Pasir Mayang Jangan Menghilang

Sistem Perladangan Gilir-Balik
Kelestarian alam di Desa Pasir Mayang memengaruhi keseimbangan ekosistem regional di Kalimantan.

ARIES MUNANDAR

SEBATANG pohon durian menjulang di tengah perkampungan. Lingkar batang pohon setinggi 50 meter itu sekitar empat pelukan orang dewasa. Rantingnya kaku dan berkayu seukuran lengan manusia. Akar-akarnya menjalar dan bertumpuk di permukaan tanah. Pohon durian itu diyakini warga sebagai pohon tertua di Desa Pasir Mayang, Kecamatan Jelai Hulu, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Pohon itu menjadi saksi bisu saat tetua kampung membuka hutan menjadi permukiman baru. “Pohonnya sudah ada jauh sebelum kampung ini terbentuk pada 1938,” ungkap Petrus Pingsut, 68, Kepala Dusun Pasir Mayang, Desa Pasir Mayang, awal September lalu.

Pohon yang masih produktif itu dikeramatkan warga. Mereka menyebutnya pohon durian kambongan, induk dari segala durian yang tumbuh di seantero kampung. Tidak seorang pun berani mengusik apalagi menebangnya. Durian tersebut justru menjadi pusat ritual adat saat panen raya buah-buahan.

Warga Pasir Mayang sangat menghargai keberadaan pepohonan. Beragam buah endemis yang eksotis dan langka masih mudah dijumpai. Sebutlah kembayau (Dacryodes rostrata), kekalik (belimbing merah), serta berbagai jenis cempedak dan durian lokal. Warga juga menangkarkannya untuk melestarikan keragaman hayati tersebut di kebun.

“Kami tidak boleh sembarangan menebang walaupun pohon milik sendiri atau berada di pekarangan rumah,” ujar Yohanes Acus, 41, warga Pasir Mayang.

Menebang pohon dikategorikan pelanggaran sedang. Pelanggar harus menyediakan tiga piring porselen beserta sebuah tajau atau tempayan sebagai denda adat. Jika dirupiahkan, denda itu mungkin tidak seberapa. Namun, warga tetap mematuhi aturan turun-temurun tersebut. Mereka malu jika sampai membangkang.

“Pohon hanya boleh ditebang saat ada yang meninggal dunia. Kayunya buat peti mati (keranda),” jelas Ketua Adat Desa Pasir Mayang Paulus Paramin.

Berkat hutan
Pasir Mayang berjarak sekitar 125 kilometer dari ibu kota kabupaten di Ketapang, tetapi wilayahnya cukup terpencil. Dibutuhkan waktu sekitar 5 jam ke lokasi, dengan menggunakan mobil bergardan ganda. Kondisi jalan menyebabkan jarak tempuh tersebut terasa jauh.

Hampir separuh dari 110 kilometer perjalanan menuju Pasir Mayang melewati jalan berlubang, berbatu, dan berdebu. Setelah itu, masih ada jalan tanah merah berliku sepanjang 15 kilometer sebelum memasuki perkampungan.

“Saat musim hujan, jalan desa ini susah dilalui kendaraan karena licin dan jadi kubangan,” kata Kepala Desa Pasir Mayang Nurbitus Parto.

Desa berpenduduk 154 keluarga itu juga belum menikmati layanan PLN. Warga rata-rata mengandalkan genset sebagai sumber listrik. Ada milik pribadi, ada pula dialirkan sebagai listrik desa. Di tengah berbagai keterbatasan itu, mereka tetap hidup harmonis dengan sesama ataupun lingkungan sekitar.

Warga di perkampungan Dayak Jalai tersebut masih memegang teguh ajaran dan tradisi leluhur. Mereka memercayai kekuatan dan kehidupan gaib yang berpusat di tempat keramat. Selain durian kambongan, ada banyak tempat keramat berupa hutan, petilasan, dan kuburan tua di Pasir Mayang.

Manusia, menurut kepercayaan setempat, harus menjaga keseimbangan kehidupan nyata dengan gaib. Ritual adat menjadi media bagi penghuni di kedua kehidupan tersebut untuk berinteraksi dan saling menghormati.

Selayaknya komunitas adat Dayak, warga Pasir Mayang memiliki ketergantungan besar terhadap hutan. Selain dianggap berkekuatan gaib, hutan menjadi sumber penghidupan. Mereka bisa berburu hewan, meracik obat-obatan, hingga memanen buah-buahan.

Bambu dan rotan kelas wahid sebagai bahan kerajinan pun tersedia melimpah berkat hutan terjaga. Begitu pula madu, ada puluhan hingga seratus sarang lebah di satu pohon yang siap dipanen saban tahun. Madu yang dihasilkan merupakan produk organik karena lebah tersebut hanya mengisap nektar dari bebungaan di hutan.

“Hutan merupakan jantung kehidupan. Kalau hutan habis, hewan buruan habis. Madu dan anyaman (kerajinan) pun habis. Semuanya habis. Apa lagi yang bisa diwariskan ke anak cucu?” tutur Paulus.

Warga Pasir Mayang memiliki kearifan lokal dalam mengelola sumber daya alam. Ada sejumlah pantangan adat, atau pamali dalam bahasa setempat, yang tidak boleh dilanggar, semisal sembarangan membuka ladang, mengusik sarang lebah, serta mencemari sumber mata air dan sungai.

Pemanfaatan kawasan hutan beserta hasilnya tidak hanya menjadi hak komunal. Kepemilikan pribadi berupa kawasan kelola juga diakui di Pasir Mayang. Kawasan kelola yang disebut dahas itu menjadi areal kerja sekaligus permukiman. Di dahas, warga berladang dan berkebun sembari beternak dan memungut hasil hutan. (BACA: Tanam Padi cuma Dapat Benih)

“Saya menginap di pondok ini hanya saat musim berladang, dua hingga tiga hari. Hari biasa tetap pulang ke kampung (rumah),” kata Akim, 70, saat ditemui di dahas-nya.

Serenteng kearifan lokal itu dianggap belum cukup. Kesepakatan konservasi alam untuk penghidupan masyarakat pun dideklarasikan warga guna meneguhkan komitmen bersama.

Isi kesepakatan yang ditandatangani pada akhir Mei tersebut di antaranya melindungi hutan beserta sumber air bersih. Selain itu, membudidayakan tanaman bernilai ekonomi dan mencegah kebakaran hutan dan lahan. Kesepakatan yang difasilitasi Yayasan Dian Tama dan disokong USAID IFACS itu dilanjutkan dengan pemetaan partisipatif.

“Warga memetakan kawasan penting dan bernilai konservasi tinggi sesuai dengan klasifikasinya, termasuk menetapkan hutan lindung, hutan desa, dan hutan kemasyarakatan,” jelas Maradu Panjaitan, fasilitator pemberdayaan masyarakat dari Yayasan Dian Tama.

Sayangnya, penataan ruang tersebut terbentur pada status hukum kawasan. Seluruh wilayah desa tersebut masuk 104.975 hektare izin konsesi hutan tanaman industri milik PT Wahana Hijau Pesaguan. Peradaban di Pasir Mayang yang telah membumi sebelum negara ini lahir pun boleh jadi tinggal kenangan. “Kami tidak diusir, tapi terancam,” lirih Nurbitus.         

Pasir Mayang berada di perhuluan Jelai Kiri, anak Sungai Jelai yang mengalir hingga ke Kalimantan Tengah. Nurbitus tidak sanggup membayangkan jika konversi lahan itu terjadi di desanya, karena bakal berdampak luas terhadap ekosistem regional.   LANJUT KE: Memberi Kesempatan Alam Bergenerasi

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Pasir Mayang Jangan Menghilang
Pasir Mayang Jangan Menghilang
https://3.bp.blogspot.com/-O71ZLUoRCOM/WQyf9CRRC-I/AAAAAAAADQw/eX2SipfkodwP1CdVqZIZo3hM4G5Kh6JOwCLcB/s200/Ekologi_Pasir%2BMayang_1.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-O71ZLUoRCOM/WQyf9CRRC-I/AAAAAAAADQw/eX2SipfkodwP1CdVqZIZo3hM4G5Kh6JOwCLcB/s72-c/Ekologi_Pasir%2BMayang_1.jpg
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2014/10/pasir-mayang-jangan-menghilang.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2014/10/pasir-mayang-jangan-menghilang.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy