Pesinden Tiochiu Generasi Terakhir

Tradisi menyanyi dalam kultur Tiochiu ini rawan terkikis oleh zaman. Alat musik pengiringnya kian langka, pun pemusik dan penyanyinya.

ARIES MUNANDAR

PUTRI rupawan dari keluarga terpandang pergi meninggalkan kampung halaman. Kesedihan mendalam mengiringi laju biduk yang membawanya mengarungi lautan. Pelarian tanpa tujuan itu diarunginya untuk menghindari pertunangan yang tidak dikehendakinya.

Sang putri menolak dijodohkan dengan lelaki pilihan ayahnya. Hatinya sudah terpaut pada pria lain, sepupunya sendiri. Pelarian itu ternyata diketahui sang ayah dan lelaki yang bakal dijodohkan dengan sang putri tersebut. Mereka pun menguntit.

Atas saran seorang kepercayaan yang menyertai pelariannya, putri tersebut pun membuang sepatu ke laut untuk mengelabui ayahnya. Taktik itu berhasil. Sang ayah menyangka putrinya telah tewas dan tenggelam di laut. Pengejaran pun dihentikan.

Kisah putri tersebut merupakan cuplikan syair So Lak Nio, tradisi menyanyi dalam kultur Tionghoa berbahasa Tiochiu, yang disebut Phek Ji Khek. Phek Ji Khek didendangkan penyanyi tunggal atau solois dengan iringan musik berirama klasik, yang disebut hisi. Sang penyanyi biasa hanya tampil di sela pergelaran musik. Bisa di awal, di tengah, atau di akhir pergelaran.

Lagu dalam Phek Ji Khek bernada tinggi seperti seriosa dan sinden atau tembang Jawa. Iramanya juga bercengkok khas, dengan nada terus meninggi, kemudian merambat rendah, lalu meninggi kembali dan merendah lagi. Ritme dan tempo irama tersebut mengikuti alunan touxian, alat musik gesek sejenis rebab.

Touxian menjadi pembuka lagu atau intro, dan pemandu melodi dalam permainan musik tradisional Tionghoa,” kata Lo Thai Sua, 64, pemusik tradisional Tionghoa, di Pontianak, Kalimantan Barat, beberapa waktu lalu.

Koleksi Phek Ji Khek diambil dari syair dalam cerita opera klasik Tiongkok. Temanya kebanyakan tentang kekuasaan yang di bumbui kisah asmara. Syair-syair tersebut aslinya berdurasi panjang, yakni sekitar 2 jam.

Langka
Phek Ji Khek saat ini sudah terbilang langka. Di Kota Pontianak, misalnya, keberadaan penyanyi lagu tersebut bisa dihitung dengan jari. Itu pun rata-rata sudah tidak muda lagi. Itu berbeda dengan instrumen musik Tionghoa, yang mulai digandrungi kawula muda dalam satu dasawarsa terakhir.

Permainan musik tradisional Tionghoa di Pontianak saat ini dikembangkan tiga yayasan sosial warga Tionghoa. Ketiga yayasan itu ialah Yayasan Halim, Yayasan Kuning Agung, dan Yayasan Surya Makmur. Musik tersebut juga diajarkan di beberapa sekolah swasta dan kelompok mahasiswa.

Mereka sebagian besar memainkan lagu-lagu populer Indonesia ataupun Mandarin. Selain instrumentalia lagu daerah, ada lagu wajib nasional dan irama klasik Tionghoa. Phek Ji Khek hanya sesekali ditampilkan karena sulitnya mencari penyanyi yang mahir mendendangkan jenis lagu tersebut.

“Kami punya tiga penyanyi klasik. Hanya satu yang masih berusia muda,” ujar Thai Sua, yang juga pelatih musik di Yayasan Halim.

Penyanyi belia yang dimaksud ialah Devi Triyana Sari, 13. Devi, selain pemain guzheng (kecapi Tiongkok) dan erhu (rebab Tiongkok), merangkap penyanyi di kelompok musik Yayasan Halim. Dia beberapa kali membawakan Phek Ji Khek saat latihan ataupun pementasan musik tradisional Tionghoa.

Menurut Devi, penguasaan vokal pada lagu klasik Tionghoa itu memiliki tingkat kesulitan tinggi. Penyanyi dituntut menguasai teknik pernapasan agar bisa menjangkau nada-nada tinggi. Selain itu, dibutuhkan konsentrasi penuh dengan menyimak tempo permainan musik yang sangat dinamis.

“Kadang temponya semakin cepat, kemudian melambat. Itu harus hafal. Kalau tidak pas, bisa kacau-balau karena bertabrakan (antara irama lagu dan musik pengiring),” jelas siswi kelas 8 SMP Santo Petrus Pontianak itu.

Lagu andalan
So Lak Nio menjadi andalan Devi dalam setiap pementasan karena baru lagu itu yang bisa dikuasainya. Lagu itu pun sebenarnya tidak pernah dinyanyikan secara utuh, tetapi hanya cuplikan dari versi asli. Pemangkasan tersebut dilakukan untuk mempersingkat waktu penampilan.

“Lagu ini merupakan rangkaian cerita, yang aslinya berdurasi hingga 2 jam. Kami mengambil potongan tertentu saja sehingga durasinya hanya sekitar 15 menit,” jelas Thai Sua, yang juga melatih musik di Yayasan Kuning Agung.

Meskipun hanya cuplikan, durasi nyanyian tersebut masih terbilang panjang jika dibandingkan dengan lagu pada umumnya. Itu juga yang membuat lagu tersebut hanya ditampilkan pada pementasan tertentu. Akibatnya, tidak banyak penyanyi muda tertarik mempelajari dan membawakan lagu tersebut.

Seperti lagu Phek Ji Khek lainnya, syair So Lak Nio menggunakan bahasa Tiochiu klasik. Tata bahasanya sangat terstruktur dan halus. Kalimat dalam syair tersebut merupakan rangkaian kata berlanggam sastra tinggi sehingga sulit dipahami orang awam, termasuk oleh penyanyinya sendiri.

Devi mengaku tidak memahami persis arti dan makna lagu yang dinyanyikan. Kendati demikian, dia mampu menghayatinya dengan meresapi irama lagu dan alunan musik pengiring. Penghayatan mendalam itu membuat Devi bisa mengekspresikan perasaannya saat membawakan lagu tersebut.

“Makna lagunya sulit dipahami walaupun saya bisa berbahasa Tiochiu. Tata bahasanya halus dan maknanya sangat dalam (puitis),” ungkapnya.

Phek Ji Khek kurang diminati generasi sekarang karena berdurasi panjang sehingga sulit dihafalkan. Selain itu, nyanyian tersebut dianggap membosankan pemain, juga penonton atau pendengarnya. Tata bahasa yang tinggi dan sulit dimengerti membuat tradisi itu pun dianggap kuno alias ketinggalan zaman.

Musik yang monoton dengan pakem tertentu juga membuat Phek Ji Khek sulit dikreasikan. Ini berbeda dengan permainan instrumen musik tradisional Tionghoa. Pemusik bebas mengeksplorasi bahkan mengolaborasikan permainannya dengan lagu atau musik kontemporer.

Phek Ji Khek dianggap kuno, sudah lewat zamannya. Artinya (syairnya) juga banyak yang enggak ngerti,” keluh Khow Bu Cua, 61, pemusik sekaligus pelatih di kelompok musik Yayasan Halim. 

Phek Ji Khek dahulu sering digelar di beberapa perkampungan atau komunitas Tionghoa di Pontianak, Kalimantan Barat. Penonton menyaksikan penampilan penyanyi yang diiringi musik tradisional Tionghoa itu sembari menikmati suguhan teh. 

“Waktu itu belum banyak hiburan. Belum ada televisi, radio, atau hiburan lain. Jadi, Phek Ji Khek ditampilkan untuk menemani warga saat bersantai,” kata seniman tradisional Tionghoa Pontianak The Miang, Senin (5/5).

Pamor kesenian tradisional itu semakin pupus seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi. Apalagi, pemerintah selama rezim Orde Baru memberangus berbagai tradisi dan budaya Tionghoa di Tanah Air. Phek Ji Khek pun akhirnya semakin ditinggal para pelestari dan penikmatnya. 

Kendati kini tidak lagi dilarang, tradisi dari negeri Tiongkok tersebut masih saja kurang diminati generasi penerus. Kini, ketika larangan tak lagi ada, perjuangan buat bertahan dengan mencari pelestari dan penonton jadi fokus utama.   lihat juga di sini

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Pesinden Tiochiu Generasi Terakhir
Pesinden Tiochiu Generasi Terakhir
https://3.bp.blogspot.com/-kK1E0PsE3ZA/WFfLTn_1dTI/AAAAAAAAA7c/VpgS3N2zD4gmHbyKLGNqmsHVlM2SWNLRACLcB/s200/Penyanyi%2BKlasik_1_Blog.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-kK1E0PsE3ZA/WFfLTn_1dTI/AAAAAAAAA7c/VpgS3N2zD4gmHbyKLGNqmsHVlM2SWNLRACLcB/s72-c/Penyanyi%2BKlasik_1_Blog.jpg
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2014/06/pesinden-tiochiu-generasi-terakhir.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2014/06/pesinden-tiochiu-generasi-terakhir.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy