Eksotika dan Sakralitas Narmada

Taman Narmada
Taman Narmada merupakan miniatur Rinjani, gunung yang disakralkan oleh Umat Hindu di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

ARIES MUNANDAR

KESEGARAN langsung terasa saat air membasahi muka. Molekulnya seakan tembus menyusupi pori-pori wajah. Lelah setelah seharian pun mengitari kota sirna seketika. Hasrat mengunjungi tempat wisata berikutnya justru semakin terpompa, setelah setangkup air di kedua telapak tangan itu melumuri wajah. 

Air tersebut berasal dari saluran yang deras mengalir menuju sebuah telaga. Kesegaran dan kejernihan mengelitik niat untuk meneguk airnya atau sekadar membilas wajah. Air ini pasti kaya oksigen serta mineral, dan tentu bebas polusi, sehingga jernih dan menyegarkan. Tidak salah, jika Raja Karang Asem memilih lokasi ini sebagai tempat peristirahatan.   

Sekumpulan air jernih tersebut berada di komplek taman wisata Narmada di Desa Lembuah, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Airnya mengalir dari mata air yang berhulu di Gunung Rinjani, dan bermuara di Telaga Ageng. Ada banyak sumber mata air lagi di taman ini, yang menyebar ke sejumlah telaga.

Taman Narmada seluas 2 hektare dibangun pada 1727 oleh Anak Agung Gde Ngurah Karang Asem. Raja Karang Asem, Bali yang menguasai Lombok pada abad ke-18 ini membangun Taman Narmada sebagai tempat peristirahatan. Sebuah rumah panggung didirikan sebagai tempat bersantai bersama keluarga sembari menikmati keindahan taman.  

Rumah panggung dengan dominasi cat hijau dan berarsistektur Bali tersebut dinamai Bale Terang. Bale Terang terdiri tiga ruang utama, yakni dua ruang pada sisi utara, dan selatan sebagai kamar tidur raja, serta ruang terbuka di bagian tengah. Dari ruang terbuka inilah, sang raja bisa puas melepas pandangannya ke segenap penjuru taman.

“Disebut Bale Terang karena raja bisa melihat dengan terang (jelas) keindahan tempat ini,” kata Ida Bagus Putu Ardhana, pemandu wisata yang menemani perjalanan selama di Lombok. 

Bale Terang menyerupai balkon dan menghadap Telaga Padmawangi yang dikelilingi taman. Taman tersebut didesain bertingkat-tingkat seperti teras sering dengan beberapa anak tangga sebagai penghubung. Pengunjung harus menuruni puluhan anak tangga untuk menuju Telaga Padmawangi dari Bale Terang.

Telaga Padmawangi dahulu ditumbuhi teratai berbau harum dan menjadi kolam mandi para dayang-dayang. Di selatan Telaga Padmawangi terdapat Telaga Ageng. Di antara kedua telaga ini, terdapat fasiltas kolam renang umum. Sumber airnya juga berasal dari Gunung Rinjani. 

“Airnya dingin. Berenang 5-10 menit saja bisa menggigil,” ujar Ardhana yang karib disapa Gustu.

Bale Terang

Sakralitas Narmada
Taman Narmada tidak saja berfungi sebagai tempat peristirahatan raja, tetapi juga bernilai sakral. Taman yang berjarak sekitar 10 kilometer arah timur Mataram, ibu kota NTB ini merupakan miniatur Rinjani. Gunung yang disakralkan oleh umat Hindu di Lombok. Beberapa ritual keagaman yang biasa digelar di Rinjani, juga digelar di Taman Narmada.

Miniatur Rinjani, di antaranya direplikasikan melalui Pura Kelasa. Pura jagat tertua di Lombok ini merupakan simbol dari puncak Rinjani. Pura tersebut memiliki dua gapura beratap (paduraksa) sebagai pintu masuk. Satu gapura menghadap ke barat, satunya lagi ke selatan. Di setiap gapura terdapat dua arca penjaga pintu (dwara pala) yang diapit bangunan kembar bertiang enam, yang disebut bale gong. 

Sakralitas Rinjani juga direplikasikan melalui Telaga Ageng. Telaga ini merupakan miniatur Segara Anak, danau di Gunung Rinjani. Keberadaan Pura Kelasa dan Telaga Ageng menjadi simbol kekuatan alam semesta di gunung setinggi 3.726 meter di atas permukaan laut tersebut. 

“Raja saat itu sudah sepuh, sehingga tidak sanggup lagi ke Segara Anak. Sebagai gantinya, upacara keagamaan tersebut digelar di sini,” jelas Gustu. 

Ritual yang biasa digelar di Telaga Ageng ialah Pakelem, yang dilaksanakan saban bulan kelima tahun caka, atau sekitar Oktober-November. Pakelem disebut juga upacara meras danau, sebuah ritual untuk memohon kesuburan lahan pertanian dan turunnya hujan.

Tempat lain di Taman Narmada yang juga disakralkan ialah Bale Petirtaan. Ada sumber air alami di dalam bangunan tersebut, yang diyakini berkhasiat obat. Orang sering menyebut air itu sebagai air awet muda, sehingga banyak yang meminumnya. Air yang mengucur di bale petirtaan berasal dari pertemuan tiga mata air, yakni Suranadi, Lingsar, dan Narmada.

“Seorang peneliti dari Jepang pernah menelitinya. Kesimpulannya, air tersebut mengandung banyak mineral. Jadi, wajar disebut air awet muda karena berkhasiat bagi kesehatan,” ungkap Gustu, yang biasa memandu wisatawan dari Jepang.

Air itu mengucur di bawah arca Dewi Anjani, yang diapit Dewi Gangga, dan Dewi Saraswati di kiri dan kanan belakang. Ketiga arca tersebut bersarungkan kain kuning. Pengambilan air suci harus melalui ritual ritual khusus, yang disebut puspa bhakti atau panca sembilan. Ritual sekitar 20 menit itu dipimpin oleh seorang mangku atau kuncen di Bale Petirtaan.

“Umat lain juga boleh meminum air ini. Ritualnya menyesuaikan dengan kepercayaan masing-masing,” kata Mangku Sudi, seusai pemimpin ritual puspa bhakti, beberapa waktu lalu.

Selain ritual, beberapa pantangan juga berlaku di Bale Petirtaan. Perempuan yang sedang datang bulan, misalnya tidak diperkenankan memasuki bangunan yang berada di sebelah utara Telaga Padmawangi tersebut. Pengunjung juga dilarang membasuhkan kaki di sumber air suci.

Jabalkap

Lokasi favorit
Taman Narmada juga memiliki beberapa bangunan penting dan bersejarah, selain Bale Terang. Bangunan tersebut merupakan fasilitas penunjang aktivitas raja selama berlibur. Di antaranya Bale Loji, yang menjadi kediaman raja beserta permaisuri, dan Bale Pawedayan sebagai tempat membaca Kitab Wheda.

Di kawasan cagar budaya ini juga berdiri sebuah bangunan suci. Merajan Sanggah, demikian nama bangunan itu. Tempat ini menjadi lokasi pemujaan raja terhadap para leluhur, serta Dewa Wisnu, Dewa Brahma, Dewa Iswara. Ketiga dewa utama yang merupakan manifestasi Tuhan Yang Maha Esa menurut kepercayaan Hindu.

Lansekap Taman Narmada semakin lengkap dengan keberadaan dua kolam kembar di halaman depan atau jabalkap. Suasana sejuk dan asri pun semakin terasa dengan rimbunan pepohonan manggis yang mengelilingi kolam. 

Taman Narmada telah beberapa kali direnovasi pemerintah. Namun keasrian dan keaslian kawasan masih terjaga dan bisa dinikmati hingga kini. Taman ini menjadi satu di antara tempat favorit bagi wisatawan asing dan lokal saat melancong ke Lombok.   lihat juga di sini

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Eksotika dan Sakralitas Narmada
Eksotika dan Sakralitas Narmada
https://4.bp.blogspot.com/-az2IlISBfyQ/WJsesHyIkmI/AAAAAAAACp0/4aMuttaPWV0j0a5RQnn9dI6uFt6QhxhfwCLcB/s200/Jelajah_Taman%2BNarmada_1.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-az2IlISBfyQ/WJsesHyIkmI/AAAAAAAACp0/4aMuttaPWV0j0a5RQnn9dI6uFt6QhxhfwCLcB/s72-c/Jelajah_Taman%2BNarmada_1.jpg
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2014/09/eksotika-dan-sakralitas-taman-narmada.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2014/09/eksotika-dan-sakralitas-taman-narmada.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy