Kulat dalam Kepungan Sawit

Menoreh Karet
PERMIIT, desa di pinggiran Sungai Behe nampak tertata apik. Dengan deretan rumah-rumah sederhana dalam naungan rimbun pepohonan, perkampungan di pedalaman Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, tersebut membentuk bayang keteduhan.

Aries Munandar

Suasana itu kontras dengan pemandangan di sekitar desa. Areal jalan yang terjal rusak serta berlumpur tersebut amat gersang akibat pembukaan hamparan lahan untuk kebun kelapa sawit.

Hanya kawasan Desa Permiit berpenduduk 300 kepala keluarga itu yang belum tersentuh ekspansi sawit. Satu-satunya di antara 11 desa di Kecamatan Kualabehe, Kabupaten Landak. Akibatnya wilayah ini terkepung oleh kebun monokultur tersebut.

“Beberapa perusahaan telah melakukan pendekatan dan menyosialisasikan rencana pembangunan kebun kelapa sawit di desa kami. Namun, warga secara halus menolak rencana itu dan tetap memilih berkebun karet,” kata Martinus Risau, 41, salah seorang warga.

Berkebun karet menjadi salah satu mata pencarian warga selain menambang emas secara tradisional. Alasan mereka untuk bertahan di lahan karet sederhana saja, yakni karena usaha budi daya tanaman ini dinilai lebih menjanjikan dan gampang dirawat. Selain pola usahanya tidak bergantung dengan pemodal.

“Berkebun karet lebih santai. Paling setengah hari sudah selesai sehingga bisa mengerjakan pekerjaan sampingan lainnya. Selain itu, hasilnya bisa langsung dijual dan bisa juga disimpan sambil menunggu harga naik,” ungkap Martinus.

Budi daya karet menjadi berkah tersendiri bagi warga Permiit, seiring harga lateks beku atau bahan olahan karet terus membaik beberapa bulan terakhir.

Harga setiap kilogram bahan olahan karet yang menembus belasan ribu rupiah membuat warga semakin bergairah membudidayakan tanaman tersebut. Apalagi usaha penambangan emas yang mereka tekuni sudah tidak bisa diandalkan sebagai sumber mata pencarian alternatif.

Pasalnya, jumlah penambang terus bertambah. Tidak sebanding dengan cadangan butiran emas yang semakin hari semakin sulit didapat.

“Dahulu sehari saya paling sedikit bisa dapat 1 ons emas, sekarang paling cuma dapat 2-3 gram,” kata Kensius 48, warga Permiit. Dia mengaku pernah menambang sebulan tanpa hasil apa-apa dan malah merugi karena modal kerjanya bisa mencapai Rp20 juta hingga Rp50 juta.

Pemilihan presiden
Karet menjadi salah satu komoditas perkebunan utama di Kabupaten Landak. 

“Setiap keluarga di kecamatan kami pasti memiliki kebun karet. Kendati mereka telah bekerja di perusahaan perkebunan kelapa sawit atau di bidang lainnya,” kata Camat Jelimpo AY Mustafa.

Hasil berkebun karet memang sangat bisa diandalkan terutama di saat musim paceklik atau ketika warga membutuhkan dana mendesak. Memiliki bahan olahan karet, yang oleh masyarakat setempat disebut kulat itu dianggap seperti memiliki tabungan yang setiap saat bisa diuangkan.

“Sebenarnya tidak ada alasan warga Kabupaten Landak itu menjadi miskin karena sumber daya alam di sini cukup melimpah. Hanya saja manajemen (keuangan keluarga) dan pola pikir masyarakat yang perlu terus dibenahi,” ujar Bupati Landak Adrianus Asia Sidot.

Keberadaan tanaman berkayu yang telah dibudidayakan warga secara turun-temurun itu tidak saja memegang peranan strategis dalam perekonomian daerah, tetapi juga merembet ke pilihan politik.

Warga di kabupaten berpenduduk miskin sekitar 63.180 jiwa atau 18% dari 351 ribu penduduk tersebut, mengidentikkan fluktuasi atau naik-turunnya harga bahan olahan karet dengan kebijakan dan keberhasilan pemerintah dalam menyejahterakan rakyat. 

“Kenapa Megawati Soekarnoputri pada (Pemilihan Presiden) 2004, naik (menang) di Landak. Itu karena pada saat itu harga karet sedang bagus-bagusnya,” ungkap Adrianus.

Selamatkan lingkungan
Pilihan warga Permiit untuk tetap mempertahankan lahan karet tanpa disadari menjadi bagian dari upaya penyelamatan bumi terhadap ancaman pemanasan global. Apalagi aktivitas perambahan hutan dan perusakan lingkungan di sekeliling mereka masih terus berlangsung hingga saat ini. 

Beberapa penelitian membuktikan karet berperan penting dalam mengurangi emisi karbondioksida (CO2) di udara. Tanaman ini dalam satu siklus mampu mengikat sekitar 660 ton CO2 per hektare atau rata-rata sekitar 23 ton per hektare per tahun.

“Daunnya yang berbentuk oval, simetris, dan lebar itu mampu menyerap karbon lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelapa sawit,” kata Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Pontianak Abdurrani Muin.

Karet juga memiliki fungsi hidrologi atau pengaturan sirkulasi air tanah yang andal karena kemampuan menyerap airnya sangat tinggi. Kemampuan itu berkat akar tunjang yang menyebar di permukaan hingga jauh menembus ke dalam lapisan tanah.

Tidak hanya itu, jenis tanaman ini pun berkontribusi besar dalam menjaga dan mening katkan kesuburan tanah karena daun karet memiliki kemampuan humufikasi atau proses pelapukan yang cepat.

“Karet memiliki peranan penting dalam konservasi karena mampu mencegah erosi, mengatur suhu, dan kelembapan udara, menjaga kesuburan tanah, serta menyimpan cadangan air,” jelas Abdurrani.

Ia menambahkan, karet juga cocok dijadikan tanaman pelindung bagi tanaman budi daya lainnya. Kondisi di bawah tegakan karet yang teduh menjadi tempat ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan berbagai jenis tanaman, seperti rambutan, langsat, keranji, dan berbagai tanaman hortikultura.

Oleh karena itu, Dekan Fakultas Kehutanan Untan ini sangat menyayangkan karena saat ini banyak lahan perkebunan karet rakyat yang berubah menjadi hamparan kelapa sawit.

Sebab sepengetahuannya belum pernah ada laporan mengenai dampak buruk dari pengembangan karet, baik terhadap lingkungan maupun perekonomian rakyat. Bahkan sebaliknya, budi daya tanaman ini justru sudah terbukti mampu menjadi sumber pendapatan utama warga di Kalimantan Barat sejak dahulu.

“Jadi jika ditinjau dari aspek ekologi dan ekonomi jangka panjang, menggusur lahan karet itu sebuah tindakan yang sangat keliru,” tegas Abdurrani.

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Kulat dalam Kepungan Sawit
Kulat dalam Kepungan Sawit
https://2.bp.blogspot.com/-8ytP3SvEzWU/WJ9BMYj9STI/AAAAAAAACxw/zrg9rOIKkBInBDJW_ufuqj5g_v1vtBGvwCLcB/s200/Ekonomika_Sadap%2BKaret.JPG
https://2.bp.blogspot.com/-8ytP3SvEzWU/WJ9BMYj9STI/AAAAAAAACxw/zrg9rOIKkBInBDJW_ufuqj5g_v1vtBGvwCLcB/s72-c/Ekonomika_Sadap%2BKaret.JPG
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2010/06/kulat-dalam-kepungan-sawit.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2010/06/kulat-dalam-kepungan-sawit.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy