Ancaman Eksploitasi di Hutan Payau

Hutan mangrove yang tersisa diincar pemilik modal. Lahan pertanian tidak bisa lagi ditanami akibat intrusi air laut.

ARIES MUNANDAR

SEEKOR burung menukik, menyambar ikan yang berenang di antara riak air. Gesit, tidak terpengaruh oleh rintik hujan yang turun siang itu.

Dalam hitungan detik, unggas itu sudah mencengkeram seekor ikan. Ia membawanya terbang, menghilang di kerimbunan nipah dan bakau. Sebuah babak dari siklus rantai makanan di ekosistem perairan di Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, itu terus berlangsung setiap hari.

Perairan Kubu menjadi surga bagi burung pemangsa ikan. Beragam jenis biota air beranak-pinak di sana. Itu sebabnya perairan di sana dikenal sebagai penghasil ikan, udang, dan kepiting bagi daerah lain di Kalimantan Barat.

Anugerah alam yang melimpah itu bisa dipetik berkat mangrove yang tumbuh di sepanjang sungai hingga muara. Vegetasi yang menjadi sumber kehidupan bagi satwa perairan dan lahan basah, juga warga setempat. (BACA: Penetral Racun Penambat Karbon)

“Kawasan mangrove menjadi tempat mencari udang dan kepiting bagi warga. Selain untuk dimakan, hasilnya dijual,” kata Yuslanik, 40, warga Desa Kubu, pekan lalu.

Hutan mangrove Kubu termasuk dalam kelompok kawasan mangrove Batuampar. Kawasan itu secara administratif berada di Kecamatan Batuampar, Kubu, dan Telukpakedai, di Kabupaten Kubu Raya.

Kawasan mangrove Batuampar meliputi areal seluas 65.585 hektare, terdiri dari 33.402 hektare hutan lindung dan 32.183 hektare hutan produksi.

Kawasan itu memiliki potensi ekonomi dan konservasi bernilai tinggi. Lembaga Pengkajian dan Pengembangan (LPP) Mangrove Indonesia menyebut nilai ekonomis mangrove Batuampar sekitar Rp95,62 miliar per tahun. Itu terdiri dari nilai penggunaan langsung sekitar Rp45,06 miliar per tahun dan penggunaan tidak langsung sekitar Rp37,67 miliar. Selain itu, nilai pilihan dan nilai keberadaan kawasan sekitar Rp690,79 juta per tahun dan Rp12,19 miliar per tahun.

Hutan mangrove Batuampar memiliki keanekaragaman hayati khas wilayah pesisir. Lembaga yang sama juga mencatat terdapat sedikitnya 40 jenis mangrove, 46 jenis burung, 6 jenis reptil, dan 11 jenis mamalia di hutan tersebut.

Sebanyak 3 dari 11 jenis mamalia itu merupakan satwa endemis Kalimantan dan terancam punah, yakni pesut atau Orcaella brevirostris, bekantan alias Nasalis larvatus, dan berencet kalimantan yang bernama Latin Ptilocichla leucogrammica. (BACA: Nasib Pesut di Areal Konsesi)

Degradasi mangrove
Kubu Raya merupakan kabupaten pemilik kawasan hutan primer mangrove yang tersisa di Kalimantan Barat. Kondisi mangrove di kabupaten itu relatif lebih baik daripada areal serupa di kabupaten lain.

Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Pontianak, dalam Potret Hutan di Kalimantan Barat 2011, menyebut potensi mangrove di Kubu Raya rata-rata 10-20 meter kubik per hektare, baik di luar maupun di kawasan konservasi.

Kendati kelestariannya relatif terjaga, mangrove di wilayah itu tidak sepenuhnya aman dari perusakan. Laju degradasi dan deforestasi terus menghantui pelestarian hutan berlumpur tersebut. Warga pun harus menanggung akibatnya.

Para nelayan di Kecamatan Batuampar, Kubu, dan wilayah di sekitarnya, misalnya, kerap mengeluh hasil tangkapan semakin berkurang. Kondisi itu terjadi sejak eksploitasi mangrove dilakukan.

Pelakunya, siapa lagi kalau bukan investor. Ada dua perusahaan yang sering dituding, yakni PT Bina Ovivipari Semesta (Bios) dan PT Kandelia Alam. Keduanya anak perusahaan Kandelia Group. Mereka dinilai menebang secara serampangan. Akibatnya, beragam jenis mangrove yang menjadi lumbung ikan, udang, dan kepiting pun lenyap.

Tidak hanya di perairan, dampak eksploitasi juga merambah ke daratan. Lahan pertanian milik warga kini tidak bisa lagi ditanami karena tergenang oleh air asin.

“Sekitar 450 keluarga di Dusun Setia Usaha dan Dusun Tokaya, Desa Kubu, tidak bisa lagi berkebun dan berladang,” ungkap Yuslanik.

Nasib serupa juga menimpa sekitar 100 keluarga di Dusun Bumbun dan Dusun Gunungbongkok, Desa Tanjungharapan, Kecamatan Batuampar. Mereka kehilangan mata pencarian akibat intrusi air laut.

“Selain menebang mangrove, perusahaan juga membangun kanal-kanal sehinggamengakibatkan intrusi air laut ke daratan,” kata Amri, anggota DPRD Kubu Raya dari daerah pemilihan Kubu, Batuampar, dan Terentang.

Klaim lestari
PT Bios beroperasi sejak 2002 dengan areal konsesi seluas 10.100 hektare di Blok Gunungbongkok dan Blok Bumbun, di Desa Tanjungharapan, sedangkan PT Kandelia Alam beroperasi sejak 2009 dan menggarap 18.130 hektare lahan konsesi di Desa Kubu dan Batuampar.

Hasil tebangan mereka diolah menjadi tatalan kayu (wood chip) di PT Bina Silva Nusa, yang juga anak perusahaan Kandelia Group. Kayu olahan tersebut kemudian dikirim ke industri pembuatan bubur kertas alias pulp.

Tudingan warga jelas dibantah. Manajemen kedua perusahaan tersebut mengklaim menerapkan prinsip pengelolaan hutan lestari dan taat aturan. Di antaranya, menjalankan mekanisme tebang pilih, menanami kembali areal bekas tebangan, dan melindungi kawasan bernilai konservasi tinggi. 

“Dari 18.130 hektare lahan konsesi, hanya 62% atau 11.310 hektare areal produksi efektif. Sisanya, seluas 6.820 hektare, diperuntukkan sebagai kawasan lindung, nonproduksi, dan nonhutan,” jelas Direktur Utama PT Kandelia Alam Fairus Mulia.

Perusahaan pun menampik dianggap biang kerok perusakan lingkungan dan penderitaan warga. Menurut mereka, perlu penelitian ilmiah untuk mencari penyebab berkurangnya tangkapan nelayan dan intrusi air laut.

“Pencari kepiting semakin ramai, wajar saja tangkapan berkurang,” bantah Direktur Operasional PT Kandelia Alam Gunawan Priyanto.

Mereka juga menolak dipersalahkan dalam pembangunan kanal. Saluran air untuk pelintasan tebangan itu justru memudahkan nelayan saat mencari nafkah.

“Nelayan bisa mencari kepiting hingga jauh ke dalam hutan sejak ada kanal-kanal tersebut,” tegas Supervisor Perencanaan PT Bios Toto Subiyakto.

Selain memasok kayu bulat kecil ke Bina Silva Nusa, hasil tebangan PT Bios dipasok ke industri pembuatan arang kayu. Berdasarkan pantauan di lapangan, tumpukan kayu berbagai ukuran menggunung di lokasi pabrik tersebut. Beberapa potongan kayu diperkirakan berdiameter kurang dari 10 sentimeter.

Fakta itu bertentangan dengan penjelasan sebelumnya dari pihak manajemen PT Bios. Mereka mensyaratkan kayu yang ditebang harus berdiameter minimal 10 sentimeter.

“Kayu kecil itu untuk kayu bakar. Sebab, pembuatan arang juga membutuhkan kayu untuk tungku pembakaran arang,” kata Koordinator Pabrik Arang PT Bios Chie Sing.   LANJUT KE: Mengantungkan Harapan di Sertifikasi

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Ancaman Eksploitasi di Hutan Payau
Ancaman Eksploitasi di Hutan Payau
https://1.bp.blogspot.com/-Z6w_cAGSGuQ/WJBuhmz8bCI/AAAAAAAACWU/TE0mi6yi5Cg9Dc0_w59DEgC3tW05lkN-QCLcB/s200/Pengangkutan%2BTebangan.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-Z6w_cAGSGuQ/WJBuhmz8bCI/AAAAAAAACWU/TE0mi6yi5Cg9Dc0_w59DEgC3tW05lkN-QCLcB/s72-c/Pengangkutan%2BTebangan.jpg
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2012/11/ancaman-eksploitasi-di-hutan-payau.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2012/11/ancaman-eksploitasi-di-hutan-payau.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy