Demam Fiberglass di Sungaikupah

Amin Ben Gas
Perahu kayu mulai ditinggalkan. Padahal, harganya lebih murah. Namun, nelayan menyukai perahu yang tahan banting.

ARIES MUNANDAR

RANCANGAN perahu belum juga selesai. Perancang belum menemukan model yang sesuai. Ide dan bekal pengalaman pun terus dituangkan demi menyempurnakan rancangan. Utak-atik itu dilakukan hingga lebih dari sebulan. 

“Untuk mal (cetakan) saja, seminggu baru ketemu model yang pas,” ujar Coki, 23, tim perancang perahu.

Kendati anggota tim lama bekerja di industri pembuatan perabot dari kaca serat alias fiberglass, mereka cukup kelimpungan juga. Produk kali ini jauh berbeda dengan produk yang pernah mereka garap saat di pabrik.

Pengalaman tersebut terjadi pada akhir 2010, saat bengkel kerja nelayan dirintis di Desa Sungaikupah, Kecamatan Sungaikakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Mereka merancang dan memproduksi perahu dari fiberglass yang bakal dipasangi mesin berbahan bakar elpiji. (BACA: Mengarungi Laut dengan Perahu Elpiji)

Rancangan diadopsi dari model perahu kayu sehingga berbeda dengan bikinan pabrik yang dijual di pasaran. Pengadopsian sengaja dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan nelayan dan kondisi alam setempat. Tipe perahu tradisional itu dinilai andal saat melaju di antara hempasan ombak muara sungai dan pesisir laut.

Tim harus memutar otak guna menciptakan perahu semimodern berselera lokal. Kreasi pun dilakukan di sana-sini, menyesuaikan rancangan dengan sifat dan jenis bahan baku. Mereka tidak ingin hasilnya seperti perahu buatan pabrik, yang tidak bisa diandalkan sebagai moda transportasi, apalagi digunakan saat melaut karena berisiko karam.

“Desain buatan pabrik tidak cocok untuk di sini, tidak bisa memecah gelombang,” sahut Usman, 37, anggota tim yang juga koordinator bengkel kerja.

Perahu motor berbahan bakar elpiji sempat menggunakan bodi bikinan pabrik. Namun, saat diuji coba, perahu tersebut dianggap tidak layak digunakan. Selain faktor keselamatan, perahu bikinan pabrik terlalu berat sehingga mesin menjadi kurang bertenaga dan boros bahan bakar.

Dari uji coba itu kemudian tebersit ide untuk memproduksi sendiri perahu fiberglass. Amin, 43, yang memodifikasi mesin perahu berbahan bakar elpiji, lantas mengoordinasikan nelayan setempat. Mereka merintis bengkel kerja sebagai tempat latihan sekaligus pembuatan perahu fiberglass. (BACA: Amin Ben Gas Menyebar ke Seantero Nusantara)

Banyak pesanan
Bengkel kerja swakelola itu saat awal berdiri hanya digawangi empat perajin. Kualitas produk pun masih seadanya dan dibikin dengan teknik sederhana. Teknik tersebut kemudian terus dikembangkan untuk meningkatkan kualitas produk.

Serangkaian eksperimen pun dilakukan dengan mempelajari berbagai kesalahan dan kelemahan produk sebelumnya. Setelah berkutat selama berminggu-minggu, para perajin akhirnya berhasil merancang dan memproduksi perahu sesuai harapan. Yakni, perahu yang terbuat dari fiberglass bermodel tradisional.

“Awalnya kami melapisi perahu kayu yang sudah ada dengan fiberglass, dan hasilnya masih kasar,” kenang Usman.

Bengkel kerja yang berada di pinggiran Sungai Tekong itu kini mewadahi sekitar 15 perajin. Mereka bekerja kelompok dengan sistem borongan dan bagi hasil. Setiap kelompok terdiri dari tiga hingga empat perajin, termasuk satu penanggung jawab.

Dalam sehari, bengkel kerja itu bisa memproduksi hingga dua perahu berukuran panjang 6 meter dan lebar 1,2 meter. Sejak berdiri, tidak kurang 260 perahu sudah diproduksi. Sebagian produk dipasok untuk program perahu motor berbahan bakar elpiji yang disokong Pemerintah Kabupaten Kubu Raya.

Perahu berbahan bakar elpiji tersebut selanjutnya disebar ke sejumlah desa nelayan di Kubu Raya. Dari sinilah perahu produk Sungaikupah mulai dikenal. Pesanan secara pribadi akhirnya berdatangan dari berbagai desa di Kubu Raya dan sekitarnya. Aktivitas di bengkel kerja setiap hari pun nyaris tak pernah sepi. 

“Ada satu lagi perahu yang mau dibawa ke Sungaiambawang. Di sana belum ada yang bisa bikin perahu dari fiberglass,” ujar Coki.

Perahu kayu ditinggalkan
Perahu bermotor menjadi andalan warga Sungaikupah dan wilayah di sekitarnya. Selain untuk melaut, perahu itu digunakan sebagai moda transportasi. Perahu umumnya terbuat dari kayu dan berbahan bakar bensin.

Sejak fiberglass merambah wilayah itu, penggunaan perahu kayu mulai banyak ditinggalkan. Kendati ongkos pembuatannya lebih mahal, fiberglass tetap dipilih warga sebagai bahan baku pembuatan perahu daripada kayu. Ini karena perahu fiberglass lebih awet dan tahan banting.

Sebagai perbandingan, sebuah perahu fiberglass berukuran panjang 6 meter dan lebar 1,2 meter dihargai sekitar Rp4 juta, sedangkan perahu kayu berukuran serupa hanya sekitar Rp1,5 juta. Namun, soal ketahanan dan usia pemakaian, perahu fiberglass jauh lebih unggul. Bahan bakunya pun mudah diperoleh di pasaran.

“Perahu kayu tidak sampai setahun sudah harus ganti lagi, sedangkan yang fiberglass bisa bertahun-tahun. Bodinya pecah atau patah sekalipun masih bisa diperbaiki,” jelas Usman.

Pengerjaan perahu fiberglass di Sungaikupah saat ini tidak sebatas di bengkel kerja. Banyak warga yang bisa membuatnya sendiri di rumah masing-masing. Mereka memperoleh pengetahuan tersebut dari para perajin di bengkel kerja. Seperti yang dilakukan pasangan suami istri, Burhan, 60, dan Jamaliah, 45.

Saat dikunjungi pada awal Januari lalu, mereka tengah mengerjakan perahu di teras rumah. Burhan menderita rematik akut dan tidak sanggup berdiri lama. Dengan berkesot, dia hilir-mudik mengambil bahan baku dan melekatkannya satu per satu ke bodi perahu. Jamaliah membantu suaminya agar pekerjaan itu cepat rampung.

Perahu bikinan Burhan dan Jamaliah berukuran kecil, yang biasa disebut sampan jalur. Sampan itu disewakan ke pemancing, yang ramai berdatangan ke Sungaikupah setiap akhir pekan. Burhan dulu seorang pekerja bangunan dan mahir membuat perahu kayu. Namun, dia kini mulai mengganti perahunya dengan bahan dari fiberglass.

“Sampan fiberglass dalam dua hari bisa diselesaikan. Kalau dari kayu, bisa seminggu lebih, dan bahannya pun susah didapat. Saya juga tidak sanggup lagi mengerjakannya,” aku Burhan, yang memiliki delapan sampan sewaan.   LANJUT KEMenyiasati Cekikan Paceklik

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Demam Fiberglass di Sungaikupah
Demam Fiberglass di Sungaikupah
https://1.bp.blogspot.com/-A2Hn6YJBNzI/WQyNRvPUcnI/AAAAAAAADQI/AbhUOCmWUtwO54Z2Q63db-396it4C3SfQCLcB/s200/Ekonomi_Demam%2BFiberglass_2.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-A2Hn6YJBNzI/WQyNRvPUcnI/AAAAAAAADQI/AbhUOCmWUtwO54Z2Q63db-396it4C3SfQCLcB/s72-c/Ekonomi_Demam%2BFiberglass_2.jpg
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2014/01/demam-fiberglass-di-sungaikupah.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2014/01/demam-fiberglass-di-sungaikupah.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy