Sepetak Lahan Menyelamatkan Hutan

Petani organik di Desa Riam Merasap, Kayong Utara
Pertanian diintensifkan untuk menekan penjarahan hutan. Pupuk dan pestisidanya diolah dari limbah dan tetumbuhan.

ARIES MUNANDAR

PADI menguning menghampar di sepetak sawah milik Arifin, 47. Tanaman itu kian merunduk digelayuti bulir bernas dengan secuil gabah hijau. Daun benderanya pun mulai mengering. Padi di lahan seluas 0,5 hektare (ha) tersebut berumur sekitar empat bulan.

”Sekitar dua minggu lagi bisa dipanen. Mudah-mudahan hasilnya juga bagus seperti sebelumnya,” ujar Arifin, pertengahan Juni lalu.     

Ini merupakan panen keempat sejak dia bertanam padi secara organik dua tahun lalu. Petani di Desa Pangkalan Buton, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat itu  cukup puas dengan hasil pada tiga kali panen sebelumnya. 

Panen serupa juga dinanti Muhammad Nur, 47. Usia padinya sekitar dua bulan namun dia optimistis hasilnya bakal sebagus panen sebelumnya. Petani di Desa Benawai Agung ini sudah empat tahun mempraktikan pertanian organik di lahan seluas 0,5 ha. Hasilnya tidak berbeda jauh dengan padi yang mengandalkan pupuk kimiawi. 

”Panennya sekitar 1,8 ton (gabah kering giling). Ini sawah tadah hujan. Kalau dengan pengairan (irigasi), mungkin bisa 2,5 ton,” jelas Ketua Kelompok Tani Harapan Baru tersebut.   

Arifin dan Nur menggunakan kompos berbahan utama kotoran sapi sebagai pupuk untuk padi mereka. Kotoran ternak itu difermentasikan bersama sekam dan jerami padi, dedak, batang pisang, serta kapur dolomit. Bakteri pengurai dibiakan sendiri dari campuran bahan alami. Di antaranya, busukan batang pisang, dedak, terasi, dan gula pasir.

Begitu pula pestisida, dan pupuk cair sebagai zat pengatur tumbuh mengunakan bahan alami. Pestisida, antara lain dibuat dari campuran buah maja, akar pohon tuba, bawang putih, tembakau dan kulit jengkol. Adapun pupuk cair dari larutan air kelapa muda, batang pisang dan gula pasir.  

”Itu pupuk untuk (merangsang) pembuahan. Untuk (memperbanyak) anakan pakai air gula dan rebung,” lanjut Nur, yang juga memasang perangkap hama di sawahnya.   

Pencarian alternatif 
Pertanian organik di Kayong Utara dirintis pada 2008. Praktik ini diprakarsai para petani dampingan Yayasan Alam Sehat Lestari (Asri). Saat ini terdapat 250 petani dari 10 kelompok tani mempraktikan pertanian organik. Mereka tersebar di tujuh desa di Kecamatan Sukadana, wilayah yang berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).

”Ada yang menerapkan di lahan kelompok, ada di lahan pribadi,” kata Koordinator Pertanian Berkelanjutan Yayasan Asri Miftah Zam Achid.  

Para petani sebelumnya telah dilatih cara bertani berbasis pemanfaatan sumber daya lokal. Mereka menggunakan serta memproduksi pupuk dan pestisida dari bahan alami. Pola pertanian holistis atau terpadu ini intensif dikembangkan setahun lalu. Itu bersamaan bergulirnya sapi bantuan beserta mesin pertanian dari pemerintah, dan Yayasan Asri. 

”Kotoran sapi sebelumnya beli, Rp15 ribu sekarung (25 kilogram). Bisa 30 hingga 40 karung sekali mupuk,” ucap Abdul Hakim, 44, petani hortikultura di Desa Riam Merasap Jaya. 

Pertanian diintensifkan kembali untuk memupus ketergantungan warga terhadap penjarahan hutan. Aktivitas tersebut marak sekitar dua hingga satu dekade lalu. Para pembalak menjarah di sekitar hingga dalam kawasan TNGP. Ada yang bekerja dengan modal dari kocek pribadi, ada pula didanai cukong dari luar.

Pembalakan meredup seiring menyusutnya areal tebangan dan gencarnya operasi dari aparat penegak hukum. Warga yang kehilangan pencarian akhirnya mencoba kembali bertani. Mereka memanfaatkan lahan yang sempat terbengkalai akibat bekerja kayu di hutan. 

”Hasrat untuk kembali ke hutan masih kuat, menebang maupun berladang.  Namun, sebagian besar kini cenderung ke usaha lain,” ungkap Ismail, staf Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kayong Utara.    

Yayasan Asri kemudian menawarkan sistem organik sebagai alternatif dalam bertani. Solusi ini awalnya untuk mengatasi permasalahan pupuk yang mahal dan sulit didapat. Kebutuhan itu, menurut mereka dapat disiasati dengan memanfaatkan bahan alami yang jauh lebih murah bahkan gratis.

Selain berbiaya produksi rendah, pertanian organik ramah lingkungan. Aktivitas tersebut tidak memproduksi limbah beracun akibat penggunaan pupuk kimiawi. Sebaliknya, limbah tanaman dapat dimanfaatkan sebagai bahan penyubur tanah. Produk yang dihasilkan pun lebih sehat karena tidak terkontaminasi pestisida.

”Ini sesuai misi kami, membuat petani sehat dan sejahtera, serta tidak merusak hutan,” ujar Miftah.    

Kerusakan tanah
Sebelum mengenal pertanian organik, petani setempat sangat bergantung dengan pupuk dan pestisida kimiawi. Mereka tergiur mendapatkan hasil panen melimpah tanpa memperhatikan dampak lingkungan dan kesehatan.   

Kondisi itu tidak terlepas dari andil pemerintah. Target produksi yang meningkat setiap tahun mendorong petani mengeksploitasi lahan mereka. Jadwal tanam padi yang biasa hanya sekali digenjot menjadi dua hingga tiga kali setahun.

”Di sini bukan tiga kali setahun tapi tiga kali dalam 14 bulan. Lahan setelah panen, langsung diolah lagi, begitu seterusnya tanpa sempat diistirahatkan (dijeda),” kata Mantri Tani dan Ternak Kecamatan Sukadana Fathul Bahri, pertengahan Juni lalu. 

Para distributor pun gencar mempromosikan pupuk dan pestisida kimia. Mereka menjanjikan bonus penjualan kepada agen atau kelompok tani. Fathul mengamati penggunaan zat kimia yang tidak terkendali menimbulkan persoalan serius terhadap kondisi fisik, biologi maupun kimia tanah.

Tekstur tanah cenderung memadat dan mengeras. Populasi organisme yang berperan dalam menjaga kegemburan dan kesuburan tanah pun berkurang. Sementara itu, keasaman tanah meningkat akibat meningkatnya kandungan nitrogen dan fosfor. Akumulasi penggunaan zat kimia tersebut juga berimbas terhadap pertumbuhan tanaman dan serangan hama. 

”Pertumbuhan vegetatif memang bagus, tapi padi mudah rebah. Ledakan hama seperti wereng dan ulat grayak juga terjadi di sejumlah desa,” jelas Fathul.         

Pertanian organik perlahan mengurangi ketergantungan pupuk dan pestisida kimiawi di Kayong Utara walaupun pengaplikasiannya masih terbatas. Sistem pertanian tersebut baru dipraktikan di tujuh hektare persawahan, atau rata-rata 1,5 ha per kelompok tani. Mereka yang bertani organik pun masih menggunakan pupuk dan pestisida kimiawi di petakan lain. 

Menurut Miftah pengembangan pertanian organik di Kayong Utara masih terkendala infrastruktur dasar. Irigasi baru menjangkau sebagian kecil persawahan. Jaringan pemasaran produk pertanian organik pun belum terbangun. Di sisi lain sumber pupuk kandang masih sangat terbatas karena populasi ternak minim. 

”Petani juga masih terbiasa bekerja instan. Kebiasaan ini yang ingin diubah agar mereka lebih mandiri,” ujar Miftah.   LANJUT KE: Gerakan Sebuah Antitesa

Lihat juga di Sini

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Sepetak Lahan Menyelamatkan Hutan
Sepetak Lahan Menyelamatkan Hutan
https://2.bp.blogspot.com/-O5Qe51T2NAk/WFKEaEIgjQI/AAAAAAAAArI/BDutGwBLGisK2MVlpoVlpfOL34NGFWtmgCLcB/s320/Tani%2BOrganik_1_Blog.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-O5Qe51T2NAk/WFKEaEIgjQI/AAAAAAAAArI/BDutGwBLGisK2MVlpoVlpfOL34NGFWtmgCLcB/s72-c/Tani%2BOrganik_1_Blog.jpg
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2014/08/sepetak-lahan-menyelamatkan-hutan.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2014/08/sepetak-lahan-menyelamatkan-hutan.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy