Bekal Keberanian untuk Menjalani Hidup

Tradisi Monik Anak
TANGISAN Muhammad Dava kembali pecah. Dia tidak sanggup melawan dingin sewaktu kaki mungilnya menyentuh air di sungai. Namun, Dava harus mengalahkan ketakutannya karena tradisi itu wajib dijalani bagi anak seusianya di Kampung Sungkup-Belaban Ella.

Putra ketiga pasangan Saiful dan Tiwi itu sedari tadi memang terlihat gelisah. Dia rewel dan terus menangis dalam dekapan ibunya sewaktu menuju pinggiran sungai. “Dia kurang enak badan jadinya rewel,” ujar Tiwi.

Dava pada pagi itu tengah menjalani monik anak, yakni tradisi memandikan anak dalam adat Dayak Limbai. Itu sekaligus menjadi pengalaman pertama dia merasakan kejernihan dan dinginnya sungai di Kampung Sungkup-Belaban Ella. Selain Dava, seorang anak perempuan sebayanya menjalani tradisi serupa.

Monik anak atau pogowai mandi anak dijalani setiap balita berusia tujuh bulan hingga setahun. Tradisi itu semacam selamatan agar kehidupan sang anak selalu diberkati Yang Mahakuasa. Monik anak digelar tanpa memandang latar belakang agama warga. (BACA: Kearifan Lokal dalam Menjaga Alam)

“Dava itu muslim. Bapaknya asal Jawa Timur dan ibunya asli warga sini,” ungkap tokoh masyarakat Sungkup-Belaban Ella, Bahen.

Tradisi monik anak diawali pembacaan doa dan mantra oleh tetua adat disertai penaburan beras kuning ke sungai. Letusan lantak, senapan tradisional yang ditembakkan ke udara, terdengar menggelegar dari lokasi acara.

Tetua adat kemudian mengendong Dava menuju pinggir sungai untuk diinjakkan ke sebilah mandau.

Setelah itu, dia mengayun-ayunkan balita dalam dekapannya itu di dekat sebilah tombak yang menancap di sebutir kelapa. Selanjutnya, kedua kaki Dava dicelupkan ke sungai dan diikuti kepala hingga seluruh badan.

Dava kemudian diserahkan kepada ibunya. Tiwi lantas duduk di sungai sembari memangku Dava untuk dijaring dengan jala. Setelah jala ditarik perlahan, ibu dan anak itu pun keluar dan mandi bersama di sungai berarus deras tersebut. “Sekarang anak tersebut sudah dibolehkan menginjak tanah, dan turun ke sungai,” ujar Bahen.

Monik anak diakhiri pesta pada siang atau sore harinya. Beberapa pantangan diberlakukan agar pesta atau kenduri tersebut berjalan aman dan tertib. Para pelanggar akan dikenai ulun atau denda adat sebagai sanksi. Satu ulun setara Rp400 ribu.

“Pantangannya ialah tidak boleh membuat keributan selama pesta. Dendanya bisa sampai tiga ulun, tergantung pelanggaran,” lanjut Bahen.

Monik anak sarat petuah dan filosofi. Letusan lantak, misalnya, melambangkan kerasnya kehidupan. Sementara itu, sebilah mandau diartikan sebagai keberanian dan tombak yang menancap ke kelapa ialah sebagai cita-cita atau kesuksesan. Jala atau jaring dimaknai sebagai jangkauan kehidupan.

Jadi, untuk mencapai cita-cita, seseorang harus memiliki keberanian dalam menghadapi segala tantangan hidup. “Tradisi ini juga mengandung petuah agar si anak diberkati umur panjang dan limpahan rezeki,” jelas Bahen.

Seperti mopat daun padi, ritual pada monik anak juga dipimpin tetua adat dari kalangan perempuan. Sebelum mengikuti monik anak, balita terlebih dahulu menjalani acara khusus di kediamannya pada malam hari. (BACA: Berkah Air Langit bagi Kesuburan Padi)

Dia diritualkan dalam sebuah ayunan yang menggunakan tali dari kulit kayu alias kepuak sebagai penggantung. Pembaringan anak pada ayunan tersebut beralaskan kain sebanyak tujuh lapis.

Kain pelapis itu diletakkan sehelai demi sehelai oleh para sesepuh kampung, mengikuti prosesi ritual. Beberapa potong kue lemang terlebih dahulu diletakkan sebagai alas dasar pembaringan. Setelah lemang dan tujuh lapis kain itu tersusun, anak pun dimasukkan ke ayunan.

Monik anak dan mopat daun padi hanya sebagian kecil tradisi yang masih dijalani komunitas Dayak Limbai di Sungkup-Belaban Ella. Mereka juga melestarikan beragam tradisi dalam penyambutan tamu, perladangan, perkawinan, hingga upacara kematian. “Dewan adat (ketemenggungan) berkuasa penuh untuk mengurusi soal adat,” ujar Manan. (Aries Munandar)

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Bekal Keberanian untuk Menjalani Hidup
Bekal Keberanian untuk Menjalani Hidup
https://1.bp.blogspot.com/-g6TLp66brF8/WKV1ME9M26I/AAAAAAAAC1w/op_WG1GHaJkM5yszYUHygIxX9is1euoSwCLcB/s200/Tradisi_%2BMonik%2BAnak%2B1.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-g6TLp66brF8/WKV1ME9M26I/AAAAAAAAC1w/op_WG1GHaJkM5yszYUHygIxX9is1euoSwCLcB/s72-c/Tradisi_%2BMonik%2BAnak%2B1.jpg
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2017/02/bekal-keberanian-untuk-menjalani-hidup.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2017/02/bekal-keberanian-untuk-menjalani-hidup.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy