Intelijen Dayak di Balik Integrasi Timor-Timur

Beberapa misi rahasia yang dijalankan Palaunsoeka menyimpulkan bahwa integrasi merupakan jalan terbaik untuk menghentikan kekuatan komunis di Timor-Timur.

Aries Munandar

INTEGRASI Timor-timur ke Indonesia pada 1976 ternyata tidak lepas dari peran seorang tokoh dayak asal Kalimantan Barat. Adalah Franciskus Conradus Palaunsoeka, yang kala itu staf ahli  di Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) berkali-kali menjalankan misi rahasia di saat Timor-Timur bergolak.

Dia bersama VB Da Costa diutus oleh Pemerintah Indonesia untuk memetakan kekuatan pro-integrasi. Dalam misi itu, mereka membangun komunikasi intensif dengan kelompok-kelompok yang berseberangan dengan Fretelin, seperti Apodeti dan Gerakan Antikomunis (MAC).

FC Palaunsoeka ditunjuk oleh Soeharto karena pemahamannya mengenai pergerakan komunis di Eropa. Pemerintah Indonesia kala itu gerah terhadap sepak terjang Fretelin yang dinilai berhaluan komunis. Gerakan mereka dianggap dapat mengancam stabilitas politik nasional dan regional.

Palaunsoeka yang kala itu juga anggota Komisi I DPR, di mata Soeharto memiliki kemampuan menganalisa dan memberikan masukan kepada Pemerintah. Beberapa misi rahasia yang dijalankan Palaunsoeka tersebut akhirnya menyimpulkan bahwa integrasi merupakan jalan terbaik untuk menghentikan kekuatan komunis di Timor-Timur.

Keterlibatan Palaunsoeka dalam integrasi Timor-Timur terungkap dalam biografi karangan Dismas Aju, yang diluncurkan di Pontianak, Rabu (19/5). “Untuk mendukung proses integrasi, Palaunsoeka bergabung ke Bakin pada 1975. Beliau menjadi staf ahli yang menganalisa pergerakan komunis di daratan Eropa. Termasuk, di Portugal pasca-kudeta militer 1974,” jelas Aju.  

Keterlibatan Palaunsoeka dan VB Da Costa juga lantaran mereka merupakan politikus beragama Katolik. Latar belakang agama ini dianggap memudahkan upaya pendekatan dengan masyarakat Timor-Timur yang mayoritas Katolik. Apalagi kebijakan Gereja Katolik saat itu tidak sejalan dengan gerakan komunis.     

Lobi Palaunsoeka bersama politikus Katolik lain dan didukung oleh Bakin membuahkan hasil. Ketua Umum Partai Apodeti, Arnoldo dos Reis Araujo dan didukung tokoh Gereja Katolik di Timor-Timur bersedia bergabung dengan Indonesia.

Pada 7 Desember 1975 ibukota Timor-Timur, Dili pun berhasil dikuasai oleh pasukan Apodeti, UDT, Kota, dan Tralabista, yang didukung sukarelawan Indonesia. Peristiwa tersebut hanya berselang dua pekan setelah Palaunsoeka dan kawan-kawan melakukan lawatan rahasia. Keterlibatan sukarelawan Indonesia, menurut Palaunsoeka atas permintaan rakyat Timor-Timur, dan desakan rakyat Indonesia melalui DPR.

Pria jangkung dan berkacamata ini kemudian menjadi anggota delegasi Pemerintah Indonesia yang dikirim Soeharto pasca penetapan pemerintah sementara Timor-Timur. Delegasi yang diutus pada 23 Juni 1976 ini dipimpin oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Amir Machmud, dan beranggotakan 11 perwakilan negara asing, serta 40 jurnalis dari dalam maupun luar negeri.

Amir Machmud selaku pimpinan delegasi menyatakan mereka diutus untuk memastikan bahwa rakyat Timor-Timur benar-benar menginginkan berintegrasi dengan Indonesia. DPR, menindaklanjuti laporan Mendagri pada sidang kabinet pun akhirnya menyetujui integrasi. Melalui Undang Undang No 7/1976, Timor-Timur resmi menjadi provinsi ke-27 Indonesia pada 17 Juli 1976.

Setelah situasi keamanan di Timor-Timur bisa dikendalikan Pemerintah Indonesia, Palaunsoeka mengakhiri tugasnya di Bakin pada 1982. Dia kembali berkonstrasi dengan tugasnya sebagai wakil rakyat di DPR hingga 28 Maret 1988. Lalu, siapakah sebenarnya FC Palaunsoeka ini?

Partai Persatuan Dayak
Palaunsoeka lahir pada 19 Mei 1923. Tanggal kelahiran ini sama dengan peluncuran biografinya. Putera kedua dari empat bersaudara pasangan Daun Ma’ Neiding dengan Rengen Soeka ini berasal dari Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Putussibau berjarak sekitar 700 kilometer dari Ibu kota Kalimantan Barat, Pontianak.

Palaunsoeka sehari-hari dipanggil Palaun. Adapun Soeka merupakan nama marga bangsawan dari pihak ibu. Palaun merintis karier sebagai guru di Putussibau. Pria berdarah Dayak Taman Kapuas ini tercatat sebagai pendiri Gerakan Kebakitan Dayak atau Dajak in Action (DIA) pada 30 November 1945. 

Organisasi yang beranggotakan guru dan kaum intelektual ini cikal bakal dari Partai Persatuan Dayak (PD). Palaun sekaligus menjadi ketua umum pertama di kedua organisasi tersebut.

DIA didirikan sebagai wadah untuk berhimpun dan menyatukan kaum Dayak yang terdiri dari beragam subetnik. Oleh karena itu, Palaun juga disebut sebagai bapak pemersatu Dayak. 

“Dahulu tidak ada yang menyebut diri mereka Dayak, tetapi subetniknya. Misalnya saya, Orang Iban dari subetnik Mualang,” kata Tokoh Dayak Kalimantan Barat, Hieronymus Bumbun, yang juga Uskup Emeritus di Keusukupan Agung Pontianak, saat peluncuran Biografi FC Palaunsoeka.

DIA kemudian bermetamorfosa menjadi Partai PD tepat setahun kemudian. Perubahan ini bertujuan mengoptimalkan gerakan politik kaum dayak untuk memperjuangkan martabat dan keadilan dalam bingkai NKRI. 

Partai PD menjadi salah satu partai lokal pada Pemilu 1955. Mereka mendulang suara terbanyak di Kalimantan Barat dengan meraih 12 dari 30 kursi di DPRD.

Partai PD resmi membubarkan diri pada 1963 karena tidak mampu memenuhi persyaratan administrasi. Partai ini hanya memiliki kepengurusan di lima dari minimal delapan provinsi yang dipersyaratkan oleh pemerintah. Palaun akhirnya memilih bergabung dengan Partai Katolik, dengan raihan jabatan tertinggi sebagai Ketua Umum di Kalimantan Barat.  

Dia memilih partai ini untuk menghindari gerakan berhaluan kiri. Partai Katolik pun mengantarkannya ke kursi parlemen di Jakarta. Palaun bergabung dengan Partai Katolik hingga partai ini berfusi menjadi Partai Demokrasi Indonesia pada 1973. Bersama partai barunya ini, Palaun kembali meraih kursi di DPR hingga akhirnya di-recall pada 1988.

Tokoh yang wafat pada 12 Agustus 1993 ini, diberhentikan sebagai anggota DPR karena menentang kebijakan pembatasan masa tugas anggota DPR maksimal dua periode. Ketua Umum PDI saat itu Soerjadi sebelumnya telah berang karena Palaun bersama Kelompok 17 kerap melakukan manuver politik yang merugikan partai.

Palaun tercatat sebagai politikus asal Kalimantan Barat terlama yang menjadi anggota DPR, yakni selama 37 tahun. Itu terhitung sejak masa Republik Indonesia Serikat (RIS, 1949) hingga 1988. Selain sebagai PNS dan politikus, Ketua DPD PDI Kalimantan Barat periode 1973-1989 ini juga dikenal sebagai aktivis di berbagai organisasi lokal maupun nasional. 

Dia pun pernah menggeluti dunia jurnalistik dengan bergabung bersama Staf Redaksi di Koran Keadilan, dan Suluh Kalimantan pada 1948-1949. Bapak 10 anak ini juga termasuk satu di antara pendiri Harian Kompas bersama Jacob Oetama, dan PK Ojong. Dia bahkan pernah menjadi pemimpin redaksi pertama Kompas. Palaun hingga akhir hayatnya pun masih menyumbangkan tulisan ke harian ini.

Meskipun dikenal sebagai tokoh yang berafiliasi kepada etnik dan agama tertentu, Palaun sejatinya sosok nasionalis tulen. Dalam catatan Sejarawan Kalimantan Barat Sudarto, nama Palaun setidaknya tidak ada dalam daftar pejabat atau pendukung negara federasi Kalimantan Barat, bentukan Belanda. Tapi, dia tetap berhubungan baik dengan tokoh-tokoh tersebut. “Pergaulannya luas dan luwes,” ujar Soedarto.

Lelaki yang banyak menghabiskan kariernya di Jakarta ini pun pandai menyimpan rahasia kedinasan, terutama saat masih aktif di Bakin. Kiprahnya selama di lembaga intelijen ini nyaris tidak ada yang tahu. Anak-anaknya sendiri bahkan baru mengetahuinya beberapa bulan sebelum Palaun meninggal dunia di Pontianak. 

Kesaksian bahwa Palaun lama aktif berdinas sebagai intelijen dan terlibat dalam proses intgrasi Timor-Timur, datang dari Sabam Leo Batubara. Bekas anggota Dewan Pers ini mengutarakannya dalam sebuah diskusi bersama masyarakat Kalimantan Barat di Jakarta pada 12 Juni 2012.

“Sabam Leo Batubara, wartawan Harian Suara Karya pernah pula tercatat sebagai anggota Bakin, dan kenal baik dengan Palaunsoeka,” tulis Dismas Aju dalam Biografi FC Palaunsoeka, halaman 121.   lihat juga di sini 

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,54,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,11,Tekno,11,Tradisi,59,
ltr
item
PeladangKata: Intelijen Dayak di Balik Integrasi Timor-Timur
Intelijen Dayak di Balik Integrasi Timor-Timur
https://1.bp.blogspot.com/-Ne9T-_UYiJY/WFVgPXvuFjI/AAAAAAAAAys/xa7EiMrjgqcTJ9bkb0Tgsi1UigN5goSEACLcB/s320/Repro%2BPalaunsoeka_Blog.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-Ne9T-_UYiJY/WFVgPXvuFjI/AAAAAAAAAys/xa7EiMrjgqcTJ9bkb0Tgsi1UigN5goSEACLcB/s72-c/Repro%2BPalaunsoeka_Blog.jpg
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2016/05/intelijen-dayak-dibalik-integrasi-timor.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2016/05/intelijen-dayak-dibalik-integrasi-timor.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy