Menemukan Warisan yang Hilang

Memanen cabai organik
”CANGKUL lebih ringan daripada chainshaw.” Begitu Harjani membandingkan beban kerja saat ini dengan sebelumnya. Ia dahulu bergabung dengan rombongan pembalak, mengandalkan gergaji mesin (chainsaw) sebagai alat kerja. Bobot peralatan tersebut memang jauh lebih berat daripada cangkul, namun bukan itu maksud Harjani. 

Pembalak merupakan pekerjaan beresiko tinggi karena kecelakaan kerja setiap saat mengintai. Lengan tersabet gergaji mesin hingga ancaman tertimpa kayu atau pohon yang ditebang. Belum lagi ketakutan karena diburu dan ditangkap aparat keamanan. Harjani tidak ingin bernasib seperti pembalak lain yang diciduk dan dipenjara.

Berdasarkan pertimbangan itu warga Desa Riam Merasap Jaya ini memutuskan pensiun dari pekerjaan yang digelutinya sejak remaja. Ia beralih profesi menjadi petani. ”Pendapatan dari kerja kayu memang besar tapi pengeluaran pun banyak. Di hutan bisa berminggu-minggu sehingga butuh biaya juga, belum untuk keluarga di rumah,” jelasnya. 

Harjani belakangan mengembangkan pertanian organik mengikuti jejak kedua adik sepupunya, Abdul Hakim, dan Supardi. Mereka bergabung dalam Kelompok Tani Natai Belian dan bertanam sayuran organik sejak dua tahun lalu.

”Lahan ini dahulu juga tempat orang menebang kayu belian (ulin). Makanya, kelompok tani kami dinamai Natai Belian. Natai artinya tanah tinggi atau bukit,” kata Hakim, sang ketua kelompok, pertengahan Juni.

Pembalakan di lokasi perbukitan tersebut kini menyisakan tunggul. Beberapa di antaranya melapuk, dan tumbang. Pohon besar meranggas dan mati serta lahan gersang juga masih terlihat di beberapa titik. 

Di antara monumen hidup itulah Harjani, Hakim, dan Supardi menggantungkan hidupnya saat ini. Lahan seluas empat hektare itu sebagiannya ditanami aneka sayuran. Mereka memulai usaha tersebut sekitar 2008 saat belum mengenal pertanian organik.

”Beberapa ratus tanaman kami pernah mati akibat (keracunan) pupuk urea dan NPK,” kenang Supardi, 46.

Supardi dan Hakim dahulu juga pembalak seperti Harjani. Mereka bertugas mengeluarkan tebangan ke lokasi penumpukan. Bekerja kayu di hutan menjadi primadona warga di Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat saat era 1980 hingga 2000. Kayu yang dihasilkan, di antaranya belian, bengkirai dan kayu kelas wahid lainnya.

”Kalau dihitung dengan uang sekarang, dari kerja kayu bisa dapat sekitar Rp90 juta sebulan. Tapi, hasilnya tidak jadi apa-apa sekarang,” ungkap Mat Ali Jafar, 54, bekas ketua rombongan pembalak dari Desa Sedahan Jaya.

Dejavu
Setelah hutan tidak bisa lagi diandalkan sebagai sumber nafkah, warga mulai melirik pertanian yang dulu hanya dijadikan pekerjaan sampingan. Sektor ini semakin intensif dikembangkan setelah mereka mengenal pertanian organik. (BACA: Sepetak Lahan Menyelamatkan Hutan)

”Mulanya susah juga bertani karena menunggu hasilnya lumayan lama. Tapi sekarang Alhamdulillah, tidak pernah lagi menyentuh (menebang) hutan,” aku Sri Maryanto, 32, petani sayur dan cabai di Desa Sedahan Jaya.

Beberapa petani kini mulai merasakan manfaat pertanian organik. Produktivitas lahan meningkat begitu pula pendapatan. Mereka bisa menekan biaya produksi hingga lebih dari separuh setelah menggunakan pupuk dan herbisida alami. Kualitas panen pun meningkat meskipun produk tersebut dihargai sama dengan produk nonorganik. 

”Mentimun rasanya lebih manis. Kesegarannya juga bisa bertahan hingga lima hari (setelah dipanen). Kalau kacang panjang, bisa dua hari,” lanjut Sri.

Kendati pengembangannya masih terbatas, pertanian organik menjadi sebuah gerakan baru di Kayong Utara. Petani semakin peduli terhadap pelestarian alam, dan memahami prinsip-prinsip pertanian berkelanjutan. Produk pertanian yang dihasilkan pun mampu bersaingan di pasaran lokal. 

Survei Yayasan Alam Sehat Lestari (Asri), menyebut sebanyak 90% petani dampingan mereka kini memahami prinsip pertanian berkelanjutan. Jumlah ini meningkat dari 7% sebelum pertanian organik diterapkan. Sementara itu, petani yang mempraktikannya sebanyak 98%, dan 41% di antaranya di lahan pribadi.

Produksi pertanian pun tercatat meningkat sekitar 40%. Peningkatan produksi tersebut mendongkrak penghasilan petani sebesar 64%. ”Roh pertanian berkelanjutan itu organik. Ini menjadi sebuah gerakan menuju kedaulatan pangan,” kata Koordinator Pertanian Berkelanjutan Yayasan Asri Miftah Zam Achid. 

Pertanian organik sejatinya bukan hal baru bagi petani di Kayong Utara. Pengunaan bahan alami sudah dipraktikan para leluhur mereka walaupun praktik itu didasari keterbatasan modal dan sarana produksi. (BACA: Gerakan Sebuah Antitesa)

”Orang-orang tua kami juga pakai kulit jengkol atau (rendaman) kulit kayu mengkarak untuk mengusir walang sangit. Itu memang ampuh,” ucap Mat Ali. (Aries Munandar)   lihat juga di sini

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Menemukan Warisan yang Hilang
Menemukan Warisan yang Hilang
https://4.bp.blogspot.com/-cV89TPX0GPU/WFKG7kpaUfI/AAAAAAAAArc/znA8xv7HDQcUDTkXAs3bUbc0HL806bfPQCLcB/s200/Tani%2BOrganik_3_Blog.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-cV89TPX0GPU/WFKG7kpaUfI/AAAAAAAAArc/znA8xv7HDQcUDTkXAs3bUbc0HL806bfPQCLcB/s72-c/Tani%2BOrganik_3_Blog.jpg
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2014/08/menemukan-warisan-yang-hilang.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2014/08/menemukan-warisan-yang-hilang.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy