Peneliti di Ladang Antropologi

Pengalaman meneliti hingga ke pelosok perkampungan menjadi asupan penting bagi batin Syamsuni.

ARIES MUNANDAR

LELAKI tua itu terlihat santai dengan oblong hitam bermotif barong. Pagi itu, dia baru saja menemani istrinya berbelanja ke pasar tradisional. Penampilan bersahaja tersebut seakan selaras dengan kesederhanaan yang menjadi prinsip hidupnya. 

Hidup harus dinikmati dengan santai dan penuh syukur. Begitu lelaku yang dijalani Syamsuni Arman, pria itu, selama puluhan tahun. Dia juga pantang memendam permasalahan. Setiap persoalan hidup harus secepatnya dituntaskan dengan solusi terbaik. 

“Setiap permasalahan harus dinetralisasi secepatnya, jangan sampai ditunda-tunda sehingga membebani pikiran,” kata Syamsuni saat ditemui di kediamannya di Jl MH Thamrin, Kompleks Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat, pertengahan Februari lalu.

Penampilan boleh saja sederhana, tetapi perjalanan hidup dan kiprah Syamsuni tidak sebersahaja penampilannya. Pak Syam, begitu dia karib disapa, ialah seorang antropolog dengan serenteng hasil penelitian penting. Kajian akademisnya banyak menelaah tentang kehidupan masyarakat dengan lingkungan.

Pak Syam telah menjelajahi berbagai perkampungan di hilir hingga hulu Kapuas, sungai di Kalimantan Barat dan terpanjang di Indonesia. Mendaki perbukitan, mengarungi riam, dan berjalan kaki, hingga menginap di tengah hutan pun kerap dilakoninya. “Hampir tidak ada pelosok perkampungan di perhuluan Kapuas yang belum saya datangi,” ujar peneliti yang telah menghasilkan lebih dari 38 laporan riset pascadoktoral itu.

Lelaki kelahiran 17 Maret 1937 ini sejak belia sudah menunjukkan ketertarikan dengan ilmu pengetahuan. Pak Syam sewaktu kecil rajin melahap berbagai buku sembari mengelola perpustakaan di kampungnya. Hobi membaca memotivasinya bersekolah lebih tinggi. Dia pun melanjutkan ke sekolah menengah atas (SMA) di Yogyakarta.

Pak Syam kemudian berkesempatan mengenyam pendidikan di Harvey High School di Ohio, Amerika Serikat, melalui program pertukaran pelajar. “Ijazah SMA saya ada dua, dari SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta dan Harvey High School,” kata lelaki yang menghabiskan masa kecilnya di Sampit, Kalimantan Tengah itu.

Petugas kebersihan 
Syamsuni kembali menjejakkan kaki di Amerika Serikat sekitar 23 tahun kemudian untuk meraih gelar master dan doktor antropologi lingkungan. Dia menerima beasiswa sebagai dosen di Universitas Tanjungpura (Untan), Pontianak.

Bapak tujuh anak ini sempat bekerja paruh waktu sebagai petugas kebersihan dan penjaga perpustakaan di kampusnya di Universitas Rudgers, New Jersey. Upah sebesar US$6 per jam digunakan untuk menutupi kebutuhan hidup selama kuliah. 

Syamsuni tidak malu menyambi bekerja seperti itu karena jamak dilakukan di kampusnya. “Saya tidak pernah memandang rendah profesi atau pekerjaan apa pun, asalkan halal dan tidak merugikan orang lain,” tegas mantan guru SMEA Negeri Pelaihari, Kalimantan Selatan itu.

Syamsuni masih aktif meneliti walaupun usianya sudah berkepala tujuh. Satu di antara penelitian terbarunya ialah menyelisik kehidupan masyarakat adat Dayak Uud Danum di Kabupaten Melawi. Komunitas itu menetap di kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) di perhuluan Sungai Melawi.

Posisi sebagai ketua tim peneliti mengharuskan Pak Syam turun langsung ke lokasi untuk memimpin ekspedisi tersebut. Perjalanan darat dengan medan berat dan menyusuri sungai berarus deras pun ditempuhnya. Ada kalanya perahu motor yang ditumpangi kandas karena sungai dangkal. Tim ekspedisi pun harus berjalan kaki. 

Speedboat harus dipikul dan dinaikkan ke darat sampai ketemu aliran sungai yang dalam. Setelah itu, baru perjalanan dilanjutkan lagi,” ungkapnya.

Penelitian pada 2012 yang difasilitasi WWF Kalimantan Barat itu direncanakan berlanjut hingga terungkapnya jejak peradaban komunitas Uud Sio. Uud Sio merupakan rumpun dari subsuku Dayak Uud Danum yang jarang berinteraksi dengan masyarakat luar. Informasi dan bukti awal tentang keberadaan komunitas tersebut sudah dikantongi tim.

Pak Syam menyadari kondisi fisiknya. Ia mungkin tidak akan terlibat seandainya penelitian itu dilanjutkan sebab lokasi yang diduga sebagai permukiman komunitas Uud Sio berada di lereng Bukit Raya dan sangat terisolasi. Setidaknya butuh dua hari dua malam berjalan kaki dari desa terdekat. “Saya tidak akan mampu kalau harus turun ke lokasi,” akunya.

Antropologi dan administrasi
Syamsuni tertarik mendalami antropologi karena menganggap Kalimantan sebagai ladang ilmu sosial tersebut. Bentang alam berupa perbukitan, sungai, delta, pesisir lautan, dan hutan hujan tropis telah melahirkan ragam sejarah dan budaya kehidupan. Apalagi peneliti antropologi di Kalimantan Barat kebanyakan berasal dari luar daerah, bahkan luar negeri. Oleh karena itu, sebagai putra daerah dia merasa terpanggil.

Selain meneliti, Syamsuni yang telah memiliki 10 cucu ini juga masih aktif mengajar di Untan, juga di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Pontianak. Dia lebih banyak mengasuh mata kuliah yang berkaitan dengan metode penelitian dan administrasi negara. 

Di kampus, sosok Syamsuni memang lebih dikenal sebagai dosen ilmu administrasi sesuai dengan gelar strata satu dan guru besar yang disandangnya. “Ilmu antropologi lebih banyak digunakan di luar (kampus) karena belum ada perguruan tinggi di Kalimantan Barat yang memiliki jurusan antropologi,” jelas Ketua Ikatan Antropologi Indonesia (IAI) Kalimantan Barat itu.

Meski demikian, kedua keahlian tersebut saling mendukung karier Syamsuni sebagai peneliti. Menurutnya, persoalan lingkungan juga berkaitan erat dengan bidang administrasi negara. Itu antara lain menyangkut kebijakan publik dalam pengelolaan sumber daya alam.

“Masyarakat tidak bisa mempertahankan kepemilikan lahan kalau tidak ada kebijakan yang mengatur hal itu,” tegas mantan Pembantu Dekan I FISIP Untan tersebut.

Syamsuni menjadi dosen di Untan sejak 1977 dan seharusnya sudah pensiun sekitar delapan tahun lalu. Namun, lantaran jasa-jasa dan ilmu yang dimilikinya masih dibutuhkan, dia diangkat kembali sebagai guru besar emeritus sehingga masih aktif mengajar sampai saat ini.

Peraih gelar dosen teladan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1985 ini bertekad untuk terus mengabdi di bidangnya. Ia mengaku banyak mendapat pengalaman berharga selama meneliti yang tidak bisa dinilai dengan materi apa pun. Pengalaman itu menjadi asupan penting bagi batinnya. 

“Hasil kerja itu tidak selalu berbentuk uang atau materi. Ada nilai-nilai pertemanan, persahabatan sebagai imbal-balik dari hubungan baik,” tegasnya.

Di usia menjelang 78 tahun, Syamsuni pun masih berobsesi memperkaya koleksi tulisan ilmiahnya. Ada banyak ide, gagasan, dan hasil riset yang belum sempat dibukukan. Semangat, Prof!


Biodata

Nama: Syamsuni Arman
Lahir: Sampit, Kalimantan Tengah, 17 Maret 1937
Profesi: Dosen senior dan antropolog

Pendidikan :
• Sarjana Muda Ilmu Administrasi, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin
• Sarjana Ilmu Administrasi, Untan, Pontianak
• Master dan Doktor Antropologi Lingkungan, Universitas Rudgers, Amerika Serikat

Karier:
1. Guru SMEA Negeri Pelaihari, Kalimantan Selatan (1968-1971)
2. Kepala Kantor Cabang PT Alcomin, Kalimantan Barat (1971-1976)
3. Dosen Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak (1977-sekarang)
4. Konsultan ilmu sosial (1984-1990)
5. Dosen tamu di Inti College, Sarawak, Malaysia (2001)
6. Guru Besar Ilmu Administrasi, Untan (1998-sekarang)

Penghargaan:
1. Penghargaan akademik dari Fulbright Foundation, 1984
2. Dosen Teladan I dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, 1985

Penelitian Pascadoktoral, antara lain:
1. Strategi Pengembangan Daerah Perbatasan Kalimantan Barat dan Sarawak (1990)
2. Sosioeconomic Study of Batang Ai Nasional Park, Sarawak, Malaysia (1998)
3. Konflik Sosial di Kalimantan Barat: Perilaku Kekerasan antara Etnik Madura-Dayak dan Madura-Melayu (2000)
4. Cross-Border Travel and Trade between West Kalimantan and Sarawak (2001)
5. Tradisional Gold Mining in Upper Kapuas (2005)
6. Kajian tentang Kebijakan Lokal di Sekitar Taman Nasional Betung Kerihun (2007)

Buku dan Prosiding, antara lain:
1. Analisa Budaya Dayak (1987)
2. Manajemen Perkantoran (1990)
3. Diversity and Trade of Market Fruit in Pontianak (1996)
4. Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya (2008)
5. Beranda Depan Rumahku (2008)
lanjut ke: Pantang Menggantung Pekerjaan

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Peneliti di Ladang Antropologi
Peneliti di Ladang Antropologi
https://3.bp.blogspot.com/-wLaE8wb3tsg/WFL1Pr7ldZI/AAAAAAAAAtY/1OLICFm53yEatYDMcm4X3livwp4eGz1wACLcB/s320/Syamsuni_1.JPG
https://3.bp.blogspot.com/-wLaE8wb3tsg/WFL1Pr7ldZI/AAAAAAAAAtY/1OLICFm53yEatYDMcm4X3livwp4eGz1wACLcB/s72-c/Syamsuni_1.JPG
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2015/03/peneliti-di-ladang-antropologi.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2015/03/peneliti-di-ladang-antropologi.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy