Mengurai Makna di Balik Kenduri

Tamu undangan harus berhenti bersantap saat kepala saprah menyelesaikan santapannya.

ARIES MUNANDAR

ADAB perjamuan selalu sarat nilai dan ajaran luhur. Begitu pula saprahan, perjamuan khas masyarakat Sambas di Kalimantan Barat (Kalbar). Tradisi itu menyiratkan pesan religius dan sosial kepada para penganutnya.

Saprahan merupakan tradisi makan bersama dalam pesta atau perayaan tertentu. Para undangan duduk lesehan dan berbanjar menghadap hidangan yang disajikan tuan rumah. Undangan perempuan terpisah dari undangan laki-laki, bisa di ruang sendiri atau dibatasi sekat.

Makan bersama itu diawali seremoni berupa sambutan dari tuan rumah dan perwakilan undangan. Seremoni dilanjutkan dengan asrakal, yang melantunkan pujian dan kisah keteladanan Nabi Muhammad SAW. Rangkaian itu diakhiri doa dan selawat. Setelah itu, makan bersama pun dimulai.

Saprahan dipimpin seorang kepala saprah yang merupakan pemuka masyarakat atau orang yang dituakan. Ia menempati barisan utama dengan posisi menghadap semua undangan dan didampingi tamu penting. Tempat khusus juga disiapkan untuk warga yang bergelar haji, yakni di deretan depan barisan undangan.

“Orang yang sudah berhaji dianggap berilmu (agama) tinggi sehingga patut dihormati,” jelas budayawan Kalbar Chairil Effendi.

Kepala saprah mendapat kehormatan untuk pertama kali mencicipi hidangan. Undangan lain mengikuti setelah dipersilakan kepala saprah. Hidangan untuk kepala saprah lebih istimewa karena disajikan dari kualitas terpilih dan bercita rasa tinggi.

Hidangan saprah terdiri dari masing-masing lima porsi lauk-pauk beserta nasi. Menu itu disajikan untuk setiap kelompok saprah, terdiri dari lima atau enam undangan yang berhadapan. “Lima dan enam melambangkan rukun Islam dan rukun iman,” ujar Darmadi Amin, 57, warga Sambas.

Undangan harus berhenti bersantap saat kepala saprah menyelesaikan santapannya. Karena itu, ia harus menjaga ritme makannya. Jangan kecepatan, jangan pula kelamaan. Namun, biasanya undangan dipersilakan melanjutkan santapan kendati kepala saprah sudah selesai bersantap.

Saprahan sering dijumpai pada pesta pernikahan, khitanan, atau selamatan lainnya. Acara itu digelar dari pagi hingga menjelang siang hari, yang diakhiri dengan selawat. “Acara harus selesai sebelum pukul 12.00 WIB agar tidak mengganggu waktu salat zuhur,” tukas Ahnaf Umar, 61, warga lainnya.

Kolosal
Tradisi saprahan membutuhkan persiapan khusus karena mengundang banyak orang. Untuk itu, tarup atau tenda besar dibangun guna menampung undangan. Warga pun bergotong royong menyiapkannya.

Peralatan memasak dan perangkat saji juga harus tersedia dalam jumlah besar. Begitu pula pramusaji yang dikerahkan disesuaikan dengan kebutuhan acara. Pramusaji menata setiap hidangan berdasarkan pola tertentu. Formasi atau tata letaknya harus seragam untuk semua kelompok saprah.

“Memang tidak ada aturan khusus, tapi formasi hidangan harus seragam. Misalnya, opor ayam ditempatkan di kanan atau di kiri pada setiap kelompok saprah,” kata Chairil, yang juga Ketua Umum Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalbar.

Menu saprahan dimasak pada malam atau subuh hari. Sebelum acara dimulai, aneka hidangan yang telah ditempatkan dalam setiap wadah itu disusun di beberapa emper. Setelah itu, hidangan baru didistribusikan para pramusaji ke tetamu. Emper ialah sebutan untuk pondok yang memiliki deretan rak untuk menempatkan aneka hidangan.

Perangkat saji dan memasak berasal dari tuan rumah dan tetangga atau kerabat. Di beberapa daerah, warga sengaja mengoleksi perangkat saji, terutama piring, untuk persiapan saprahan. Mereka memperolehnya dengan arisan. Ada juga kepemilikannya yang bersifat komunal (kelompok), patungan dari anggota.

Begitu pula dengan bahan lauk-pauk, sebagian merupakan sumbangan dari tetangga atau kerabat. Selain untuk saprahan, lauk-pauk untuk konsumsi selama persiapan acara. Kerabat biasanya mulai berdatangan sejak sepekan sebelumnya untuk membantu persiapan resepsi.

Menu yang disajikan pada saprahan relatif sama dengan kebanyakan kenduri. Semisal, semur daging sapi, opor ayam, dan sambal hati. Makanan itu dimasak dengan cita rasa Melayu. Namun, saprahan kerap pula menyajikan menu khas, paceri nanas, yakni sayur dari potongan buah nanas berempah kari.

Menu khas lain ialah air serbat. Sirup tradisional itu dihidangkan sebagai minuman penutup jamuan. Air serbat terdiri dari ramuan kayu manis, sepang, dan jahe, serta tanaman rempah lainnya. Minuman itu diyakini berkhasiat obat dan memulihkan kebugaran.

“Air serbat menjadi minuman wajib dalam setiap saprahan,” ujar Mursalin, 37, warga Pontianak asal Pemangkat, Sambas.

Saprahan juga kerap menghadirkan kelompok musik tanjidor untuk menghibur tetamu. Mereka membawakan instrumentalia lagu Melayu dan musik populer.

Kekeluargaan
Saprahan terbesar terakhir digelar di Sambas saat pernikahan putri Bupati Sambas Juliarti Djuhardi Alwi. Kenduri pada pertengahan Juni lalu itu berlangsung di pelataran belakang kantor bupati dan dihadiri ribuan undangan. Mereka memenuhi tenda berukuran 20 x 120 meter yang disiapkan panitia.

“Perkiraan yang hadir saat ini tidak kurang dari 6.000 undangan karena (ruang) tenda terisi penuh,” kata Heriyanto, koordinator resepsi pernikahan, saat ditemui di lokasi saprahan.

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa dan Gubernur Kalbar Cornelis ikut pula hadir di acara tersebut. Hatta sebelumnya menjadi saksi pernikahan putri Bupati Sambas yang digelar sehari sebelumnya di kediaman bupati.

Hatta bersama Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Azwar Abubakar hanya hadir di awal acara karena harus segera kembali ke Jakarta, sedangkan tamu penting lain tetap mengikuti acara hingga selesai.

Tamu lainnya bersatu dengan kelompok saprah duduk lesehan, terlihat akrab dan saling bercanda.

Tradisi saprahan itu juga mengingatkan Cornelis akan masa kecil. “Saya sewaktu kecil juga sering ikut saprahan di kampung. Walaupun tidak seramai ini, suasana kekeluargaannya sama,” aku Cornelis,yang juga Ketua Dewan Adat Dayak Kalbar.   LANJUT KE Jadi Modal Sosial, tapi Mulai Ditinggalkan

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Mengurai Makna di Balik Kenduri
Mengurai Makna di Balik Kenduri
https://2.bp.blogspot.com/-TfTj5v_ajJg/WFcfs7NqAPI/AAAAAAAAA6Q/d1UjQr-kCL8yOQf5ZQ8UgHTb7TDZXwW4QCLcB/s200/Bersantap_1_Blog%2B%25282%2529.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-TfTj5v_ajJg/WFcfs7NqAPI/AAAAAAAAA6Q/d1UjQr-kCL8yOQf5ZQ8UgHTb7TDZXwW4QCLcB/s72-c/Bersantap_1_Blog%2B%25282%2529.jpg
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2013/11/mengurai-makna-di-balik-kenduri.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2013/11/mengurai-makna-di-balik-kenduri.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy