Agar Orang Utan Kembali ke Hutan

Pelestarian Orang Utan
Faktor usia dan juga hilangnya kemampuan bertahan hidup di alam liar membuat banyak orang utan tidak bisa dilepasliarkan lagi ke hutan.

ARIES MUNANDAR

PADI akhirnya menempati permukiman baru. Bersama induknya, dia dilepasliarkan di kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) di Desa Batu Barat, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Nasib mereka diharapkan jauh lebih baik ketimbang saat di permukiman lama.

Padi dan induknya ialah dua di antara lima orang utan yang dievakuasi dari blok hutan Sungaibesar di Kabupaten Ketapang, Maret hingga Mei lalu. Dua orang utan lainnya belum bisa dilepasliarkan karena masih membutuhkan perawatan.

Kawanan satwa dari genus Pongo ini sebelumnya sering masuk ke perkampungan dan merusak ladang milik warga. Itu terjadi lantaran habitat alam mereka di hutan sekitar perkampungan semakin menyusut.

Kondisi Padi dan induknya sewaktu dievakuasi sangat memprihatinkan. Begitu pula ketiga orang utan lainnya. Tubuh mereka kurus akibat kekurangan gizi atau malnutrisi. Cairan infus pun langsung diasupkan ke tubuh mereka sesaat setelah dievakuasi. Satwa-satwa tersebut selanjutnya dirawat di Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orang Utan di Ketapang.

Perawatan ditangani oleh tim medis dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Setelah dirawat sekitar tiga bulan, kondisi kesehatan Padi dan induknya bersama satu orang utan lain, akhirnya dinyatakan pulih oleh tim medis. Mereka pun dilepasliarkan pada pertengahan Juni lalu.

Sebelum dilepasliarkan, mereka juga menjalani proses adaptasi untuk mengembalikan naluri dan perilaku alamiah. Padi dan induknya ditempatkan di kandang berjeruji yang dilengkapi sarang buatan dan perangkat bermain. Selepas itu, orang utan yang berusia di bawah dua tahun tersebut menempuh tahap pembelajaran mandiri di areal khusus.

“Mereka diajari memanjat pohon, mencari pakan, bersosialisasi dengan orang utan lain, dan cara menghindari predator,” kata Manajer Operasional YIARI Ketapang Adi Irawan, Minggu (2/8).

Pelepasliaran orang utan ini ialah yang kedua kali dilakukan di TNGP oleh YIARI Ketapang bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat. Pada Februari lalu, mereka juga melepasliarkan enam orang utan di lokasi yang sama. Kawasan ini dipilih lantaran memiliki sumber pakan melimpah. Populasi orang utannya pun belum padat.

“Tingkat kompetisinya rendah sehingga orang utan tidak saling merebut pakan. Status kawasan sebagai taman nasional juga memastikan keselamatan orang utan (dari perburuan dan perambahan),” jelas Ahmad, koordinator tim survei dari YIARI.

Perawatan lanjutan
Pelepasliaran merupakan rangkaian akhir dari proses penyelamatan dan rehabilitasi orang utan. Rehabilitasi biasa berlangsung tiga hingga empat bulan. Selama rehabilitasi, orang utan menjalani perawatan intensif selayaknya pasien di rumah sakit.

Perawatan intensif itu diawali observasi dan pemeriksaan menyeluruh (general chek-up) terhadap kondisi kesehatan orang utan. Hasil pemeriksaan menjadi rujukan untuk pengobatan dan pemulihan.

Gangguan kesehatan yang sering diidap oleh ‘pasien’ YIARI Ketapang ialah gejala malnutrisi, dan serangan parasit atau cacingan. Gejala malnutrisi biasa diatasi dengan pemberian asupan gizi melalui makanan alami dan vitamin. Adapun untuk cacingan atau penyakit lainnya diatasi dengan pemberian obat.

“Jenis obatnya sama dengan untuk manusia. Namun, dosisnya disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setiap orang utan,” jelas koordinator tim medis Ayu Budi Handayani.

Walaupun telah pulih kesehatannya, tidak semua orang utan bisa langsung dilepasliarkan. Beberapa di antara mereka masih harus menjalani proses adaptasi dan pelatihan di alam terbuka. Penanganan khusus ini terutama diberlakukan kepada bayi atau anak orang utan yang kehilangan induknya.

Seumur hidup
Setelah dilatih kemandiriannya, kemampuan primata yang paling terancam punah di dunia ini diuji kembali di hutan bawas di kompleks Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orang Utan Ketapang. Mereka harus mencari pakan, bermain, dan membuat sarang sendiri. Perilaku dan perkembangan mereka dipantau oleh petugas setiap hari.

Proses adaptasi dan serangkaian pelatihan juga diberlakukan terhadap orang utan dewasa yang disita dari warga. Selain berpenyakit, orang utan peliharaan tersebut kerap kehilangan keterampilan dan naluri alamiah. 

Mereka tidak bisa lagi mencari pakan, apalagi membuat sarang sendiri sehingga perlu menjalani pelatihan khusus. Orang utan yang dianggap mampu beradaptasi dengan kehidupan liar kemudian direkomendasikan untuk dilepasliarkan.

Selama lima tahun terakhir tidak kurang 150 orang utan yang ditangani YIARI Ketapang. Namun, tidak semuanya bisa langsung menikmati kembali kehidupan di alam liar.

Beberapa kera besar tersebut mengalami cacat fisik akibat pengasuhan buruk saat masih dipelihara warga. Ada pula yang sudah tidak produktif dan kemampuan bertahan hidupnya menurun karena faktor usia. Mereka pun mungkin bakal menjadi penghuni seumur hidup pusat rehabilitasi tersebut.

“Kemampuan survive-nya rendah, apalagi yang telah lama dipelihara. Jika dilepasliarkan, peluang hidupnya sangat kecil,” ujar Adi.

Saat ini terdapat 86 orang utan penghuni Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orang Utan di Ketapang. Pengelola sejauh ini belum bisa memastikan seberapa banyak orang utan yang mungkin tidak bisa dilepasliarkan karena berbagai pertimbangan.

“Dari segi umur mungkin memenuhi kriteria (sudah tua), tapi kemampuan bertahan hidupnya tinggi. Jadi, belum bisa dipastikan karena semua masih ada harapan untuk dilepasliarkan,” pungkas Adi.

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Agar Orang Utan Kembali ke Hutan
Agar Orang Utan Kembali ke Hutan
https://2.bp.blogspot.com/-zIA27t7Gw20/WKMLyNEvfnI/AAAAAAAAC0s/hqa4gowOFrcbaTVi47xIycd6BNeSIWWAwCLcB/s200/Ekologi_Bayi%2BOrang%2BUtan.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-zIA27t7Gw20/WKMLyNEvfnI/AAAAAAAAC0s/hqa4gowOFrcbaTVi47xIycd6BNeSIWWAwCLcB/s72-c/Ekologi_Bayi%2BOrang%2BUtan.jpg
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2015/08/agar-orang-utan-kembali-ke-hutan.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2015/08/agar-orang-utan-kembali-ke-hutan.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy