Sakralitas Tenunan Berwarna Alami

Tenun Ikat Dayak Iban
Menenun bagi kaum Dayak Iban bukan sekadar merajut dan menganyam benang menjadi kain. Tradisi ini juga bernilai sakral.

ARIES MUNANDAR

MENENUN menjadi kegiatan sampingan Yuliana Hermina seusai berladang. Perempuan berusia 44 tahun ini memproduksi kain panjang dan berbagai produk tenun kreasi dengan motif tradisional khas Dayak Iban. Tenunan yang dibuat Yuliana rata-rata merupakan pesanan dari para kolega.

Warga Dusun Kelayam, Desa Manua Sadap, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, ini mulai menenun sejak masih remaja. Dia belajar secara autodidak dan mewarisi keterampilan dari orangtua. Proses panjang pun harus dilaluinya sebelum menjadi penenun andal.

“Kesulitan yang dihadapi saat belajar menenun cukup banyak karena belum tahu proses (pengerjaannya),” kata Yuliana, beberapa waktu lalu.

Walaupun dianggap sebagai sampingan, menenun bukan pekerjaan gampang karena butuh kesabaran, ketelitian, dan konsentrasi. Yuliana bahkan sering kali menyediakan waktu khusus. Dia harus menenun hingga larut malam dan dilanjutkan pada subuh hingga pagi hari untuk menyelesaikan pesanan. Tonton Videonya

Pendapatan dari menenun pun terbilang lumayan. Yuliana mengaku pernah meraup lebih dari Rp3 juta dalam sebulan. Selain mengikuti berbagai pameran, kunjungan wisatawan ke rumah panjai turut mendongkrak penjualan tenunan. Rumah panjai ialah sebutan untuk rumah panjang (betang) dalam bahasa Iban.

Yuliana menetap di rumah panjai Kelayam. Ia bukan satu-satu penenun di rumah tradisional Dayak tersebut. Ada 15 warga lain yang bergabung dalam Kelayam Nguji, kelompok penenun yang dipimpin Yuliana. Sebagian hasil kerajinan mereka dipajang di dinding di sepanjang ruang utama (ruai) rumah panjai Kelayam.

“Produk dan tradisi menenun menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke Kelayam,” ujar Direktur Komunitas Pariwisata Kapuas Hulu (Kompakh) L Radin.

Ramah lingkungan
Para penenun di Kelayam kini tidak lagi mengandalkan wantek sebagai pewarna tenunan. Mereka beralih memanfaatkan bahan-bahan alami, seperti yang dilakukan leluhur mereka tempo dulu. Penggunaan pewarna alami untuk tenun ikat tersebut mulai digalakkan kembali sejak dua tahun terakhir.

Bahan-bahan untuk pewarna berasal dari tumbuhan di hutan di sekitar perkampungan. Yuliana dan kawan-kawan juga mulai membudidayakan beberapa jenis tanaman pewarna alami di kebun milik kelompok mereka. Upaya ini dilakukan untuk menjaga kesinambungan pasokan bahan pewarna.

Tanaman yang sering dimanfaatkan sebagai bahan pewarna, di antaranya mengkudu, engkerbai, rengat, jangau, dan tengkawang. Bagian tanam yang digunakan ialah daun, akar, umbi, buah, hingga kulit kayu. Penenun juga menggunakan tawas atau kapur sirih sebagai perekat warna.

Berbagai eksprimen pun dilakukan demi mendapatkan jenis dan kualitas warna yang diinginkan. Saat ini tercatat ada 38 variasi jenis bahan pewarna alami yang dikembangkan penenun di Kelayam. “Semua daun dan kulit pohon di hutan kami coba. Banyak yang berhasil, tapi ada juga yang tidak bisa menghasilkan warna,” jelas Yuliana.

Penggunaan pewarna alami semakin menguatkan ikatan warga dengan hutan. Mereka harus senantiasa menjaga kelestariannya agar bisa terus memanfaatkan sumber pewarna alami. Hutan juga sekaligus menjadi sumber inspirasi karena motif-motif tenunan diadopsi dari bentuk flora dan fauna yang ada di hutan.

Kualitas tenunan dengan pewarna alami lebih unggul daripada tenunan dengan pewarna kimiawi. Walaupun tidak secerah saingannya, warna dari tenunan ini tidak mudah luntur. Tenunan alami juga mulai banyak diminati konsumen karena warnanya lebih natural dan awet dipakai.

“Menggunakan pewarna dari wantek memang lebih gampang, tapi konsumen lebih senang dengan warna alami,” ungkap Yuliana.

Tenun Ikat Dayak Iban

Ritual dan pantangan
Menenun juga dilakoni para perempuan di rumah panjai di Sadap, dusun tetangga Kelayam. Mereka pun menggunakan pewarna alami untuk tenunan. Penenun berani bereksprimen dengan bahan alami karena benang relatif lebih mudah diperoleh ketimbang beberapa tahun sebelumnya.

Menenun bagi kaum Dayak Iban sejatinya bukan sekadar merajut dan menganyam benang menjadi kain. Tradisi ini juga dilingkupi sakralitas. Ada ritual dan berbagai pantangan yang wajib dijalani para penenun. Lelaku ini pun masih dipegang teguh oleh para penun di Desa Manua Sadap.

Emilia Telibai, penenun dari rumah panjai Sadap, menyebut anak belum tumbuh gigi pantang memegang alat tenun. Jika melanggar, sang anak diyakini bisa menjadi bisu. Penenun pun harus yakin bahwa proses pencelupan benang akan menghasilkan warna yang bagus. Jika ragu, penenun justru bakal mendapat hasil yang sebaliknya.

“Perempuan yang masih memiliki bayi juga dilarang menenun. Karena harus sering menunduk, dikhawatirkan menjadi pusing,” jelas perempuan berusia 48 tahun tersebut.

Berbagai ritual juga menyertai tradisi menenun agar mendapat restu dari para leluhur. Untuk itu, bedarak atau sesajian pun harus disiapkan penenun sebelum menata benang pada alat tenun. Sesajian berwadahkan piring tersebut diletakkan di bawah gedongan atau alat tenun.

Ritual juga wajib digelar seorang penenun yang ingin menggunakan motif milik atau karya penenun lain. Prosesi adat ini dikenal dengan istilah pinjam motif. Ritual pinjam motif merupakan bentuk kearifan lokal dalam menghargai karya cipta atau hak kekayaan intelektual antarpenenun di komunitas Iban.

Menurut Radin, beberapa motif tenunan juga bernilai sakral sehingga tidak bisa sembarang digunakan. Ada berbagai pantangan dan syarat tertentu yang harus dilakukan sebelum dan saat menggunakan motif tersebut. Motif bernilai sakral itu, di antaranya, Remaung Nyangah, jelmaan makhluk gaib penunggu hutan.

“Ada juga motif yang tidak pernah lagi digunakaan, yakni Nibung Berayah. Motif ini khusus dibuat untuk menerima hasil kayau (penggal kepala saat zaman perang suku)," jelasnya.

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Sakralitas Tenunan Berwarna Alami
Sakralitas Tenunan Berwarna Alami
https://1.bp.blogspot.com/-LX9pDCng2RM/WWE_Zcemx_I/AAAAAAAADXU/Xky2TlaRjKIlb_8nwS-RJff1pWlv9HdJgCLcBGAs/s200/Tradisi_Tenun%2BAlami_1.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-LX9pDCng2RM/WWE_Zcemx_I/AAAAAAAADXU/Xky2TlaRjKIlb_8nwS-RJff1pWlv9HdJgCLcBGAs/s72-c/Tradisi_Tenun%2BAlami_1.jpg
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2017/07/sakralitas-tenunan-berwarna-alami.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2017/07/sakralitas-tenunan-berwarna-alami.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy