Onak di Kaki Penjaga Konservasi

Seorang aktivis dipenjara karena menjalankan tugasnya. Pengadilan pun belum berpihak kepada pelestarian lingkungan.

ARIES MUNANDAR

“BAPAK ke laut. Bapak melihat penyu.” Jawaban itu yang selalu keluar dari mulut Dio Aldiano ketika ditanya ke mana bapaknya, Yanto Aldiano aliasAnong, pergi.

Yanto, 26, sudah lebih dari dua bulan tidak pulang ke rumah. Dia adalah pekerja lingkungan yang kini meringkuk di balik jeruji besi Rumah Tahanan Sambas, Kalimantan Barat.

Dio merupakan anak Yanto satu-satunya. Bocah berusia 2,5 tahun itu memang sering ditinggal pergi ayahnya, tapi paling lama hanya sekitar dua pekan. Setelah itu, Yanto menghabiskan waktunya di rumah.

“Dio selalu menangis dan merengek saat bapak pergi kerja, tapi tidak lama. Setelah itu, ia bermain kembali seperti biasa,” kata Hesty, 25, ibu Dio.

Penjara telah memisahkan mereka dalam kurun cukup lama. Jarak rutan yang sekitar 55 kilometer dari rumah juga menyebabkan mereka tidak bisa sering berjumpa. Belum lagi kendala transportasi, karena tidak ada angkutan umum langsung dari kediaman mereka di Desa Sebubus, Kecamatan Paloh, ke Kota Sambas.

Hesty dan Dio lebih sering menjumpai Yanto di Pengadilan Negeri Sambas. Mereka memanfaatkan waktu sebelum sidang untuk melepas kerinduan. Bocah berambut keriting memanfaatkan pertemuan itu dengan mengajak sang ayah bermain dan menggelutinya dengan manja.

“Seperti biasa, Dio menangis saat harus ditinggal bapak. Ia menganggap bapak akan pergi ke laut,” ujar Hesty, saat menghadiri sidang Yanto, pekan lalu.

Di pengadilan, Hesty dan Dio selalu didampingi puluhan aktivis dari Tim Solidaritas Peduli Konservasi. Mereka merupakan barisan pendukung dan simpatisan yang menuntut pembebasan Yanto.

“Tim terdiri dari teman dan keluarga Yanto. Kami hanya mengoordinasi agar mereka tertib dan terarah,” kata Hendro Susanto, anggota tim dari Worldwide Fund for Nature (WWF) Kalimantan Barat.

Penganiayaan
Yanto alias Anong ditahan di Rutan Sambas sejak 7 November lalu. Ia didakwa memukul Irwan, warga Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas. Jaksa penuntut umum menjerat Anong dengan Pasal 351 ayat 1 KUHP tentang Penganiayaan. Ia terancam hukuman penjara maksimal 2 tahun 8 bulan.

“Semua unsur pidana penganiayaan terpenuhi. Kalau tidak, mana mungkin kami ajukan ke pengadilan,” ujar jaksa penuntut umum  Anjar Purbo Sasongko.

Dalam sidang, jaksa meminta hakim menjatuhkan hukuman 6 bulan penjara kepada sang pekerja lingkungan.

Anong adalah petugas pemantau pelestarian penyu dari WWF Kalimantan Barat di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas. Ia mengawasi dan melindungi telur penyu dari ancaman pencurian, yang marak di wilayah tersebut.

Pada 5 Agustus lalu, Anong dan dua rekannya memergoki pencurian telur penyu di Pantai Sungaiubah. Tiga pelaku beraksi, tapi bisa digagalkan. Saat Anong hendak memotret mereka, salah satu pelaku, Irwan, melawan. Pergumulan pun terjadi.

Irwan menderita luka. Hamdi, paman Irwan, yang juga anggota Bintara Pembina Desa di Sebubus, atas nama keluarga menuntut kompensasi Rp10 juta. Anong menolaknya.

“Kami hanya menyanggupi memberi uang pengganti biaya pengobatan sebesar Rp1 juta,” tutur Hendro Susanto saat bersaksi dalam sidang.

Upaya damai gagal. Keluarga Irwan pun melaporkan kasus itu ke Kepolisian Sektor Paloh. Anong pun ditahan mulai 7 November tahun lalu.

“Saya terkejut dan menangis saat mendapat kabar bapak ditahan. Setahu saya, kasus ini sudah selesai dan damai,” ungkap Hesty.

Rekan-rekan Anong melihat, dalam persidangan, tuntutan penganiayaan melemah. Terdakwa, saksi, bahkan Irwan mengungkapkan fakta bahwa bukan penganiayaan yang terjadi, melainkan perkelahian biasa. Irwan mengaku melawan dan berbalas bogem dengan Anong. Visum dokter juga menguatkannya.

“Unsur penganiayaan tidak terpenuhi. Anong harus dinyatakan tidak bersalah,” kata pengacara Anong, AS Nazar.

Anong telah menjalani beberapa kali persidangan. Majelis hakim diketuai Horasman Boris Ivan dengan anggota Imannuel MP Sirait serta Arlyan. Palu sang hakim pun sudah diketok. Bapak satu anak itu divonis bersalah dan harus menjalani hukuman penjara selama 3 bulan.

Aktivis lingkungan Agus Sutomo menuding kasus tersebut merupakan upaya menjegal pelestarian penyu di Paloh. Modus itu ditengarai bermotif ekonomi untuk melindungi kepentingan bisnis ilegal telur penyu.

“Anong sebenarnya korban. Dia itu menjalankan tugas yang diamanatkan undang-undang,” jelas Sekretaris Jenderal Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) Kalimantan Barat itu.

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Onak di Kaki Penjaga Konservasi
Onak di Kaki Penjaga Konservasi
https://3.bp.blogspot.com/-65EJe6rdTUk/WFcUQy6GQQI/AAAAAAAAA5s/SsSFtI3tkNYA0f8Ft2vocJgf8JqkBA2ogCLcB/s200/Ficer_Kasus%2BAnong.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-65EJe6rdTUk/WFcUQy6GQQI/AAAAAAAAA5s/SsSFtI3tkNYA0f8Ft2vocJgf8JqkBA2ogCLcB/s72-c/Ficer_Kasus%2BAnong.jpg
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2013/02/onak-di-kaki-penjaga-konservasi.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2013/02/onak-di-kaki-penjaga-konservasi.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy