Mandi Bersama untuk Melarung Sial

Perang air mewarnai tradisi mandi U shi
di Sungai Kapuas, Pontianak.
Mandi u shi digelar agar warga terhindar dari kesialan atau nahas di sepanjang tahun. Airnya pun disimpan karena dianggap membawa berkah dan bisa berkhasiat obat.

ARIES MUNANDAR

MEREKA berlomba mencebur ke sungai saat matahari di atas kepala. Membasuh diri, berendam, berenang, dan menyelam hingga tubuh berbalut baju lengkap itu menguyup di siang yang terik. Lelaki-perempuan, tua-muda, hingga anak-anak pun membaur tanpa segan. Semua larut dalam kegembiraan.

Mereka ialah warga Tionghoa yang tengah menjalani tradisi mandi u shi di Sungai Kapuas, Pontianak, Kalimantan Barat. Mandi u shi dijalani dengan keyakinan untuk menyucikan diri dan membuang kesialan. Selain di sungai, tradisi itu biasa dilakukan warga Tionghoa dengan mandi di pinggir pantai.

Mandi u shi sering pula dinamai mandi peh cun. Penganut tradisi itu meyakini semua kesialan dan aura negatif akan sirna setelah mereka mandi bersama di sungai atau laut. Seluruh anggota keluarga pun biasa diboyong agar juga diberkati sehingga terhindar dari bahaya atau nahas.

Mandi u shi digelar setiap tahun, yakni di hari kelima di bulan lima dalam penanggalan Imlek. Hari tersebut pada tahun ini bertepatan dengan Kamis (9/6). Mandi dilaksanakan pada siang atau pas di tengah hari, di saat matahari berada di puncak penyinarannya atau sekitar pukul 12.00.

Mandi bersama itu biasa berlangsung selama 1-2 jam. Kebersamaan di sungai tersebut diikuti dengan memakan bacang seusai mandi sehingga tradisi itu pun dikenal dengan mandi bacang. Bacang ialah penganan dari ketan berisi daging, ebi, kacang tanah, atau varian lainnya. Penganan berbentuk kerucut dan dibungkus daun pisang itu juga disediakan dalam ukuran lebih kecil yang disebut kicang.

“Kicang tidak memiliki isi seperti bacang, tapi biasa dimakan dengan gula pasir sehingga berasa manis,” kata Meimei Kalimantan Barat 2016, Jesslyn, saat ditemui seusai pelaksanaan mandi u shi.

Rangkaian tradisi tahunan itu ditutup dengan makan besar alias ko ciat atau ciak tua kai di kediaman masing-masing. Pesta yang melibatkan seluruh keluarga besar tersebut serupa dengan perjamuan di setiap perayaan hari besar warga Tionghoa lainnya. Kegembiraan dan kebahagiaan pun memungkasi rangkaian tradisi.

Berkhasiat obat
Tradisi mandi u shi bermula dari legenda Qu Yuan, seorang menteri di sebuah kerajaan di daratan Tiongkok sekitar tiga abad sebelum Masehi. Menteri yang setia pada kerajaan itu dikenal sebagai sosok idealis. Dia kerap mengkritik kebijakan raja saat itu yang dinilainya tidak adil dan mengorupsi uang rakyat. Sang raja pun tidak senang dan lantas mengusirnya.

“Karena kecewa dengan sikap raja, menteri itu akhirnya terjun ke sungai,” jelas Jesslyn.

Rakyat begitu mengkhawatirkan kondisi Qu Yuan yang memilih mengakhiri hidup dengan terjun ke Sungai Mu Luo tersebut. Mereka kemudian berperahu mengitari sungai untuk mencarinya. Nasi berbungkus daun bambu pun dilempar ke sungai sebagai umpan bagi ikan agar tidak memakan Qu Yuan. Namun, jasad menteri tersebut tidak kunjung ditemukan.

Nasi berbungkus daun bambu kemudian diadopsi sebagai bacang dan kicang yang selalu menyertai tradisi mandi u shi. Kedua penganan itu aslinya memang menggunakan pembungkus dari daun bambu kering. Karena semakin sulit dicari, bahan pembungkus bacang dan kicang diganti dengan daun pisang.

“Warga pun kemudian menggelar tradisi mandi bacang (u shi) untuk menghormati menteri tersebut,” ujar Nikolas, Gege Kalimantan Barat 2016.

Tidak hanya sebatas menyucikan diri, air saat mandi u shi juga dibawa pulang untuk disimpan di rumah. Warga mengemasnya ke dalam beberapa kantong plastik, botol, hingga jeriken. Mereka meyakini air tersebut mengandung berkah dan berkhasiat untuk mengobati beragam penyakit.

XF Asali dalam buku Aneka Budaya Tionghoa Kalbar menyebut para sinshe atau tabib sering mencampurkan air tersebut dalam ramuan obat. 'Mereka yang menyimpan juga harus memberikan saat ada yang membutuhkan air tersebut. Sebab, keberkahan dan khasiatnya juga bakal dirasakan si pemberi air’, tulis budayawan Tionghoa Kalimantan Barat itu.

Perang air 
Seperti kebanyakan tradisi Tionghoa di Indonesia, mandi u shi kembali semarak di Kalimantan Barat pascareformasi. Di Pontianak, tradisi itu dipusatkan di sebuah dermaga di belakang kompleks Pasar Siantan di Kecamatan Pontianak Utara. Mereka mulai memadati lokasi tersebut sejak pukul 11.00 WIB atau 1 jam sebelum acara dimulai.

Prosesi dalam tradisi itu berlangsung spontan dan natural tanpa terikat seremoni atau didahului ritual tertentu. Warga berenang bebas di sungai sembari meluapkan kegembiraan. Ada yang terjun langsung ke sungai, ada juga yang mengenakan bekas ban dalam mobil sebagai pelampung saat berenang.

Suasana di sungai pun ketika itu tidak ubah seperti kolam renang atau tempat permandian umum. Suasana kian semarak karena sekelompok muda-mudi mengisi tradisi itu dengan permainan perang air hingga ke tengah sungai.

Dengan menumpang perahu motor sewaan, mereka ‘berperang’ dengan saling melemparkan kantong plastik berisi air sebagai amunisi. Tidak hanya itu, kelompok pemadam kebakaran juga turut memeriahkan acara. Mereka menghujani warga dengan menyemprotkan air ke sekeliling dermaga hingga ke tengah sungai. Jadi, hampir tidak ada yang tidak basah kuyup walaupun mereka sekadar membasuh muka di pinggir sungai.

Pemerintah Kalimantan Barat beberapa tahun belakangan mulai membidik tradisi itu sebagai objek wisata dengan mengemasnya dalam sebuah festival sederhana. Mereka melibatkan gege (koko) dan meimei yang merupakan duta budaya Tionghoa Kalimantan Barat sebagai pemandu wisata.

Beberapa kapal polisi dan tim SAR pun disiagakan di lokasi. Gege dan meimei dengan berpakaian tradisional beserta rombongan menaiki perahu wisata untuk mengitari lokasi acara. Perahu itu juga tidak luput menjadi sasaran ‘bom air’ dari peserta. Anggota rombongan sendiri bahkan terlibat ‘saling serang’ di dalam perahu hingga basah kuyup.

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Mandi Bersama untuk Melarung Sial
Mandi Bersama untuk Melarung Sial
https://4.bp.blogspot.com/-Vv17yBiuJDg/WFKToPi-PXI/AAAAAAAAAsc/OQ2H3XXW598pNfab1uFCuUuhQB9VAIddwCLcB/s320/Mandi%2BBakcang_Blog.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-Vv17yBiuJDg/WFKToPi-PXI/AAAAAAAAAsc/OQ2H3XXW598pNfab1uFCuUuhQB9VAIddwCLcB/s72-c/Mandi%2BBakcang_Blog.jpg
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2016/06/mandi-bersama-untuk-melarung-sial.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2016/06/mandi-bersama-untuk-melarung-sial.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy