Generasi Terakhir Mi Asin Pontianak

Sudah tiga generasi menghidupkan usaha mi asin di Pontianak. Kini usaha tersebut akan ditutup pemiliknya karena sepi pembeli.

ARIES MUNANDAR

SUARA mesin bergemuruh dari lantai atas sebuah rumah petak, di antara bangunan ruko Jalan Diponegoro, Pontianak, Kalimantan Barat. Getaran suara mesin itu berasal dari empat mesin pengolahan mi milik Sunyoto Tejo, 58.

“Tiga mesin untuk menggilas (adonan) dan satunya lagi buat memotong mi,” kata bapak beranak tiga ini, Sabtu (1/10).

Sunyoto alias The Ngk Cun sudah puluhan tahun berprofesi sebagai perajin mi. Ia merupakan generasi ketiga penerus usaha keluarga tersebut. Pembuatan mi itu dirintis sang kakek, Bun Heng, seorang perantau dari negeri Tiongkok.

Pria yang akrab disapa Acun itu tidak mengetahui persis sejak kapan pembuatan mi tersebut mulai berjalan. Ia hanya mengetahui cerita dari orangtuanya bahwa usaha ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda.

“Di sana (Tiongkok), kakek juga membuat mi dan usaha itu kemudian dilanjutkan di sini (Pontianak),” ujar Reni Juliati, 51, istri Sunyoto.

Pembuatan mi itu sejak berdiri telah tiga kali berpindah tempat. Namun, semua lokasi itu masih berada di seputaran Jl Diponegoro. Lokasi tersebut saat itu belum sepadat sekarang. Belum ada deretan ruko dan pusat perbelanjaan. Jalan raya di kawasan itu bahkan masih satu jalur.

Acun dan istri dibantu dua anak serta beberapa karyawan dalam meneruskan usaha keluarga itu. Mereka bekerja setiap hari, yakni mulai pagi hingga menjelang siang. Dalam satu hari mereka rata-rata menghabiskan 2-3 sak terigu berukuran 25 kilogram.

Produk bikinan keluarga Acun dipasarkan di Pontianak dan wilayah sekitarnya. Selain mi diantar ke pelanggan, beberapa pembeli juga datang langsung ke tempat pembuatan. Keuntungan bersih usaha pembuatan mi tradisional itu sekitar Rp3 juta sebulan.

Mi asin
Keunikan usaha rumahan itu ialah mereka memproduksi mi asin. Mi asin merupakan mi kering dan berasa asin, yang menjadi salah satu makanan khas warga Tionghoa. 

Bentuk mi asin tidak jauh berbeda dengan mi basah, kecuali teksturnya yang kering dan kaku. Begitu pula bahan baku dan proses pembuatan. 

Perbedaannya mi itu tidak menggunakan soda sebagai pengenyal tekstur dan direbus dengan larutan garam sekitar setengah jam. Acun biasanya mengunakan sekitar 10 liter larutan garam untuk membuat 50 kilogram mi asin. 

Setelah direbus, lembaran mi itu ditiris dan dijemur hingga kering di bawah terik matahari. Selanjutnya, produk itu dikemas dalam kantong plastik transparan. Setiap bungkus berisikan 1 kilogram mi. 

Penggaraman mi, selain memberikan rasa asin, berfungsi sebagai bahan pengawet alami. Mi yang telah digarami itu mampu bertahan hingga sepekan, bahkan sebulan, setelah proses pembuatan.

“Kalau (mi asin) buatan kami paling hanya bertahan sepekan. Pembuatannya tidak dicampur dengan obat (pengawet buatan),” ungkap Acun.

Mi asin biasanya digunakan sebagai campuran sup atau direbus. Mi harus diseduh terlebih dahulu sebelum disajikan sebagai hidangan. Rasa asin pada mi itu membuat masakan menjadi terasa berbeda jika dibandingkan dengan menggunakan mi lainnya.

“Memasaknya tidak perlu dicampur garam lagi karena sudah (berasa) asin,” imbuh Reni.

Menu makanan dari mi asin kerap disajikan saat perayaan hari besar Tionghoa. Namun, itu lebih sering dihidangkan pada saat perayaan ulang tahun.

Seperti yang dilakukan Ahui, 30, warga Sungairaya Dalam yang membeli 1,5 kilogram mi asin di tempat Acun, dua pekan lalu. Dia ingin membuat mi untuk pesta ulang tahun ibunya. “Kami kan memasak mi untuk ulang tahun Mamak,” ucapnya.

Hidangan dari mi asin biasanya dipersembahkan secara khusus oleh anak kepada orangtua mereka yang berulang tahun. Menu itu sebagai simbol panjang umur dan harapan terhadap kehidupan yang lebih baik dalam setahun ke depan.

Simbol panjang umur pada mi asin bikinan Acun dilambangkan dengan seorang kakek berjenggot putih panjang dikelilingi empat cucu. Di atas gambar itu tertera tulisan ‘Chiang Siu Mie’, yang artinya mi panjang umur.

Generasi terakhir Industri pembuatan mi asin banyak dijumpai di Kota Singkawang, yang berjarak sekitar 150 kilometer dari Pontianak. Beberapa pedagang kaki lima dan restoran pun menyajikan menu khas Tionghoa itu.

Namun, tidak demikian di Pontianak. Jumlah perajin mi tersebut bisa dihitung dengan jari karena mulai langka. Begitu pula peminatnya. Bertambah hari pembeli atau pemesan mi asin langganan Acun berkurang.

Kondisi tersebut lama-kelamaan berimbas pada kapasitas produksi. Saat ini mereka hanya memproduksi mi asin sepekan sekali, atau menunggu stok produk yang harganya Rp18 ribu per kilogram itu habis.

Jumlah pekerja pun terus menyusut, yakni dari delapan kini menjadi tiga orang. “Saat menjelang Imlek dan Capgomeh, pembelinya agak lumayan. Di luar itu, hanya sesekali yang membeli,” ungkap Acun.

Untuk menyiasati kondisi tersebut, usaha kerajinan mi bernama Karya Jaya itu pada beberapa tahun belakangan memproduksi pangsit. Para pelanggan ialah penjual keliling mi ayam dan beberapa warung makan. Pangsit diproduksi setelah pembuatan mi basah atau mi asin selesai.

Semua upaya Acun dalam mempertahankan usaha warisan keluarga itu sepertinya tidak akan bertahan lama. Ia mengisyaratkan akan menutup usaha itu suatu saat nanti. Isyarat tersebut diungkapkannya dengan melarang anak-anak mereka menggeluti profesi serupa.

“Saya bingung. Tidak tahu apakah akan melanjutkan (usaha keluarga) karena Bapak melarang kami,” kata Ferdi, 24, putra bungsu Acun, yang duduk di semester akhir di salah satu satu perguruan tinggi swasta di Pontianak.

Acun enggan mengungkapkan secara persis alasan pelarangan itu. Ia hanya tidak ingin anak-anaknya menjadi pembuat mi. Acun hanya berharap anak-anaknya harus lebih maju dan sukses daripada orangtua mereka saat ini.   lihat juga di sini

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Generasi Terakhir Mi Asin Pontianak
Generasi Terakhir Mi Asin Pontianak
https://2.bp.blogspot.com/-xYvB0UwwOps/WJBzOeu5C-I/AAAAAAAACXo/gTVAuy5zE1UXSHapQi20RN9nMJLrT_d6gCLcB/s200/Mie%2BAsin%2BVI.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-xYvB0UwwOps/WJBzOeu5C-I/AAAAAAAACXo/gTVAuy5zE1UXSHapQi20RN9nMJLrT_d6gCLcB/s72-c/Mie%2BAsin%2BVI.jpg
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2011/10/generasi-terakhir-mi-asin-pontianak.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2011/10/generasi-terakhir-mi-asin-pontianak.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy