Kami Ingin Mengubur Masa Lalu



Gafatar
BENIH cabai yang disemai Badri mulai berkecambah. Beberapa di antaranya bahkan sudah membentuk batang dan mengeluarkan helaian daun. Semaian itu siap untuk disapih menjadi bibit.

“Lombok (cabai) ini untuk ditanam dan dikelola bersama-sama oleh kelompok,” kata Badri, pekan lalu.

Lelaki 30 tahun itu bertugas menyiapkan bibit untuk ditanam dan dikelola Kelompok Tani Manunggal Sejati. Mereka mengembangkan berbagai jenis tanaman palawija dan hortikultura di Dusun Pangsuma, Desa Antibar, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.

Kelompok Tani Manunggal Sejati disebut-sebut sebagai pengikut organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Kelompok tani itu membangun kawasan pertanian terpadu di lahan bergambut seluas 43 ha.

Kawasan yang berjarak 8 km dari ibu kota kabupaten di Mempawah itu juga menjadi lokasi permukiman bagi anggota kelompok beserta keluarga. Ada delapan barak yang difungsikan sebagai tempat tinggal.

Setiap barak terdiri atas 10 pintu sebagai kamar keluarga yang dihuni 110 keluarga atau 327 jiwa. Sebagian besar berasal dari Jawa Timur. Barak dilengkapi dapur dan toilet umum.

“Lokasi ini baru berdiri sekitar tiga bulan lalu,” jelas Sukardi, petugas pengadaan pupuk untuk kelompok tani tersebut.

Lahan yang digarap terletak di pinggir Jalan Moton Asam dan dimiliki beberapa investor. Investor menanggung kebutuhan hidup anggota kelompok beserta keluarga selama satu tahun pertama.

“Hasil pertanian hingga dua tahun pertama seluruhnya untuk kami (penggarap). Selanjutnya baru sistem bagi hasil, yakni 80% untuk kami, 20% untuk investor,” kata Soeharto, 42, anggota Manunggal Sejati.

Soeharto tertarik bergabung lantaran ingin mengubah nasib. Di kampung halamannya ia sulit memiliki lahan pertanian karena harganya selangit. Lelaki asal Malang itu pun memboyong istri dan anak-anaknya ke Mempawah dengan menumpang kapal laut melalui Surabaya tujuan Pontianak.

Keberangkatan dan penempatan anggota kelompok difasilitasi Supardan, salah seorang investor yang juga bekas ketua pengurus Gafatar Jawa Timur. Namun, Soeharto dan Sukardi menampik Gafatar ada di balik kegiatan mereka.

“Kami di sini niatnya cuma mau kerja, tani. Tidak ada kegiatan lain atau penyebaran ajaran tertentu,” tegas Soeharto.

Koordinator Kelompok Tani Manunggal Sejati Deni Sulistiawan mengaku isu yang mengaitkan kelompok tani mereka dengan Gafatar sangat meresahkan para anggota. Kendati begitu, sebagian besar masih ingin bertahan. “Kami ingin mengubur masa lalu. Tolong, itu (Gafatar) jangan diungkit-ungkit lagi,” tegas bekas anggota Gafatar tersebut.

Di Kabupaten Mempawah, kelompok tani serupa juga berkembang di Desa Sejegi di Kecamatan Mempawah Timur, dan Desa Pasir di Kecamatan Mempawah Hilir.

Gafatar
Pengusiran
Sejak organisasi Gafatar dianggap meresahkan, warga di Kabupaten Mempawah menegaskan penolakan mereka terhadap seluruh eks anggota Gafatar yang tinggal di daerah tersebut. Puncaknya, massa merusak dan membakar permukiman eks anggota Gafatar di Desa Antibar, kemarin. Sebanyak empat dari delapan barak hunian hangus dan dua lainnya rusak parah. Massa juga merusak wadah penampungan air yang berada di samping barak yang dibakar.

Sebelum terjadi pembakaran, lokasi itu telah dikepung warga, yang terus berdatangan sejak siang. Massa berhasil menerobos pagar betis penjagaan aparat keamanan, dan memulai perusakan.

Aksi massa itu tidak mendapat perlawanan dari para eks anggota Gafatar. Mereka lebih memilih berlindung di aula yang ada di kompleks permukiman itu dengan penjagaan ketat aparat. Selanjutnya mereka dievakuasi ke tempat yang aman dan jauh dari lokasi kejadian.

Berdasarkan pemantauan di lapangan, amuk massa itu terjadi tidak lama seusai rapat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di Kantor Bupati Mempawah. Rapat tersebut memutuskan untuk memulangkan sekitar 700 eks anggota Gafatar di seluruh Mempawah ke daerah asal. Pemerintah setempat bersedia menanggung seluruh biaya pemulangan yang akan dilakukan melalui jalur laut.

“Tapi, mereka akan direlokasi dahulu. Lokasinya bisa di Pontianak, bisa juga di tempat lain karena kami masih berkoordinasi dengan pemerintah provinsi (Kalimantan Barat),” kata Bupati Mempawah Ria Norsan.


Perusakan dan pembakaran oleh warga sebelumnya juga terjadi pada sebuah kendaraan roda empat milik eks anggota Gafatar di halaman Kantor Bupati Mempawah, saat berlangsung rapat mediasi pada Senin. (Aries Munandar)

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Kami Ingin Mengubur Masa Lalu
Kami Ingin Mengubur Masa Lalu
https://1.bp.blogspot.com/-qnGbCwpQ4ck/WghO7pDbqaI/AAAAAAAADqc/EKzgGuTYkLwoiET9YSE12frtLIfIY2lwgCLcBGAs/s200/Realitas_Gafatar_1.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-qnGbCwpQ4ck/WghO7pDbqaI/AAAAAAAADqc/EKzgGuTYkLwoiET9YSE12frtLIfIY2lwgCLcBGAs/s72-c/Realitas_Gafatar_1.jpg
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2016/01/kami-ingin-mengubur-masa-lalu.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2016/01/kami-ingin-mengubur-masa-lalu.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy