Perempuan Penatu Musiman di Pesisir Natuna

HELAIAN putih dibentangkan Rukiah di telungkupan keranjang yang berselimutkan terpal. Ia kemudian menyikat cucian itu dan membilasnya hingga bersih. Ada setumpuk helaian putih yang harus dicuci perempuan 45 tahun tersebut pada siang itu.

Rukiah bukan penatu. Ia seorang pekerja di sebuah kilang atau pabrik pengolahan ubur- ubur di Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Tugasnya ialah membersihkan daging ubur-ubur yang sudah direndam selama dua minggu. “Bulu-bulunya (rambut) juga harus dibuang,” ucap Rukiah, pertengahan April lalu. (baca: Ubur-Ubur Bersengat Rupiah)

Sembari disikat, daging ubur-ubur itu ditaburi garam sebagai pembersih sebelum dibilas berulang kali. Rukiah harus memastikan kebersihan daging tersebut sebelum diangkut ke bagian pengeringan. “Kalau masih kotor dan ada lendirnya, pasti dibalikkan lagi,” ujar Sanimah, 48, yang juga bertugas seperti Rukiah.

Benar saja. Tidak lama berselang, Rukiah pun disambangi Juraimi. Petugas pengangkut ke bagian pengeringan itu komplain soal hasil pekerjaan Rukiah karena dianggap kurang bersih dan masih kasar. Ia kemudian menunjuk beberapa noda yang menempel di daging ubur-ubur tersebut. “Betulkan? Dibalikkan lagi,” kata Sanimah sembari tersenyum.

Mencuci merupakan proses lanjutan setelah daging ubur-ubur melewati beberapa kali perendaman. Hasil laut itu sebelumnya digelontorkan dalam bentuk segar oleh buruh panggul, dari keranjang angkut ke bak perendaman melalui sebuah papan luncur. Di bak pertama itu, ubur-ubur direndam dengan tawas dan soda selama sehari.

“Agar gatal dan lendirnya hilang, dagingnya juga jadi keras,” kata Burnadi, 28, pengawas di tempat Rukiah bekerja.

Setelah direndam seharian, ubur-ubur dipindahkan ke bak perendaman berikutnya. Kali ini, ubur-ubur direndam dengan tawas dan garam selama dua hari.

Tujuannya ialah membersihkan dan mengenyalkan daging. Selanjutnya, ubur-ubur kembali direndam selama dua minggu dengan garam. Perendaman tersebut untuk meningkatkan kekenyalan sekaligus pengawetan.

Proses berikutnya ialah membersihkan ubur-ubur, seperti yang dikerjakan Rukiah dan Sanimah. Hasil kerjaan mereka selanjutnya diangkut ke bagian pengeringan. Pekerja di bagian pengeringan juga bertugas menyortir produk dan mengklasifi kasikannya sesuai dengan ukuran. Proses pengeringan berlangsung sekitar 46 jam atau dua hari.

“Sebelum dikeringkan, diperiksa dahulu. Kalau masih kotor, harus dibersihkan lagi. Ubur-ubur juga diukur untuk menentukan grade-nya,” jelas Faria, 36, pekerja di bagian pengeringan.

Tiga bulan
Ubur-ubur yang telah dikeringkan berbentuk lempengan kecokelatan. Produk olahan itu kemudian dilipat dan dikemas dalam ember plastik untuk selanjutnya dipasarkan melalui agen. Setiap ember memuat 20 kilogram atau sekitar 47 ubur-ubur kering. Kilang itu biasa memasarkan 40 ember atau 800 kilogram ubur-ubur kering setiap hari. (baca: Mengembalikan Keseimbangan Alam)

Kilang hanya menerima ubur-ubur yang sudah dipisah bagian kubah atau kepala dengan tentakel atau kakinya. Pemisahan dilakukan di perahu motor nelayan oleh para buruh panggul. Mereka mengenakan sarung tangan atau menaburi ubur-ubur dengan tawas sebelum dipotong. Itu untuk mencegah gatal dan perih pada kulit akibat racun dari ubur-ubur.

Sudah begitu, efeknya masih dirasakan para pengangkut ubur-ubur karena kuatnya racun di tubuh hewan tak bertulang belakang tersebut. “Kalau gatal di seluruh badan sudah biasa, tinggal digaruk saja,” seloroh Baim, 46, buruh panggul ubur-ubur.

Bagian kaki hanya diolah dalam dua tahap, yakni direndam dengan garam selama seminggu dan dikeringkan selama dua hari. Kebanyakan kilang di Temajuk mengutamakan menampung bagian kepala daripada kaki ubur-ubur walaupun pengolahannya lebih sulit dan lama. Itu disebabkan harga jualnya lebih tinggi dan mudah dipasarkan.

“Bagian kaki hanya dipasarkan ke Tiongkok. Di sana lumayan peminatnya,” jelas Burnadi.

Musim ubur-ubur menjadi masa untuk menangguk pendapatan lebih bagi warga Temajuk. Beberapa petani meninggalkan sementara ladang padi yang baru dipanen dan kebun lada yang belum berbuah. Begitu pula nelayan, melupakan sejenak penangkapan ikan atau berburu lobster untuk memanen ubur-ubur. (Aries Munandar)   lihat juga di sini

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Perempuan Penatu Musiman di Pesisir Natuna
Perempuan Penatu Musiman di Pesisir Natuna
https://4.bp.blogspot.com/-GgsOFN01fy8/WJBxnxmTynI/AAAAAAAACXQ/FZ6749RU7AkciO9igg7ChKDh5wRc2FkhQCLcB/s200/Membersihkan%2BUbur-ubur.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-GgsOFN01fy8/WJBxnxmTynI/AAAAAAAACXQ/FZ6749RU7AkciO9igg7ChKDh5wRc2FkhQCLcB/s72-c/Membersihkan%2BUbur-ubur.jpg
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2015/05/perempuan-penatu-musiman-di-pesisir.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2015/05/perempuan-penatu-musiman-di-pesisir.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy