Jalan Berliku Menuju Protokol Baru

Seruan Lima untuk Aksi Iklim menjadi kesepakatan internasional pertama yang mengikat setiap negara untuk mengendalikan emisi karbon.

Aries Munandar

PERTEMUAN berekspektasi tinggi, Konferensi Internasional Perubahan Iklim (UNFCCC), digelar tepat di awal Desember. Sekitar 11 ribu anggota delegasi dari 195 negara terdaftar hadir pada konferensi yang berlangsung di Lima, Peru, tersebut.

Konferensi kali ini bernilai strategis dan dianggap krusial karena menjadi penentu kelangsungan isu dan penanggulangan perubahan iklim. Pertemuan di Lima pun dilingkupi atmosfer penuh ambisi untuk mengatasi iklim global yang semakin berubah.

“Hasil konferensi di Lima akan memperjelas rancangan dari kesepakatan universal. Setiap negara (diharapkan) berkontribusi secara signifikan dalam misi pembangunan rendah karbon, mengubah potensi menjadi kenyataan,” kata Sekretaris Eksekutif UNFCCC Christiana Figueres, saat membuka konferensi, Senin (1/12).

Ambisi besar itu menjadi amunisi guna membidik sasaran utama, yakni rancangan protokol baru. Rancangan protokol tersebut akan ditetapkan di Paris, Prancis, tahun depan untuk menggantikan Protokol Kyoto yang berlaku sejak 1997.

Protokol baru digadang-gadang berlaku efektif mulai lima tahun setelah disahkan. Perjanjian internasional tersebut memuat kewajiban setiap negara menurunkan emisi atau gas rumah kaca. Keinginan untuk mengimplementasikan lebih dini komitmen bersama itu bahkan mencuat dalam pertemuan yang berlangsung pada 1-12 Desember tersebut.

Peru selaku tuan rumah yang juga ditunjuk sebagai pemimpin konferensi mengapresiasi aspirasi peserta, juga siap memfasilitasi dan berkoalisi demi kesuksesan komitmen bersama.

“Kami bertanggung jawab memfasilitasi proses negosiasi global yang kompleks. Kami fokus pada pencapaian tujuan yang realistis, membangun mandat, dan mengakui proses dan aktor,” jelas Ketua Konferensi Lima Manuel Pulgar-Vidal, yang juga Menteri Lingkungan Hidup Peru.

Selain rancangan protokol baru, ada sejumlah isu penting lain yang juga dituntaskan dalam konferensi di Lima. Itu, di antaranya, komitmen pendanaan global dan pemangkasan emisi secara nyata oleh setiap negara guna membatasi pemanasan global maksimal 2 derajat celsius.

“Kami berharap negara maju konsisten mendukung Indonesia dalam mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan dan gambut,” ungkap Kepala Sekretariat Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) Amanda Katili Niode, seusai pembukaan konferensi.

Jalan buntu
Meskipun dilingkupi ambisi positif dan optimisme, konferensi di Lima tidak sepenuhnya berjalan mulus. Perdebatan sengit dan perbedaan mendasar mewarnai perundingan tersebut. Agenda dan kepentingan nasional setiap negara, bahkan egoisme, membuat meja perundingan seakan tersekat oleh dinding tebal.

“Diversitasnya tidak hanya terkait dengan persoalan iklim, tetapi juga latar belakang politik, ekonomi, hingga kondisi sosial setiap negara,” kata tim negosiasi Indonesia, Hardiv Harris Situmeang.

Hingga akhir pekan pertama, nyaris tidak ada kemajuan berarti dalam proses negosiasi. Sebaliknya, perdebatan semakin meruncing dan perbedaan pun kian menjurang. Perundingan gagal menyepakati isu-isu kunci dalam penyusunan laporan rancangan protokol baru.

Negara maju berkeinginan mendorong tindakan mitigasi dalam perubahan iklim. Sementara itu, negara berkembang menginginkan kesepakatan yang lebih komprehensif, yang tidak saja meliputi mitigasi, tetapi juga adaptasi dan keuangan.

Laporan baru yang menjabarkan unsur-unsur kesepakatan Paris 2015 tersebut seharusnya rampung pada akhir pekan pertama agar bisa dibahas para pejabat setingkat menteri pada pertemuan di pekan berikutnya. Kebuntuan negosiasi membuat banyak pihak pesimistis dengan hasil UNFCCC di Lima.

Penasihat Iklim Senior Christian Aid Mohamed Adow mengibaratkan perundingan di Lima seperti pilot yang hendak mendaratkan helikopter di tengah badai. “Satu di antara cara untuk melihat helipad (tempat pendaratan) ialah melalui proses peninjauan yang menjamin komitmen yang adil,” tukasnya.

Di tengah kebuntuan negosiasi, dugaan pelanggaran komitmen justru meruak dari luar ruang perundingan. Negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang yang telah berkomitmen pada skema pendanaan hijau ternyata terus menyubsidi ekspansi bahan bakar fosil, penghasil emisi.   (baca: Beragam Aksi Serukan Penyelamatan Bumi)

Subsidi itu bahkan meningkat dari US$37 juta menjadi US$88 miliar pada tahun lalu.“Pendanaan global harus ada untuk membantu negara berkembang. Namun, harus ada pula pengalihan triliunan dolar dari penggunaan energi kotor (bahan bakar fosil) saat ini ke energi terbarukan,” tegas Alix Mazounie dari Climate Action Network Prancis.

Meski begitu, ada sinyal positif dari sejumlah negara menyangkut komitmen mereka pada putaran pertama perundingan. Jerman, misalnya, menyetujui rencana baru pengurangan emisi gas rumah kaca dan berjanji menghibahkan sekitar US$60 juta untuk skema pendanaan global.

Hibah sekitar US$62,5 juta juga dijanjikan Belgia untuk Green Climate Fund, juga Peru dan Kolombia, yang menjanjikan US$6 juta masing- masing. Tujuh negara di Amerika Latin pun berkomitmen merestorasi 20 juta hektare lahan terdegradasi pada 2020.

Seruan Lima
Kebekuan negosiasi di UNFCCC di Lima tidak juga mencair pada puncak perundingan di pekan kedua. Rancangan terus dibongkar pasang guna menyesuaikan keinginan para pihak.

Delegasi pun terpolarisasi dalam dua kutub besar yang tarik-menarik kepentingan. Kutub pertama dimotori AS sebagai representasi negara maju dan kutub kedua terdiri dari negara berkembang yang dimotori Tiongkok. Kedua kutub tersebut terlibat saling serang dan menjatuhkan.

Negara berkembang terus menuntut negara maju menunaikan komitmen. Namun, AS berkelit penurunan emisi dan pendanaan global iklim juga harus ditanggung renteng bersama negara berkembang. 

“AS seharusnya mundur, mengalah. Kalau tidak, diboikot atau dimaki-maki saja. Kita akan permalukan mereka,” tegas Ketua Delegasi Indonesia Rachmat Witoelar menjelang penutupan konferensi, Jumat (12/12).

Perundingan yang tidak berujung, bahkan ditengarai melenceng dari visi penanggulangan iklim, mencemaskan banyak pihak. “Kesepakatan harus mencerminkan kebutuhan mendesak untuk perubahan di lapangan. Berhentilah menjudikan masa depan (dunia),” kecam Mattias Soderberg dari organisasi kemanusiaan internasional Act Alliance.

Pelaksanaan konferensi pun akhirnya molor hingga dua hari dari jadwal penutupan akibat alotnya perundingan. Kompromi para pihak baru tercapai pada Minggu (14/12) pagi waktu setempat setelah melalui sidang maraton. Kompromi itu kemudian dituangkan dalam kesepakatan tertulis yang dinamai Lima Call for Climate Action alias Seruan Lima untuk Aksi Iklim.

“Negosiasi telah mencapai tingkatan terbaru dalam realisme dan pemahaman tentang apa yang harus dilakukan sekarang, dalam 12 bulan ke depan, tahun demi tahun, dan dekade mendatang. Itu jika kita benar-benar ingin dan tegas mengatasi perubahan iklim,” kata Sekretaris Eksekutif UNFCCC Cristiana Figueres.

Seruan Lima untuk Aksi Iklim menjadi kesepakatan internasional pertama yang mengikat setiap negara untuk mengendalikan emisi karbon. Kesepakatan itu sekaligus menjadi cetak biru bagi protokol baru yang akan disahkan di Paris, Prancis, tahun depan dan mulai berlaku pada 2020.

Permufakatan anggota PBB tersebut pun diapresiasi berbagai organisasi multilateral sebagai kesepakatan paling bersejarah bagi kepentingan lingkungan hidup. Walaupun begitu, kesepakatan tersebut masih diwarnai kontroversi. Sejumlah LSM yang sedari awal skeptis terhadap perundingan menilai kesepakatan itu simbolis belaka.

“Para pemerintah gagal menyepakati rencana khusus pengurangan emisi sebelum 2020. Padahal, itu menjadi dasar untuk mendorong efisiensi dan pemanfaatan energi terbarukan,” ungkap Samantha Smith dari WWF International.   lanjut ke: Sektor Maritim Indonesia Butuh Adaptasi

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Jalan Berliku Menuju Protokol Baru
Jalan Berliku Menuju Protokol Baru
https://2.bp.blogspot.com/-YIuO75hYz68/WJB0mgmGRaI/AAAAAAAACX8/gGsGJWkqj5YNUk_CGKuIMBI7A5z6wiklwCLcB/s200/UNFCC_Aksi.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-YIuO75hYz68/WJB0mgmGRaI/AAAAAAAACX8/gGsGJWkqj5YNUk_CGKuIMBI7A5z6wiklwCLcB/s72-c/UNFCC_Aksi.jpg
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2014/12/jalan-berliku-menuju-protokol-baru.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2014/12/jalan-berliku-menuju-protokol-baru.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy