Memanen Ikan, Berharap Hujan

Tradisi Menuba Ikan
Menuba tidak sekadar memanen ikan di sungai, tetapi juga menjadi ritual untuk meminta hujan.

ARIES MUNANDAR

KEMARAU merupakan musim panen raya ikan bagi komunitas adat Dayak Jalai. Ikan ditangkap dengan pukat, bubu, tombak, ataupun alat tangkap tradisional lainnya. Komunitas yang bermukim di sepanjang Sungai Jelai Kiri, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, itu terkenal cekatan saat berburu ikan di sungai.

Mereka menombak sembari berdiri hingga menyelam ke dasar sungai, memburu ikan yang berenang di antara bebatuan dan lumpur. Namun, ada pula yang lebih senang memasang jerat berupa pukat dan bubu. Jebakan tersebut dipasang selama beberapa saat atau dibiarkan semalaman hingga terkumpul banyak ikan.

Jelai Kiri merupakan anak Sungai Jelai di Kecamatan Jelai Hulu, yang mengalir hingga ke Kalimantan Tengah, dan bermuara di Laut Jawa. Jelai Kiri menjadi tempat hidup beragam jenis ikan, udang, dan satwa air tawar lainnya. Sebuah kolam alam raksasa juga menjadi sumber protein bagi ribuan warga yang menetap di sepanjang aliran sungai.

Sasak be undang, natai bejolu, lubuk be ikan. Begitu ungkapan masyarakat setempat dalam menggambarkan kekayaan alam mereka. Ungkapan tersebut artinya, serasah di sungai banyak udang bersarang, di bukit banyak hewan buruan, dan lubuk di sungai banyak ikan.

Sarat persiapan
Selain menggunakan alat tangkap, warga menggunakan akar tuba (Derris elliptica) sebagai racun alami saat menangkap ikan. Tuba merupakan tumbuhan berkayu dan memanjat (Liliana) yang ditanami warga di ladang sebagai bahan insektisida untuk padi. Racun di tuba berasal dari getah atau cairan yang keluar setelah akar tumbuhan liar tersebut dipukul berulang kali.

Menggunakan racun tuba saat menangkap ikan lazim disebut menuba. Hanya dalam hitungan menit, puluhan hingga ratusan ikan pun menggelepar di sungai akibat terpapar oleh tuba. Warga tinggal menombak satu per satu, atau menjaring sekaligus ikan-ikan tersebut untuk dibawa pulang.

Namun, menuba di Sungai Jelai Kiri tidak boleh serampangan. Ada ketentuan bahkan ritual adat yang wajib ditaati sebelum dan selama menuba. Menuba juga harus direncanakan secara matang serta mendapat izin dari perangkat adat dan desa. 

Denda berupa penyiapan tiga tajau atau tempayan adat bakal dikenakan bagi pelanggar. “Menuba harus dilakukan secara adat, maka disebut menuba adat,” kata Paulus Parimin, Ketua Adat Desa Pasir Mayang, wilayah yang dilintasi Sungai Jelai Kiri.

Khasiat terbalik
Menuba adat melibatkan seluruh penghuni kampung. Waktu pelaksanaannya ditentukan berdasarkan kesepakatan para tetua bersama perangkat adat. Perhitungan ‘hari baik’, dan ‘bulan baik’ serta fenomena alam menjadi pertimbangan mereka saat menentukan waktu pelaksanaan tersebut.

Menjelang digelarnya penubaan, warga menyerahkan tuba dari ladang masing-masing ke balin atau dukun. Balin akan memimpin dan mengawali penubaan dengan sebuah ritual khusus. Ia melafalkan doa dan mantra sebagai semacam tabik terhadap penguasa gaib di sungai. Sesajian pun tidak lupa dipersembahkan buat makhluk tidak kasatmata tersebut.

“Ritual dilaksanakan supaya menuba berjalan lancar. Tidak ada gangguan apa pun bagi penuba, juga dampaknya terhadap warga lain,” jelas Petrus Pingsut, Kepala Dusun Pasir Mayang, Desa Pasir Mayang, awal September.

Seusai ritual, balin memimpin pemukulan atau pencincangan untuk mengeluarkan getah tuba. Pekerjaan tersebut kemudian diikuti warga secara massal. Getah atau cairan tuba yang telah terkumpul itu kemudian dituang ke sungai untuk meracuni ikan. Namun, ada prosedur tidak tertulis yang masih harus ditempuh warga sebelum menuba

Prosedur yang telah disepakati secara turun-temurun itu, di antaranya, membendung terlebih dahulu lokasi yang hendak dituba. Ini untuk melokalisasi racun agar tidak merembet atau meluas ke lokasi lain. Lokasi beserta luas areal penubaan tersebut ditentukan berdasarkan petunjuk dari balin.

Penuba dilarang berpindah lokasi ketika perolehan mereka tidak sesuai harapan. Tuba juga harus dicurah mengikuti arus sungai. Selain itu, jadwal menuba wajib diberitahukan kepada kampung tetangga agar mereka bisa mengambil air sungai terlebih dahulu untuk cadangan air bersih. Menuba pun hanya boleh digelar sekali, dan harus pada musim kemarau. 

“Kalau musim penghujan, tuba bisa menyebar ke mana-mana. Apalagi, saat air pasang,” kata Kepala Desa Pasir Mayang Nurbitus Parto.

Untuk memastikan khasiat tuba, balin akan meminum seteguk cairan tersebut sebelum digunakan. Tindakan ini disebut sebagai penawar. Jika kondisi sang balin tetap segar-bugar setelah meneguk tuba, dipastikan cairan itu berkhasiat paten. Sebaliknya, jika sang balin keracunan, tuba tersebut tidak akan berdampak apa pun terhadap ikan. 

“Dampaknya saling terbalik. Boleh percaya, boleh tidak, tapi itulah yang terjadi,” ujar Petrus.

Jika balin sampai keracunan, penubaan pun urung dilakukan. Namun, peristiwa tersebut belum pernah terjadi di Desa Pasir Mayang. Begitu pun dampak dari mengonsumsi ikan hasil tubaan. Sejauh ini belum pernah terdengar ada warga yang keracunan.

Meminta hujan
Menuba bagi komunitas adat Dayak Jalai tidak semata untuk memanen ikan. Hajat ini juga menjadi prosesi dalam ritual meminta hujan. Sungai seakan dikuras atau dibersihkan, sebelum menerima air baru dari guyuran hujan. Permohonan meminta hujan terselip di antara doa dan mantera yang dilafalkan balin saat menuba hendak dimulai.

“Menuba juga ‘memberitahukan’ kepada Sang Kuasa bahwa saat ini kemarau panjang, sehingga sudah waktunya diturunkan hujan,” tutur Paulus.

Hujan biasa akan mengguyur beberapa hari kemudian setelah menuba. Ekosistem di Jelai Kiri pun kembali menggeliat karena sungai berlimpah air atau pasang. Ikan, udang, dan satwa air lainnya berseliweran dan beranak-pinak lagi. Panen hasil sungai kembali dilakukan, tapi kali ini tanpa menuba.

Musim memanen ikan tanpa menuba biasa bersamaan dengan siklus perladangan. Ada liham habuq, yakni setelah ladang dibuka dan dibersihkan. Ada pula liham sesabiq, yakni saat sawi liar bersemi di ladang yang baru ditanami padi. Panen ikan tanpa tuba juga berlangsung menjelang padi berbuah.    

Tradisi menuba sering kali menjadi tontonan warga setempat dan desa di sekitar Pasir Mayang. Namun, tradisi ini kini perlahan mulai ditinggalkan karena dianggap tidak ramah lingkungan. Menuba ikut mematikan anakan ikan dan satwa air lainnya, sehingga mengancam populasi dan ekosistem di sungai. 

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Memanen Ikan, Berharap Hujan
Memanen Ikan, Berharap Hujan
https://3.bp.blogspot.com/-oL6IVcntbfA/WKHcpI9XHBI/AAAAAAAACz8/-rSo-C1Nm6s49uhL6YyJLPcFRUdkVWZ5wCLcB/s200/Tradisi_Menangkap%2BIkan.JPG
https://3.bp.blogspot.com/-oL6IVcntbfA/WKHcpI9XHBI/AAAAAAAACz8/-rSo-C1Nm6s49uhL6YyJLPcFRUdkVWZ5wCLcB/s72-c/Tradisi_Menangkap%2BIkan.JPG
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2014/12/memanen-ikan-berharap-hujan.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2014/12/memanen-ikan-berharap-hujan.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy