Melebarkan Sayap Tradisi

Diversifikasi produk dilakukan perajin tanpa menanggalkan pakem dari tradisi menenun.

Aries Munandar

MENENUN bagi Sahidah semudah menanak nasi. Itu lantaran menenun sudah dikuasainya sejak masih bocah. Keterampilan tersebut diwarisi dari orang tua. Karena sudah terbiasa, dia pun menyejajarkan keterampilannya tersebut dengan menanak nasi.   

“Saya diajari menenun saat kelas IV SD bersamaan masanya belajar memasak nasi,” kata Sahidah, beberapa waktu lalu.  

Perempuan 70 tahun ini lahir dan dibesarkan di Kampung Semberang yang merupakan sentra tenun songket di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.  Sahidah hingga kini masih aktif menenun walaupun telah mempekerjakan beberapa penenun di galerinya. Dia bertugas  membuat pola tenunan sekaligus mengawasi setiap proses penenunan.

Pola tenunan Sahidah mengikuti corak klasik yang diwariskan secara turun-temurun. Corak atau motif peninggalan leluhur itu dijahit pada beberapa helain kain belacu dan dibingkai. Ada ratusan motif klasik yang dikoleksi Sahidah sebagai rujukan dan sumber inspirasi dalam mendesain tenunan. “Saya menyimpannya supaya selalu ingat dengan orang tua."

Sahidah dalam menjalankan usaha kerajinan songket dibantu oleh puteranya, Alfian. Selain di galeri, perajin mereka juga ada yang menenun di rumah masing-masing.  Sebagai pemain lama, Sahidah telah merasakan pasang-surut bisnis dan pelestarian songket Sambas. 

Menurut Isteri dari Benyamin Murad ini bisnis songket Sambas pernah mengalami kejayaan di era 1970-1990. Kain yang semula dikenal sebagai pakaian kebesaran para bangsawan tersebut mulai dikenakan oleh masyarakat awan. Popularitas songket Sambas pun bahkan tersebar hingga ke negara Malaysia dan Brunei Darussalam.

“Songket mulai sering digunakan saat resepsi dan sebagai antaran pernikahan, atau untuk oleh-oleh,” jelas Sahidah, yang dianugerahi penghargaan dari pemerintah karena melestarikan dan mengembangkan songket.

Belakangan pamor tenunan khas Sambas ini memudar lantaran ditinggal para pegiatnya. Rata-rata penenun berusia lanjut dan banyak yang telah meninggal dunia tanpa sempat mewariskan keahlian mereka kepada generasi penerus. Sementara itu, penenun yang masih eksis mengalami kesulitan dalam memasarkan produk mereka.

Kaya motif
Songket Sambas oleh masyarakat setempat disebut sebagai kain lunggi atau benang emas. Disebut demikian lantaran tenun ini selalu menggunakan motif dari benang berwarna keemasan. Songket Sambas memiliki delapan jenis tenunan dengan ratusan varian motif. Pengklasifikasinya merujuk kepada variasi dalam penggunaan benang keemasan.

Ada jenis padang tibakar daging dengan benang keemasan yang memenuhi permukaan kain. Ada bertabur yang benang keemasannya menyebar. Ada pula jenis berkala yang memvariasikan benang keemasan dengan benang berwarna-warni.  

Sementara itu, motif songket Sambas sebagian besar masih mempertahankan varian klasik. Semisal motif pucuk rebung, mawar setangkai, kudu luruh, dan tabur mata ayam. Ratusan motif-motif tersebut telah digunakan para perajin songket di Sambas sejak ratusan tahun silam.  

Menurut Alfian para perajin songket Sambas tinggal mengeksplorasi warisan leluhur tersebut untuk menghasilkan tenunan berkualitas. “Ini berbeda dengan daerah lain yang hanya memainkan variasi warna karena motif songket mereka sedikit,” kata Alfian, Selasa (24/11).

Selain mengeksplorasi motif klasik, beberapa perajin juga ada yang berkreasi sendiri. Mereka menggabungkan beberapa motif klasik tersebut dalam  satu tenunan sehingga lebih indah dan variatif. Begitu pula bahan tenunan dan warna dasar kain.

Bahan tenunan ada yang terbuat dari benang tekstil (poliester), dan ada pula dari benang katun, serta sutera. Songket Sambas yang rata-rata berwarna mentereng kini juga tersedia dengan pilihan warna yang lebih lembut. Pewarnaan alami pun mulai kembali diperkenalkan dalam pembuatan songket di Sambas.

“Kami membuat sesuai permintaan konsumen. Ada yang suka warna cerah, tapi ada juga suka warna yang lebih lembut. Ada segmennya masing-masing,” kata Faumiati, 43, perajin lainnya.   

Kebangkitan Songket
Diversifikasi produk juga dilakukan para perajin. Selain kain panjang, mereka memproduksi pakaian jadi, kopiah, dasi, dan berbagai produk tenun lainnya. Diversifikasi ini mampu menggenjot produksi tenunan. Bisnis songket di Kabupaten Sambas pun kembali menggeliat. 

Kerajinan yang selama ini terpusat di Kampung atau Dusun Semberang kini semakin meluas hingga di luar Kecamatan Sambas. Alfian mengamati saat ini ada sekitar 10 sentra kerajinan songket di tujuh desa di Kabupaten tersebut. Beberapa, di antaranya merupakan sentra baru.

“Kecamatan Sajad sebelum 1980 bukan sentra tenun. Sekarang, mereka memiliki sentra tenun terbesar kedua di Sambas, setelah Semberang. Banyak warga yang menjadi penenun di sana,” kata lelaki 37 tahun tersebut.

Serangkai pelatihan untuk meningkatkan produksi dan kualitas tenunan juga kerap dilakukan oleh Pemerintahan Kabupaten Sambas maupun pihak swasta. Alfian mengaku perkembangan usaha tenun di Sambas saat ini cukup menggembirakan. Kondisinya menyamai era 1970-1980 hanya berbeda di segmentasi produk dan konsumen.

“Dahulu yang booming itu kain sabuk, atau sampin untuk perlengkapan pakaian pria, dan pembelinya dari Malaysia. Sekarang, produk turunan dari kain songket dan permintaannya dari pasaran domestik,” jelasnya 

Alfian memperkirakan sedikitnya ada sekitar 225 helai songket yang diproduksi para pengrajin di Sambas setiap bulan. Para pembeli kebanyakan dari Kalimantan Barat, dan beberapa daerah di Sumatera serta Jawa. Alfian sendiri mengandalkan pembelian langsung, atau melalui pameran dan peragaan busana untuk memasarkan produknya.

Usaha Songket Sambas kini mulai menggeliat kembali, tapi Alfian tetap merasa belum aman. Dia mengkhawatirkan masuknya tenun impor bikinan pabrik dari India. Walaupun belum mengusik segmen songket Sambas, tenun impor itu bakal bisa mematikan usaha para perajian di Sambas. “Warisan budaya kita juga hancur. Itu yang saya khawatirkan,” tegasnya.   lihat juga di sini

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Melebarkan Sayap Tradisi
Melebarkan Sayap Tradisi
https://1.bp.blogspot.com/-4LgmT1Zcqo0/WGFnSS3nkHI/AAAAAAAABCg/EVmNy9rhqyEnL7AVvD6h55GFJ84oGH2TACLcB/s200/Sahida_Menenun_2.JPG
https://1.bp.blogspot.com/-4LgmT1Zcqo0/WGFnSS3nkHI/AAAAAAAABCg/EVmNy9rhqyEnL7AVvD6h55GFJ84oGH2TACLcB/s72-c/Sahida_Menenun_2.JPG
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2015/11/melebarkan-sayap-merawat-tradisi.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2015/11/melebarkan-sayap-merawat-tradisi.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy