PERU, Jejak Inca hingga Hipoksia

PERU merawat baik jejak peradaban Inca serta kisah interaksinya dengan Spanyol. Saya menelusuri negeri di pegunungan itu dan seperti para pelancong lainnya merasakan sensasi hipoksia yang dipulihkan daun koka yang termasyhur itu.

Gereja Katedral Basilica, Paduan Eropa dan Inca
GEREJA Katedral Basilica dan Istana Qorikancha berdiri megah di Plaza de Armas Cusco, Peru. Gedung bergaya zaman Renaissance itu menjadi jejak penaklukan Spanyol pada abad ke-16.

Gereja Basilica mulai dibangun pada 1559 dan rampung sekitar 100 tahun kemudian. Gedung yang diarsitekkan Juan Miguel de Veramendi ini berdiri di bekas gusuran Kuil Kiswarkancha milik Kerajaan Inca. Pekerjanya, bangsa Inca, dengan diawasi pastor Spanyol.

Gereja ini diapit Triunfo, gereja pertama di Cusco, dan Gereja La Compania de Jesus. Ketiganya dibangun pada masa yang sama. Gereja Basilica, Triunfo, dan La Compania de Jesus tidak semata tempat ibadah. Selain bersejarah, kompleks gereja ini menjadi satu di antara tempat wisata ternama di Cusco.

Di Gereja Basilica terpajang lebih dari 400 lukisan peninggalan Abad ke-16 dan ke-17 yang bergaya Eropa dengan sentuhan Inca. Beragam artefak juga menghiasi bagian interior, di antaranya ukiran kepala puma, hewan yang menjadi simbol religi Inca di bagian pintu. Gedung dengan 14 pilar ini memiliki altar utama yang ditempa dari 400 kg perak.

Sebuah lukisan fenomenal juga terpajang di Gereja Triunfo. Goresan Alonso Cortes de Monroy tersebut menggambarkan Cusco yang luluh lantak akibat gempa bumi pada 1650. Selain itu, terdapat altar dari ukiran kayu cedar atau cedrus berlapis emas.


Observatorium surya Qorikancha
Kompleks Gereja Basilica terhubung dengan Istana Qorinkancha melalui sebuah lorong. Arsitektur Qorinkancha merupakan perpaduan antara gaya Eropa dan Inca dengan beragam artefak berhiaskan perak dan emas. Istana ini menjadi pusat religi, politik, dan astronomi di zaman Kerajaan Inca.

Qorinkancha terdiri beberapa kuil dengan kuil matahari sebagai ruang utama. Istana yang menjadi pusat ritual saat peristiwa titik balik matahari pada musim panas ini juga memiliki ruang observatorium surya. Selain petilasan yang sebagian besar berupa reruntuhan, jejak peradaban Inca terekam melalui sebuah plakat emas di dinding istana. Plakat ini bergambar benda-benda langit dan kehidupan di Bumi.

“Ini merupakan altar pemujaan dalam kosmologi Inca,” kata Jhoan, pemandu wisata setempat.

Jejak bangsa ekspansif di Cusco
Cusco menjadi kota terpenting dalam catatan sejarah Peru. Kota di dataran tinggi Milli ini menjadi pusat Imperium Inca pada abad XV. Wilayah kekuasaan mereka membentang dari Peru, Bolivia, Argentina Utara, Cile, hingga Ekuador.

Pachacuti Inca Yupanqui merupakan raja yang paling melegenda dari imperium ini. Dia seorang arsitek yang merancang Kota Cusco dengan sentuhan budaya bernilai tinggi. Pachachuti bersama penerusnya, Tupac Inca Yupanqui, juga dikenal banyak menaklukkan kerajaan lain selama 50 tahun masa kejayaan Imperium Inca.

Kejayaan Inca perlahan meredup seiring kedatangan kolonial Spanyol pada abad XVI. Terbunuhnya Tupac Huallpa, raja terakhir Inca oleh Francisco Pizarro, penjelajah dari Spanyol, menandai berakhirnya 100 tahun masa kekaisaran Inca. Sejak itu, Bangsa Inca terus diburu dan peradaban mereka dibumihanguskan Spanyol.

Masa kolonialisme Spanyol juga menandai kepunahan Bangsa Inca dari peradaban modern. Suku asli di Pegunungan Milli ini menjadi korban genosida Spanyol, selain diserang wabah penyakit dan perang saudara.

Cusco saat ini menjadi kota wisata andalan Peru. Selain memiliki tempat bersejarah, Cusco menjadi transit utama dari Lima, Ibu Kota Peru ke Machu Picchu. Wisatawan kebanyakan memanfaatkan waktu transit dengan bermalam di Cusco dan mengunjungi lokasi wisata. (BACA: Kota Sejuta Taman di Tepian Pasifik)  

Selain Plaza de Armas, masih banyak lokasi menarik dikunjungi. Sebutlah Sacsayhuamon, situs bebatuan raksasa berkonfi gurasi Puma. Sacsayhuamon berjarak dua km dari Cusco.


Pemujaan dan Taman Arkeologi
Penyusuran jejak peradaban Inca terus berlanjut hingga menuju Stasiun Ollantaytambo untuk melanjutkan perjalanan ke Machu Picchu dengan kereta api. Lokasi yang kerap disinggahi wisatawan, di antaranya Pisac dan Taman Arkeologi Nasional di Ollantaytambo.

Pisac menyajikan pemandangan indah di tengah lembah Sungai Urubamba. Di desa ini juga terdapat situs kompleks permukiman Bangsa Inca dan lahan pertanian yang masih berfungsi hingga kini. Seperti bangunan Inca lainnya, semua tembok bangunan di situs ini terdiri tumpukan batu granit yang tersusun rapat tanpa perekat.

Situs serupa juga dijumpai di Taman Arkeologi Nasional Ollantaytambo. Situs tersebut menyajikan lanskap kota, lengkap dengan permukiman, pertahanan, dan pemujaan Dewa Matahari. Petilasan ini dikelilingi Pegunungan Milli sebagai benteng alam.


Koka untuk melawan hipoksia
Perjalanan lanjutan dengan kereta api dari Ollantaytambo menuju Machu Picchu juga bakal disuguhi pemandangan menakjubkan. Apalagi, wisatawan ditempatkan di gerbong khusus yang berjendela dan beratap kaca tembus pandang. Mereka leluasa menyaksikan salju abadi yang menyelimuti beberapa puncak Pegunungan Milli. (BACA: Machu Picchu, Harmoni Kecerdasan dan Keindahan)

Cusco memang menyisakan kenangan, salah satunya karena topografinya yang membuat nyeri kepala!

Kota di selatan Peru ini bercokol di 3.400 meter di atas permukaan laut. Ia menjadi kota tertinggi dengan cadangan oksigen tertipis di dunia. Cusco juga berhawa dingin dengan suhu rata-rata 6-8 derajat Celsius. Di sini, tubuh lelah karena asupan oksigen berkurang drastis. 

Hipoksia dengan gejala tubuh lemas dan meriang disertai jantung berdegup kencang dan nyeri hebat di bagian kepala hingga tengkuk pun mendera wisatawan. Beberapa di antara mereka bahkan mimisan akibat metabolisme tubuh terganggu. Saya yang mengunjungi Cusco pada Desember silam pun tidak luput dari serangan hipoksia.

Namun, wisatawan tidak perlu khawatir. Penyakit akibat ketinggian ini bisa diatasi dengan resep sederhana peninggalan Bangsa Inca, yakni teh koka. Seduhan dari daun koka (Erythroxylum coca) yang mengandung zat kokaina ini terbukti manjur mengatasi hipoksia, tanpa efek halusinasi apalagi ketagihan.

Warga setempat memanfaatkan khasiat daun ini untuk kebugaran dan pengobatan. Selain diseduh langsung dari daun yang telah dikeringkan, teh koka tersedia dalam bentuk kemasan dan permen.

“Ladang koka banyak terdapat di Quillabamba, sekitar enam jam perjalanan dari sini,” kata Carlos, resepsionis hotel di Cusco. (Aries Munandar)

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: PERU, Jejak Inca hingga Hipoksia
PERU, Jejak Inca hingga Hipoksia
https://3.bp.blogspot.com/-Irq9R1NtN0M/WI9Bj9KnWhI/AAAAAAAACQw/5y75GD16v3Qovs0yQXIEn08X7qrTmON9wCLcB/s200/Cusco_Plaza%2Bde%2BArmas.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-Irq9R1NtN0M/WI9Bj9KnWhI/AAAAAAAACQw/5y75GD16v3Qovs0yQXIEn08X7qrTmON9wCLcB/s72-c/Cusco_Plaza%2Bde%2BArmas.jpg
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2015/01/peru-jejak-inca-hingga-hipoksia.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2015/01/peru-jejak-inca-hingga-hipoksia.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy