Rekam Budaya Dayak Kayaan

Pergelaran itu seakan memutar ulang kisah dan sejarah panjang kehidupan Dayak Kayaan. Mulai asal muasal leluhur, perjuangan dan peperangan pada ratusan tahun silam, hingga kisah kehidupan pada saat ini.

ARIES MUNANDAR

MELODI selingut mengalun syahdu. Rangkaian nada dari alat musik tiup sejenis seruling itu seakan mengajak penonton kembali mencicipi keheningan alam bersuasana indah dan asri.

Selingut terus mengalun saat sape (alat musik sejenis gitar khas Kayaan), gong, dan tetabuhan mulai menimpali rangkaian melodi.

Sejurus kemudian lima laki-laki muncul satu per satu dari balik panggung. Mereka bertopeng kayu dan berbusana dari daun pandan berduri, menari mengikuti alunan musik yang kian menghentak.

Suasana pun semakin meriah ketika seorang perempuan penari bergabung ke pentas. Lenggak-lenggok perempuan itu berpadu dengan gerak cepat lelaki penari.

Memasuki pertengahan pementasan, perempuan itu berbincang dengan salah seorang laki-laki penari. Alunan musik pun perlahan melambat saat adegan dialog itu berlangsung.

Rangkaian cerita itu merupakan cuplikan dari tarian Karaang Hudo. Tradisi itu biasa dilakukan pada saat memasuki musim berladang dengan tujuan mengusir roh jahat dan penyakit pengganggu padi.

“Tarian ini dilakukan pada saat menugal agar tanah yang ditanami diberkati kesuburan,” kata Ketua Adat Kayaan Kampung Sungaiting Ignatius Sebastinus Faran.

Karaang Hudo menjadi tarian pembuka pada malam pergelaran seni Hulaan Apo Kayaan Kalimantan Barat. Pergelaran berlangsung di rumah adat Betang Pontianak, Jumat (22/7).

Beragam jenis tarian dan lagu tradisional serta sastra lisan Dayak Kayaan di Kalimantan Barat tampil dalam pergelaran itu. Beberapa tarian kreasi ciptaan generasi muda juga ikut menyemarakkan acara yang berlangsung sekitar 4 jam tersebut.

Acara itu seakan memutar ulang kisah dan sejarah panjang kehidupan Dayak Kayaan. Mulai asal muasal leluhur, perjuangan dan peperangan pada ratusan tahun silam, hingga kisah kehidupan pada saat ini.

Kayaan merupakan satu dari 151 subetnik dayak di Kalimantan Barat. Komunitas adat itu menetap di sembilan kampung di sepanjang daerah aliran Sungai (DAS) Mendalam di Kabupaten Kapuas Hulu. Mereka lazim disebut Dayak Kayaan Mendalam.

DAS Mendalam merupakan daerah penyangga Taman Nasional Betung Kerihun. Kelestarian alam di kawasan itu sempat terusik oleh rencana pembukaan lahan untuk hak pengusahaan hutan (HPH) pada beberapa tahun lalu. Namun, rencana itu ditentang mati-matian oleh warga setempat.

“Perjuangan kami kelihatannya berhasil. Tapi, kami harus tetap waspada karena bisa saja peristiwa itu terulang,” tutur Tumenggung Kayaan Mendalam Benyamin Satar.

Leluhur Kayaan Mendalam berasal dari Apo Kayaan, yakni sebuah lokasi di DAS Kayaan di Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur. Mereka bermigrasi saat zaman perang suku, yakni sekitar 500 tahun silam.

Dayak Kayaan Mendalam terdiri dari tiga komunitas adat, yakni Kayaan Umaa Pagung, Kayaan Umaa Suling, dan Kayaan Umaa Aging. Setiap komunitas memiliki karakteristik budaya dan tata cara adat tersendiri.

Menurut Buku Mozaik Dayak di Kalimantan Barat terbitan Institut Dayakologi Pontianak, 2008, komunitas adat Dayak Kayaan juga terdapat di Kalimantan Tengah dan Sarawak, Malaysia.

Legenda Lawe
Aktivitas keseharian warga yang masih tradisional juga tidak luput diangkat dalam sejumlah tarian pada pergelaran budaya Kayaan tersebut.

Dayak Kayaan dikenal memiliki khazanah kebudayaan tinggi dan segudang seniman tradisional andal. Semua sejarah dan peradaban serta denyut kehidupan mereka rekam dalam bentuk tarian, nyanyian, dan sastra lisan.

“Kebetulan saja yang datang pada hari ini semuanya pandai (mahir) berkesenian. Banyak juga orang Kayaan yang tidak pandai berkesenian,” kata tokoh adat Kayaan Mendalam Alel Sano, 70.

Beberapa kesenian Dayak Kayaan diangkat dari cerita dalam sastra Lawe. Sastra itu dianggap sebagai sebuah mahakarya yang diwariskan para pendahulu mereka.

Cerita dalam sastra Lawe dipenuhi kisah heroik Dayaak Kayaan ketika bertempur dan mempertahankan diri saat zaman perang suku. Lawe sendiri merupakan nama seorang pahlawan yang memiliki kesaktian dan kekuatan supranatural.

Epos itu juga kerap dipentaskan di sesi tersendiri. Seorang penyair tampil melantunkan bait demi bait cerita tersebut dan kemudian dijawab beberapa penyair lainnya.

Sayangnya, penutur tradisi lisan sudah langka, bahkan terancam punah. Selain Faran, tidak ada lagi warga Kayaan di Kalimantan Barat yang hafal dan fasih melantunkan sastra Lawe. “Yang lain mungkin tidak berbakat dan tidak mau belajar,” ujar Faran.

Kehadiran Faran pada pementasan di Pontianak diharapkan mampu mengugah generasi muda untuk melestarikan kekayaan tradisi Kayaan. Oleh karena itu, pihak panitia sengaja memboyong para sesepuh untuk tampil pada malam pergelaran seni Hulaan Apo Kayaan.

“Semoga acara ini bisa memotivasi orang muda Dayak, khususnya (subetnik) Kayaan, untuk meneruskan segala tradisi dan budaya leluhur,” kata Ketua Panitia Ferinandus Lah.

Inspirasi alam
Penampilan para tokoh seniman dan sesepuh adat Kayaan menarik perhatian penonton. Mereka yang sebagian besar merupakan warga perantauan Kayaan jarang menyaksikan pementasan semacam itu di Pontianak.

Atraksi yang disajikan para sesepuh tersebut tidak kalah dengan penampilan seniman muda. Mereka tetap berupaya tampil maksimal kendati di tengah keterbatasan karena faktor usia.

“Ketika saya masih muda, penampilannya tidak seperti ini. Lebih lincah (energik),” kata Valentinus Aim, 68.

Aim mementaskan atraksi permainan mandau dan perisai. Kesenian itu telah digelutinya sejak masih kanak-kanak. Kemahiran Ketua Adat Kayaan Kampung Pagung itu semakin terasah saat dia berguru dengan seorang Dayak perantau asal Kalimantan Timur semasa remaja. 

Penampilan dua perempuan sesepuh Kayaan pada sesi sebelumnya juga tidak kalah menarik. Mereka membawakan tarian Karaang Lalang Buko. Tarian itu menceritakan keberhasilan Lawe dan istrinya dalam menghidupkan kembali orang yang telah meninggal dunia.

Tarian yang dilakukan di atas sebuah gong dan diiringi sape itu merupakan tarian sakral. Tarian tersebut hanya boleh dibawakan perempuan sepuh tertentu dan khusus pada acara ritual dange. Dange ialah upacara adat untuk mensyukuri hasil panen. (BACAMenyucikan Diri Setelah Musim Panen Padi)

Kekayaan budaya Kayaan sesungguhnya tidak bisa lepas dari kehidupan alam di sekitar mereka. Beberapa gerakan tarian tradisional terinspirasi oleh kepakan burung saat terbang di hutan. Terutama enggang atau rangkong dan elang. Begitu pula syair dan musik mereka kental dengan nuansa keindahan dan keheningan alam. 

“Hancurnya hutan dan sungai berarti hancur pula kebudayaan kami,” tegas Benyamin.   LANJUT KE: Tersentak oleh Riset UNESCO

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,54,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,11,Tekno,11,Tradisi,59,
ltr
item
PeladangKata: Rekam Budaya Dayak Kayaan
Rekam Budaya Dayak Kayaan
https://1.bp.blogspot.com/-An6AQI-wc3c/WL7c3k5vQWI/AAAAAAAADFE/LZlT5eOOduAP8wbwDYYCRYKLl8C3DwwvwCLcB/s200/Tradisi_Dayung.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-An6AQI-wc3c/WL7c3k5vQWI/AAAAAAAADFE/LZlT5eOOduAP8wbwDYYCRYKLl8C3DwwvwCLcB/s72-c/Tradisi_Dayung.jpg
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2012/08/rekam-budaya-dayak-kayaan.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2012/08/rekam-budaya-dayak-kayaan.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy