Dedikasi untuk Pelestarian si Pongo

Albertus Tjiu
Meski sempat ditentang orangtuanya dan beralih profesi, ia kini eksis di bidang penyelamatan orang utan kalimantan.

ARIES MUNANDAR

RUTINITAS pekerjaan kembali dijalani Albertus Tjiu, 40, setelah menikmati liburan panjang perayaan Imlek 2556, belum lama ini. Ia harus memeriksa dan membalas beberapa surat elektronik (email) dari para kolega dan sejawat.

Kesibukan Koko Albert, begitu biasa ia disapa, semakin meningkat akhir-akhir ini. Ia bersama beberapa rekannya tengah mempersiapkan pembangunan pusat penelitian flora dan fauna di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Pembangunan pusat riset yang berada di Kampung Meliau, Desa Malemba, Kecamatan Batang Lupar, itu semula direncanakan dimulai pada tahun lalu. Namun, karena beberapa persoalan teknis, proyek yang nilai pembangunan fisiknya mencapai Rp300 juta tersebut baru dimulai tahun ini.

“Pembangunan pusat riset ini sangat terkait dengan ketersediaan lahan dan komitmen masyarakat lokal. Jadi perlu dipersiapkan secara matang,” kata Albert.

Pusat riset tersebut akan memfokuskan penelitian terhadap orang utan kalimantan dari subspesies Pongo pygmaeus pygmaeus. Subspesies itu merupakan yang paling terancam kelestariannya di antara dua subspesies orang utan kalimantan lainnya, yakni Pongo pygmaeus wurmbii dan Pongo pygmaeus morio.

Habitat Pongo pygmaeus pygmaeus terkonsentrasi di Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) serta di wilayah sekitarnya di Kabupaten Kapuas Hulu. Populasi subspesies itu diperkirakan tidak lebih dari 1.500 individu. “Informasi dan data mengenai Pongo pygmaeus pygmaeus juga sangat minim,” ujar Albert.

Keberadaan pusat penelitian yang tengah dipersiapkan Albert bersama rekan-rekannya di WWF-Indonesia Program Kalimantan Barat itu diharapkan mampu menghasilkan informasi penting mengenai populasi, habitat, dan kehidupan Pongo pygmaeus pygmaeus di alam bebas.

Ditentang keluarga
Albert memang dikenal sebagai seorang aktivis dan peneliti konservasi orang utan di Kalimantan Barat. Ia sehari-hari bekerja di WWF-Indonesia Program Kalimantan Barat dan kini memimpin kantor proyek Kapuas Hulu di Putussibau.

Setelah memulai kariernya pada 1996 sebagai relawan atau volunteer WWF, Albert sering mendampingi tim dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang melakukan penelitian botani di TNBK. Setelah itu, pria kelahiran Sambasini direkrut sebagai staf di WWF-Indonesia Program Kalimantan Barat.

Pilihan putera pasangan Tjia Bun Mui dan Tjiu Po Kiaw un tuk menjalani profesi di bidang konservasi terbilang berani. Sebab isu pelestarian lingkungan ketika itu belum menjadi perhatian utama dan dilirik banyak orang. Apalagi, ia berasal dari keluarga Tionghoa yang diidentikan dengan pekerjaan sebagai pedagang atau pebisnis.

Tidak mengherankan jika orang tua Albert pun sempat mempertanyakan bahkan menentang pilihan profesi anaknya tersebut. Mereka mengkhawatirkan masa depan putra ketiga mereka itu sebab pekerjaan tersebut dinilai bukan profesi yang menjanjikan.

“Semua staf hingga level pimpinan di WWF itu statusnya pegawai kontrak. Jadi, orang tua saya khawatir seandainya kontrak saya tidak diperpanjang,” ujar Albert diiringi tawa ringan.

Kekhawatiran orang tua itu ternyata tidak mampu menggoyahkan pilihan Albert. Ia berprinsip keberhasilan dalam berprofesi bergantung pada keseriusan dan ketekunan.

Disangka cukong
Albert mulai menekuni konservasi orang utan di Kalimantan Barat sejak 2004, yakni setelah mengikuti Pertemuan Internasional tentang Konservasi Orang Utan (PHVA) di Jakarta.

Ia yang sebelumnya banyak berkutat di bidang botani dan kampanye konservasi itu, kemudian mengikuti pelatihan di Orang Utan Conservation Project di Sabah, Malaysia, pada tahun yang sama. Di sana, ia belajar banyak tentang survei populasi orang utan.

Debut awalnya sebagai peneliti orang utan dimulai pada 2005. Albert meneliti populasi orang utan di TNBK. Setelah itu, sejumlah survei dan riset penting pun ia lakoni selama menjadi peneliti konservasi kera besar tersebut.

Salah satu pengalaman berkesan selama bergelut dengan konservasi orang utan, saat Albert menemukan anak orang utan yang terpisah dari induknya selama dua pekan di Telukaur, Kapuas Hulu.

Primata berusia sekitar 3 tahun itu dirawat warga setempat karena terluka akibat jatuh dari pohon. Setelah sembuh, orang utan tersebut dilepaskan ke lokasi tempat ia ditemukan. Sekitar tiga hari kemudian, anak orang utan itu didapati telah bersama induknya kembali.

Pengalaman itu semakin meyakinkan Albert bahwa orang utan memiliki naluri dan perasaan yang mirip dengan manusia. Keyakinan tersebut sejalan dengan hasil penelitian para pakar yang menyatakan sebesar 97% sifat gen orang utan mirip dengan sifat gen manusia.

Aktivitas Albert selama menelusuri daerah pedalaman dan keluar-masuk hutan juga melahirkan beberapa kisah lucu. Salah satunya, ia pernah disangka sebagai cukong kayu oleh para pembalak liar.

Cerita itu terjadi sekitar 1999-2000, yakni saat ia bersama rekannya melakukan investigasi di TNBK. Kawasan TNBK ketika itu marak dengan aktivitas pembalakan liar.

“Tampang saya yang berkulit putih dan bermata sipit disangka mereka cukong kayu. Saya sih, tidak membantah dan tidak juga mengiyakan,” kenang Albert sambil tertawa.   LANJUT KE: Sempat Beralih Profesi Bisnis MLM 


Biodata

Tempat, tanggal lahir: Sambas, 9 Februari 1972
Alamat: Jl Sungai Raya Dalam Komplek Mitra IndahUtama II/12A, Pontianak
Profesi: Peneliti orang utan/staf WWF-Indonesia
Pendidikan: S-1 Pertanian Jurusan Kehutanan, Untan, Pontianak
Organisasi: Ketua Forina Kalbar (2011-2013).

Karier:
• Staf riset di Laboratorium Silvikultur, Fakultas Pertanian, Untan (1992-1996)
• Tim riset silvikultur dan jamur, Fakultas Pertanian, Untan (1993-1996)
• Asisten penelitian botani dan ekologi hutan, WWF-Indonesia TNBK (1996-1999)
• Koordinator Kampanye Kesa-daran, WWF-Indonesia TNBK (1999-2000)
• Koordinator Keanekaragaman Hayati, Inventarisasi, Pemetaan, dan Evaluasi, WWF-  Indonesia TNBK (2000-2004)
• Koordinator Konservasi Biologi WWF-Indonesia Kantor Proyek Putussibau (2005-2010)
• Pelaksana Pemimpin WWF-Indonesia Proyek Kapuas Hulu (2010)
• Pemimpin WWF-Indonesia Proyek Kapuas Hulu (2011-sekarang)

Karya:
Flora Pohon dan Tipe Hutan di TNBK (tim), WWF-PHPA-ITTO, Jakarta, 1999
Tipe Hutan di Ekspedisi Keanekaragaman Hayati Kalimantan 1997 (tim), ITTO, 1999.
Flora, Forest Classification and Diversity on Betung Kerihun National Park (tim), Oxford- IBH, New Delhi, India, 2001
Why don’t We Ask? A Comple-mentary Method for Assessing the Status of Great Apes (tim), dx.plos.org, 2011
North-West Bornean Orang-utan in Primates Peril: The World’s Most Endangered Primates (tim), IUCN, 2011.

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Dedikasi untuk Pelestarian si Pongo
Dedikasi untuk Pelestarian si Pongo
https://1.bp.blogspot.com/-aZQ-_-cxdxc/Wanh5JGmrdI/AAAAAAAADho/5pvWLYJPiiUJN5m9_O8Aa2GdUkbjRixeACLcBGAs/s200/Inspirasi_Albertus%2BTjiu_1.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-aZQ-_-cxdxc/Wanh5JGmrdI/AAAAAAAADho/5pvWLYJPiiUJN5m9_O8Aa2GdUkbjRixeACLcBGAs/s72-c/Inspirasi_Albertus%2BTjiu_1.jpg
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2012/02/dedikasi-untuk-pelestarian-si-pongo.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2012/02/dedikasi-untuk-pelestarian-si-pongo.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy