Simfoni Bersemi Menyemai Generasi

Musik tradisional Tionghoa di Pontianak mengalami perkembangan cukup berarti dalam satu dekade terakhir.

ARIES MUNANDAR

INDONESIA Pusaka mengalun dari sebuah gedung di Jl Gajah Mada, Pontianak, Kalimantan Barat. Instrumentalia lagu karya Ismail Marzuki itu terasa berbeda. Petikan guzheng dan pipa, serta gesekan erhu yang ditimpali ketukan yangqhin dan kou menjadikan lagu tersebut kental dengan corak oriental.

Petikan pipa yang mengisi bagian vokal terdengar kentara dari awal hingga menjelang akhir lagu. Setiap alunannya mengikuti irama dari instrumen lain sebagai pengiring. Kesyahduan nyanyian pun tetap terjaga bahkan terasa lebih harmonis dan unik bak sebuah orkestra.

Kolaborasi apik itu dimainkan kelompok musik yang berlatih di Surya Makmur, yayasan sosial milik marga The. Kendati khusus memainkan alat musik oriental, mereka tidak terpaku dengan lagu tradisional Tiongkok.

Kelompok ini acap kali menggubah beberapa lagu wajib dan tradisional Indonesia ke irama oriental dalam setiap pementasan. “Jenis lagu apa pun bisa dimainkan. Kami juga sering membawakan lagu-lagu pop Indonesia ataupun Mandarin,” kata The Miang, 64, koordinator dan pelatih musik Yayasan Surya Makmur, awal Maret lalu.

Perangkat musik yang dimainkan kelompok ini, antara lain pipa, guzheng, erhu, yangqhin, dan kou serta touxian. Pipa ialah alat musik petik sejenis gitar bersenar empat. Cara memetik senarnya mirip dengan gitar saat membawakan irama klasik, yakni dipetik satu per satu. Permainan pipa mengenal teknik khusus yang disebut luan.

“Senar dipetik satu per satu dengan kelima jari secara berurutan dan cepat. Diawali petikan dengan telunjuk dan diakhiri dengan mengaitkan ibu jari,” kata Dwi Kuslina, 17, pemain pipa.

Adapun guzheng dan yangqhin mirip kecapi, yang bersenar banyak. Perbedaan kedua jenis alat musik itu terletak pada teknik memainkannya. Guzheng dipetik, sedangkan yangqhin diketuk dengan dua helai bambu. Guzheng disebut juga kecapi cina dan termasuk alat musik berirama pentatonik yang tidak memiliki nada fa dan si.

“Senar nada mi harus ditekan dahulu, baru dipetik untuk mendapatkan fa. Kalau si, senar nada la yang ditekan,” jelas Miang.

Alat musik berikutnya ialah erhu dan touxian. Bentuk dan cara memainkan kedua alat musik bersenar dua itu mirip rebab, yakni digesek, sehingga sering disebut juga rebab cina. Touxian memainkan nada-nada tinggi, sedangkan erhu nada rendah dan standar. Touxian juga berfungsi sebagai pemandu melodi dalam sebuah orkestra atau ensambel. 

Tempo permainan dalam musik oriental mengikuti ketukan kou. Kou terdiri dari sebuah gendang kecil dan dua bongkah kayu. Alat itu dimainkan oleh pemusik yang bertindak sebagai dirigen atau konduktor. Setiap ketukan kou menjadi aba-aba bagi pemusik lain.

Multitalenta
Irama oriental juga kerap mengalun di Yayasan Halim, yang berjarak hanya 100 meter dari Yayasan Surya Makmur. Mereka pun berlatih setiap Sabtu dan Minggu. Kursus musik di Yayasan Halim juga diminati anak-anak kecil. Pemusik cilik tersebut berlatih di sesi awal dan dibimbing senior mereka.

Para orangtua setia menunggui sembari menikmati kemahiran anak-anak mereka bermusik. Kelompok musik di yayasan milik marga Lim itu diampu oleh beberapa pelatih, yang biasa dipanggil laoshi alias guru. Laoshi tidak hanya melatih, tetapi juga ikut bergabung memainkan musik saat latihan ataupun pementasan.

Laoshi biasa memainkan touxian. (Gesekan) touxian-nya mengawali lagu, dan baru setelah itu alat musik lain mengikuti,” jelas Lo Thai Sua, 64, seorang laoshi dari kelompok musik Yayasan Halim.

Peserta kursus rata-rata tidak bisa memainkan alat musik apa pun sebelumnya. Termasuk alat musik kontemporer semisal gitar atau piano. 

Mereka pun harus dilatih dari nol melalui pengenalan tangga nada hingga teknik dasar bermain musik oriental. Masa orientasi itu biasa berlangsung selama dua hingga tiga bulan.

Seorang calon pemusik selama orientasi diberi kebebasan memainkan alat musik yang diinginkan. Laoshi hanya mengarahkan dan membimbing hingga pemusik pemula itu bisa bermain dengan baik dan benar.

Pemusik oriental rata-rata mahir memainkan lebih dari satu alat musik tradisional Tionghoa. Itu sebagai antisipasi untuk mengisi kekosongan formasi ketika ada pemain yang tidak bisa mengikuti latihan atau pementasan.

“Saya biasa memainkan guzheng dan erhu, tapi laoshi lebih sering meminta saya memainkan yangqhin,” ujar Anggiria Lestari Megasari, 24, pemusik dari Yayasan Halim.

Disukai
Musik tradisional Tionghoa di Pontianak mengalami perkembangan cukup berarti dalam satu dekade terakhir. Jenis musik itu mulai digandrungi kaum muda dari berbagai latar belakang budaya dan strata sosial. Kulewasan dalam bermusik menjadi satu di antara daya tarik mereka untuk mempelajari tradisi tersebut.

Musik yang kerap membawakan lagu nasional dan lagu tradisional Indonesia ini telah membuka mata dan menggugah banyak kalangan. Anggapan bahwa musik tersebut kolot dan eksklusif pun sirna ketika menyaksikan pementasan. Terlebih setelah bergabung dan ikut berlatih bersama.

“Saya semula sempat ragu apakah mereka menerima kehadiran saya. Ternyata, semuanya welcome,” ucap Ade Lestari Dewi, 35, pemain pipa, seorang muslim berdarah Melayu.

Perempuan berjilbab itu bergabung dengan kelompok musik Yayasan Halim sejak 2005. Ade tertarik mendalami musik oriental setelah menyaksikan penampilan kelompok musik tersebut di sebuah pusat perbelanjaan modern di Pontianak. (baca: Menyatukan Keragaman lewat Musik)

Animo kaula muda terhadap jenis musik ini sebenarnya jauh lebih besar. Yayasan Halim, misalnya, sering kali didatangi para remaja yang berminat mempelajari tradisi tersebut. Sayangnya, banyak yang hanya bersemangat saat latihan dua hingga tiga kali. Setelahnya mereka tidak muncul.

“Kami minta mereka menyaksikan beberapa kali latihan terlebih dahulu. Kalau serius, baru diajari,” jelas Khow Bu Cua, 61, laoshi pada kelompok musik Yayasan Halim yang beranggotakan 40 pemusik.

Saat ini terdapat tiga yayasan Tionghoa di Pontianak yang mengembangkan musik oriental. Selain Surya Makmur dan Yayasan Halim, ada Yayasan Kuning Agung di Jl Sultan Muhammad yang juga peduli dengan pelestarian tradisi ini. 

Para laoshi di ketiga yayasan tersebut awalnya mengembangkan musik di Yayasan Halim, dan sekarang menyebar ke yayasan lain. “Saya juga menjadi pelatih tunggal di kelompok musik Yayasan Kuning Agung. Di sana ada 40-50 anggota aktif,” kata Thai Sua.   lanjut ke: Menghidupkan Musik Kematian

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Simfoni Bersemi Menyemai Generasi
Simfoni Bersemi Menyemai Generasi
https://4.bp.blogspot.com/-I-cqQpQ9XZU/WJB2j9dV5jI/AAAAAAAACYk/Be7zjLZ53swTYdOUWeDz7Ks6aOZ8uCOVQCLcB/s200/Pemain%2BGuzheng%2Bdan%2BPipa.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-I-cqQpQ9XZU/WJB2j9dV5jI/AAAAAAAACYk/Be7zjLZ53swTYdOUWeDz7Ks6aOZ8uCOVQCLcB/s72-c/Pemain%2BGuzheng%2Bdan%2BPipa.jpg
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2014/04/simfoni-bersemi-menyemai-generasi.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2014/04/simfoni-bersemi-menyemai-generasi.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy