Pengabdian Mantan Buruh Migran

BERENANG mengarungi banjir setinggi kepala pernah ia lakoni. Itu bukan hanya sekali-dua kali, melainkan berkali-kali. Seingatnya, sudah sekitar tujuh banjir besar yang harus ia arungi selama bertugas.

“Saya berenang sambil menjunjung tas di kepala. Kalau (fisik) tidak kuat, bisa hanyut karena arusnya deras,” kata Susana, 45, yang sehari-hari bekerja sebagai guru.

Dia sudah 9 tahun menjadi guru di SD Negeri 05 Saparan, Desa Kumba, Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Sebuah lokasi di perbatasan Indonesia-Malaysia.

“Saya harus mengambil gaji saat itu juga (saat banjir) supaya bisa pulang secepatnya karena besoknya harus mengajar,” lanjut perempuan berkulit putih dan berperawakan tinggi itu. (baca: Geliat Juang Sekolah di Perbatasan)

Banjir hanya satu di antara sekian banyak risiko yang harus dihadapi Susana selama bertugas di kawasan perbatasan negara. Risiko lainnya, ia pernah terkatung-katung selama delapan jam di perjalanan.

Istri dari Fransiskus Sarkawi itu tidak mampu mengendarai sepeda motor saat melintasi sebuah jembatan darurat. Berulang kali kendaraan dituntun, tetapi Susana tetap tidak sanggup melewati jembatan di jalan berlumpur itu.

“Sudah dinaikkan, turun lagi. Begitu terus sehingga akhirnya saya capek sendiri,” kenangnya sambil tersenyum kecut. 

Susana baru berhasil melewati jembatan kayu itu pada malam hari, setelah ia ditolong warga yang kebetulan melintas di jalan tersebut.

Pengalaman perempuan kelahiran Jagoi Kindau di Kabupaten Bengkayang tersebut semakin berat saat memutuskan berkuliah di universitas terbuka. Susana harus menyusuri jalan tikus dan naik-turun bukit dari Dusun Saparan menuju tempat kuliah di Kota Bengkayang.

Pada masa awal perkuliahan, ia belum memiliki kendaraan pribadi sehingga harus menumpang ojek sepeda motor bertarif Rp60 ribu hingga Rp80 ribu untuk sekali jalan. 

Perkuliahan dimulai pukul 08.00 WIB sehingga Susana harus berangkat dari rumah sebelum pukul 04.00 agar tidak terlambat. Sebab, perjalanan ke tempat kuliah sekitar 4 jam dengan sepeda motor.

“Setiap semester, ada delapan kali pertemuan (kuliah tatap muka) dan dua kali ujian praktik,” jelas Kepala SD Negeri 05 Saparan Edy Nur.

Perjalanan Susana untuk menjadi guru cukup berliku. Ia membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun untuk mempertimbangkan pilihan profesinya itu. Setamat dari Sekolah Pendidikan Guru (SPG) pada 1990-an, Susana tidak langsung memutuskan menjadi guru. Ia justru memilih bekerja di lembaga milik kepastoran.

Perempuan berdarah Dayak Bidayuh itu bertahan sekitar lima tahun di lembaga tersebut. Selepas itu, Susana merantau ke Kuching di Serawak, Malaysia, pada 1996. Ia bekerja sekitar tujuh tahun sebagai pembantu rumah tangga dan digaji 500 ringgit setiap bulan.

Nilai tersebut saat itu setara Rp1.350.000. Susana baru tergerak untuk menjadi pendidik sekitar 2003. Tahun itu merupakan kesempatan terakhir baginya untuk mendaftar sebagai calon pegawai negeri sipil. Ia pun akhirnya diterima menjadi guru dan ditempatkan di SD Negeri 05 Saparan. 

Profesi itu ia pilih setelah melalui pergulatan batin yang panjang. “Saya terus merenung. Apakah hidup ini hanya dihabiskan untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, atau mengabdi untuk mencerdaskan anak bangsa,” bebernya.

Susana tidak pernah menyesali pilihan profesinya walaupun harus bertugas di daerah terpencil. Begitu pula soal gaji, yang jauh lebih kecil daripada pendapatan yang ia terima semasa menjadi tenaga kerja Indonesia.

Perempuan berkaca mata itu justru mengaku betah bertugas di Saparan. Salah satunya karena masyarakat Saparan, yang mayoritas Melayu dan beragama Islam, sangat ramah menerima kehadirannya, kendati dirinya berasal dari latar belakang budaya dan kepercayaan berbeda.

“Belum pernah saya mendengar omongan yang sampai ‘memerahkan kuping’,” pungkas Susana. (Aries Munandar)

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Pengabdian Mantan Buruh Migran
Pengabdian Mantan Buruh Migran
https://1.bp.blogspot.com/-ssgzY_jdw1M/WI9UgXUnrOI/AAAAAAAACSc/4xsT899ZWEYiXTcmL6KzmND3TUmrwxhygCLcB/s200/DSC_3437.JPG
https://1.bp.blogspot.com/-ssgzY_jdw1M/WI9UgXUnrOI/AAAAAAAACSc/4xsT899ZWEYiXTcmL6KzmND3TUmrwxhygCLcB/s72-c/DSC_3437.JPG
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2012/07/pengabdian-mantan-buruh-migran.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2012/07/pengabdian-mantan-buruh-migran.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy