memilih menetap dan bekerja di Malaysia. Mereka menganggap masa depan kehidupan di sana jauh lebih terjamin karena pemerintah setempat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. 

Sikap pragmatis ini berpotensi menjadi ancaman serius bagi pertahanan dan keamanan nasional karena dapat mempengaruhi nasionalisme. “Dahulu, seandainya disuruh memilih, masyarakat di sini lebih memilih menjadi warga Malaysia daripada Indonesia. Namun, sepertinya ketertarikan itu sekarang sudah hilang karena pemerintah dianggap mulai memperhatikan mereka,” jelas Alian.

Pernyataan Alian ini diperkuat oleh pengakuan sejumlah warga di relokasi. Semenjak menempati permukiman baru yang disediakan pemerintah, mereka mulai membuang jauh-jauh impian mengenai kehidupan di Malaysia. “Saya tidak mau ke Malaysia. Susah atau senang lebih baik di sini saja,” ujar Clara,27, senada Sarnen,40,.

Upaya pemerintah meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan sabuk pengaman negara tersebut masih harus menempuh jalan panjang. Minimnya sarana dan prasarana di relokasi menyebabkan masyarakat belum sepenuhnya lepas dari keterisolasian.

Akses jalan menuju ke relokasi, misalnya bisa berubah menjadi kubangan saat musim penghujan. Kondisi ini praktis membuat kawasan tersebut kembali terisolasi karena jalan sepanjang 8 kilometer itu tidak bisa dilalui. Kecuali, berjalan kaki atau dengan mobil bergardan ganda. “Kami akan prioritas pembangunan jalan ini dalam APBD mendatang,” tegas Setiman.

Program Gagal
Program pemberdayaan komunitas adat terpencil telah dilaksanakan sejak tahun 1970-an. Program ini sering mendapat sorotan tajam dari berbagai kalangan karena dianggap sebagai program yang dipaksakan dan memberangus identitas sosial masyarakat adat. Namun, pemerintah bergeming.

Data Direktorat Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil Departemen Sosial (Depsos) menyebutkan terdapat 229.479 keluarga komunitas adat terpencil yang tersebar di 27 provinsi. Sebanyak 78 ribu keluarga sudah diberdayakan, 10.301 keluarga sedang diberdayakan dan 141.178 keluarga belum diberdayakan.

Adapun capaian akhir dari program pemberdayaan ini ialah munculnya kantong pertumbuhan ekonomi baru dari relokasi tersebut. “Kalau potensi sumber daya alam dan sumber daya manusianya memungkinkan, permukiman ini bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru,” kata Direktur Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil Depsos Teguh Haryono.

Namun, tidak jarang pula perkembangan sejumlah relokasi pascapembinaan Depsos, mandeg karena kurangnya perhatian pemerintah setempat. Akibatnya, permukiman yang semula diharapkan menjadi cikal bakal pusat pertumbuhan ekonomi, justru menjadi kantong kemiskinan baru.  

“Ada yang cukup responsif. Begitu selesai (masa pembinaan depsos), beberapa program pemerintah daerah langsung masuk ke relokasi. Tapi, ada juga pemerintah daerah yang tidak tahu dan pura-pura tidak tahu,” ungkap teguh.

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Nasionalisme di Sebaris Lahan Wakaf
Nasionalisme di Sebaris Lahan Wakaf
https://1.bp.blogspot.com/-op3dxQFrpvw/WJGq0pRb4KI/AAAAAAAACc0/u-GGK0N6h74JMwZbtTp-ua0ZO0VW_nGwgCLcB/s200/Beranda%2BNegeri_Relokasi%2BKAT%2BNoyan%2BI.JPG
https://1.bp.blogspot.com/-op3dxQFrpvw/WJGq0pRb4KI/AAAAAAAACc0/u-GGK0N6h74JMwZbtTp-ua0ZO0VW_nGwgCLcB/s72-c/Beranda%2BNegeri_Relokasi%2BKAT%2BNoyan%2BI.JPG
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2009/06/nasionalisme-di-sebaris-lahan-wakaf.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2009/06/nasionalisme-di-sebaris-lahan-wakaf.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy