Geliat Juang Sekolah di Perbatasan

Setiap tahun SD Negeri 05 Saparan dikepung banjir. Namun, anak-anak tetap bersemangat menimba ilmu di sekolah perbatasan itu.

ARIES MUNANDAR

SISWA berseragam putih-merah itu menyelinapkan kakinya di bawah meja belajar. Ia mencoba menyembunyikan kaki yang tidak bersepatu itu dari bidikan kamera.

“Sepatunya dilepas. Panas (gerah) kalau dipakai,” katanya, beberapa waktu lalu.

Yudiansyah, 8, nama anak itu. Sepasang sepatunya disimpan di dekat pintu kelas. Siswa SD Negeri 05 Saparan, Desa Kumba, Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, itu tidak terbiasa memakai sepatu saat bersekolah. Dia kemudian sibuk menulis materi pelajaran di kelas.

SDN 05 Saparan berlokasi di perbatasan Indonesia-Malaysia. Siswa tanpa mengenakan alas kaki menjadi pemandangan biasa di sekolah tersebut. Tidak hanya di kelas, saat istirahat pun siswa tetap bertelanjang kaki. Mereka bermain dan membaur bersama.

Para siswa tersebut bukan tidak mampu membeli sepatu lantaran tuntutan kondisi. Jalan becek menuju sekolah dan banjir langganan membuat mereka terbiasa tidak beralas kaki saat bersekolah.

“Mereka harus melepas sepatu saat banjir dan melewati jalan becek. Karena keseringan, lama-kelamaan mereka menjadi terbiasa tidak bersepatu,” jelas Eko Nurhadi Purnomo, guru SD Negeri 05 Saparan.

Alternatif lain, lanjut Eko, beberapa siswa menggunakan sandal karena mudah dilepas dan dibersihkan. Kendati demikian, banyak pula siswa yang tetap bersepatu selama di sekolah.

Langganan banjir
Bila musim penghujan tiba, SDN 05 Saparan selalu langganan banjir. Biasanya banjir akan mengepung sekolah tersebut di penghujung atau awal tahun. Banjir terjadi akibat Sungai Kumba meluap setelah diguyur hujan deras selama beberapa hari.

Banjir bisa bertahan hingga sepekan dengan ketinggian air 1-3 meter. Akibatnya, aktivitas belajarmengajar terpaksa dihentikan sementara hingga banjir surut. Banjir juga memperparah kerusakan jalan di desa berpenduduk 976 jiwa itu. Jalan berlapis tanah merah tersebut menjadi becek dan penuh kubangan. 

“Banjir pernah sampai segini,” ujar Hernani, guru kelas I SD Negeri 05 Saparan, sambil menunjuk jendela ruangan guru.

Prestasi sekolah yang memiliki murid 102 orang itu terbilang lumayan untuk ukuran daerah terpencil. Tidak ada siswa yang berhenti sekolah (drop out) sejak enam tahun terakhir. Sebagian besar siswa lulus ujian nasional setiap tahun.

Sayangnya, banjir kerap menjegal langkah mereka. Banjir yang setiap tahun terus meninggi itu mengacaukan kalender pendidikan di sekolah yang berada di Dusun Saparan tersebut.

Awal semester yang seharusnya dimulai setiap Januari molor hingga Februari. Akibatnya para murid tertinggal dalam pelajaran bila dibandingkan dengan sekolah di daerah lain. “Apa boleh buat. Kami memang ketinggalan (pelajaran),” keluh Susana, guru kelas IV.

Kondisi itu tidak lantas menyurutkan semangat para siswa untuk bersekolah. Mereka tetap berdatangan walaupun sekolah dikepung banjir. Siswa rela berjalan kaki mengarungi banjir atau bersampan ke sekolah.

Meskipun model bangunan berbentuk panggung dan beberapa kali lolos dari serangan banjir, aktivitas belajar-mengajar tetap tidak bisa dilakukan karena pertimbangan keselamatan siswa. Apalagi sekolah tersebut juga dijadikan tempat pengungsian warga saat banjir.

“Lokasi di sekitar dan jalan ke sekolah tergenang. Jadi, siswa tetap tidak bisa bersekolah,” jelas Susana.

Banjir tahunan tidak hanya melumpuhkan aktivitas pendidikan, tetapi hampir seluruh sektor kehidupan warga. Sebab, banjir besar tersebut bisa terjadi dua hingga tiga kali sebulan.

Menurut Kepala Desa Kumba Udiansyah, desa seluas 6 ribu hektare itu langganan gagal panen. Ancaman krisis pangan kerap terjadi. “Banjir terparah pada 2003 dan 2005. Ketinggian air sampai 3 meter,” kenang Udiansyah. (baca: Tidak Bergantung kepada Jiran)

Sejak dahulu SDN 05 Saparan menjadi harapan warga di dusun tersebut. Sebagian besar masyarakat di sana hanya tamatan SD. Pemerintah sudah membangun gedung baru SD pada 2007 yang berjarak sekitar 3 kilometer dari sekolah lama.

Namun, gedung baru itu tidak bisa menampung seluruh siswa. Hanya siswa kelas IV hingga VI yang bersekolah di gedung baru, sedangkan kelas I hingga III berada di gedung lama. Pemerintah pun baru membangun SMP sejak tiga tahun lalu.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkayang Silverius Sinoor menegaskan pemerintah saat ini memprioritaskan perbaikan daripada membangun gedung sekolah baru. “Kalau banjir memang sudah biasa. Ini daerah pinggiran sungai selalu banjir,” kata Silverius di sela-sela peresmian Rumah Batas Berdaya di Kecamatan Seluas, Bengkayang.   lanjut ke: Merintis Jalan Pemerataan Pendidikan

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Geliat Juang Sekolah di Perbatasan
Geliat Juang Sekolah di Perbatasan
https://3.bp.blogspot.com/-yAAL4T5bjF8/WI9U2pNASZI/AAAAAAAACSg/CWIZiAAZYlofI_g1qCwhOwSdIQHk6VkIQCLcB/s200/DSC_3453.JPG
https://3.bp.blogspot.com/-yAAL4T5bjF8/WI9U2pNASZI/AAAAAAAACSg/CWIZiAAZYlofI_g1qCwhOwSdIQHk6VkIQCLcB/s72-c/DSC_3453.JPG
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2012/07/geliat-juang-sekolah-di-perbatasan.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2012/07/geliat-juang-sekolah-di-perbatasan.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy