Puntung Masih Menyisakan Bara

Kebakaran lahan berangsur padam saat hujan mulai mengguyur pada akhir Maret. Namun, rentetan dampaknya masih membara.

ARIES MUNANDAR

PUPUS sudah harapan Tugiadi. Keinginannya untuk segera menempati rumah baru kini tinggal cerita. Jilatan api dari lahan gambut yang terbakar membuyarkan mimpi lelaki berusia 53 tahun itu.

Rumah seukuran 6 x 5 meter tersebut telah kehilangan separuh wujudnya. Jilatan api hanya menyisakan atap dan beberapa potong dinding semen. Bagian lainnya hangus dan terjerembab ke tanah.

“Rumah sebenarnya sudah 75% (rampung). Biayanya habis sekira Rp12 juta,” ujar warga Dusun Bukitlengkung, Kabupaten Bengkalis, Riau itu.

Tugiadi menetap di Dusun yang berada di Desa Tanjungleban, Kecamatan Bukitbatu tersebut sejak tiga tahun lalu. Dia selama ini menumpang di salah satu rumah warga setelah hijrah dari kampung halamannya di Deli Tua, Sumatera Utara. Sekira enam bulan lalu Tugiadi mendirikan rumah. Jaraknya dua kilometer dari tempatnya menumpang.    

Rencana tinggallah rencana. Tugiadi dan isterinya, Nani Suryani harus memendam hasrat untuk memiliki rumah. Kawanan api terlanjur menyinggahi sebelum rumah itu ditempati penghuninya.

Rumah Tugiadi terbakar bersama tiga rumah warga lainnya. Petaka itu melanda pada 20 Februari 2014, bersamaan maraknya kebakaran lahan gambut di Bukitlengkung.

Api mulai mengepung permukiman warga sekitar pukul 15.30 WIB. Serangannya kian tak terbendung sehingga memungkasi ikhtiar warga. Berember-ember air yang diguyur di lahan terbakar tak mampu menjinakkan api. (BACA: Balada Penghalau Api)

Rumah di kanan-kiri kediaman Tugiadi tersebut pun akhirnya hanya tersisa puing. Begitu pula gedung madrasah yang berada di satu hamparan, tiga lokalnya sekejap menjadi abu dan arang. “Api berkobar sejak sore, kami tidak tahan lagi. Kami mundur (berhenti memadamkan api) sekitar jam 9 malam,” kenang Tugiadi.

Kebakaran lahan di Bukitlengkung tak hanya menghanguskan rumah dan gedung madrasah. Setidaknya dua ribu hektare akasia dan kelapa sawit juga terpanggang. Perekonomian setempat pun lumpuh karena kelapa sawit menjadi tulang punggung pendapatan warga.

“Dari dua hektare kebun sawit saya (sekira 300 pohon), tinggal 30 pohon sawit yang selamat,” lirih Sukandar, 36 tahun.

Nasib serupa juga dialami Sutarno, 56 tahun. Separuh dari tiga hektare kebun sawitnya yang siap dipanen hangus diamuk api. Keuntungan sekira Rp1,5 juta yang bakal diraup pun amblas di depan mata.    

Kebakaran lahan di Bukitlengkung telah padam saat hujan mulai mengguyur pada akhir Maret. Namun, rentetan dampaknya masih membara. Banyak warga tak bisa lagi berkebun karena lahan telah porak-poranda. Begitu pun untuk mengganti tanaman yang mati. Mereka tak sanggup membeli bibit sawit yang seharga Rp12 ribu sebatang akibat gagal panen.

“Mereka tak punya penghasilan lagi. Kami berharap pemerintah memberi bantuan bibit sawit,” ucap Kepala Dusun Bukitlengkung, Aswanto.  

Lahan bekas terbakar akhirnya dibiarkan telantar. Ribuan bahkan mungkin jutaan pohon kelapa sawit dan akasia mati bergelimpangan di hamparan gambut. Onggokan pohon mengering tersebut bak puntung yang sewaktu-waktu membara kembali kala musim panas terik tiba.

“Sekarang ini dalam kondisi basah. Jadi, relatif aman (dari kebakaran). Kalau kering, berpotensi terbakar lagi,” jelas Tim Pakar dari Pusat Studi Bencana (PSB) Universitas Riau, Arifudin.
           
Jika sampai terbakar lagi, Bukitlengkung akan kembali menyumbang emisi gas rumah kaca pemicu pemanasan global. Karbon yang bertambat di lapisan gambut dan tanaman memuai menuju atmosfer.

Agus Fahmudin dan I G Made Subiksa dalam Lahan Gambut: Potensi untuk Pertanian dan Aspek Lingkungan, menyebut kandungan karbon pada lahan gambut beserta vegetasinya lebih besar 10 kali lipat daripada tanah mineral.

Reklamasi
Tak mau wilayahnya terus disorot gara-gara kebakaran lahan, perangkat Desa Tanjungleban pun menyiapkan beberapa rencana aksi. “Lelah juga awak nih, sebentar-sebentar dipanggil Bupati, Pak Camat, ngurus soal asap,” ucap Kepala Desa Tanjungleban, Atim.

Rencana aksi itu di antaranya, mewajibkan setiap pemilik lahan gambut membangun penyimpanan air. Ketentuan ini berlaku untuk kepemilikan lahan di atas 10 hektare. Itu guna mengantisipasi kebutuhan air sewaktu terjadi kebakaran lahan. “Untuk lahan yang 1-2 hektare, pembuatan kantong air diambil dari kas desa (disubsidi),” lanjutnya.

Pemerintah desa juga bakal menggalakkan budi daya nenas di lahan bekas terbakar. Komoditas ini dipilih berangkat dari pengalaman di lapangan. Gambut yang ditanami nenas tak pernah kecipratan kebakaran lahan. Lidah api seakan menghindar saat melintasi lokasi penanaman tersebut. “Lahan di sekililingnya terbakar, tapi nenas tak ikut hangus,” ungkap Atim.

Nenas selama ini sudah dibudidayakan oleh beberapa warga Tanjungleban dan wilayah di sekitarnya. Atim juga mulai tertarik membudidayakan buah dengan kulit bersisik tersebut. Dia menanam 12 ribu bibit nenas di lahan seluas 50 x 50 meter di belakang rumah.

Sang kepala desa itu berharap besar terhadap budi daya nenas. Apalagi, sudah ada tiga pengusaha yang berjanji menampung hasil panen. Dia pun bakal mendekati petani korban kebakaran lahan di Bukitlengkung agar beralih usaha ke budi daya nenas. Dari pada mereka menganggur, lebih baik bertanam nenas, begitu alasannya. “Bibit nenas juga murah tidak sampai Rp200. Hasilnya cukup lumayan,” jelas Atim.

Soal nenas yang kebal terhadap serangan api dijelaskan secara ilmiah oleh pakar gambut dari Universitas Riau, Haris Gunawan. Menurutnya, tekstur yang kaku membuat daun nenas tak mudah terbakar seperti daun tanaman lain. Begitu pula buahnya yang sarat air. Jarak tanaman nenas yang rapat juga menyulitkan api untuk membesar.

“Tapi ini solusi jangka pendek. Jadi, budi daya nenas harus diikuti penanaman vegetasi lain. Semisal lidah buaya, dan pohon berkayu,” tegas Haris, yang juga Direktur Pusat Studi Bencana, Universitas Riau.

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Puntung Masih Menyisakan Bara
Puntung Masih Menyisakan Bara
https://4.bp.blogspot.com/-MkCk9o49mOA/WFFwCzX3pzI/AAAAAAAAAnA/Wr7gkd40_uIXzyvwEgv4BQ5mtgeqR93hQCLcB/s1600/Lahan%2Bterbakar%2Bedit.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-MkCk9o49mOA/WFFwCzX3pzI/AAAAAAAAAnA/Wr7gkd40_uIXzyvwEgv4BQ5mtgeqR93hQCLcB/s72-c/Lahan%2Bterbakar%2Bedit.jpg
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2014/06/puntung-masih-menyisakan-bara.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2014/06/puntung-masih-menyisakan-bara.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy