Globalisasi Telur Ceplok

KUMAN di seberang lautan tampak, gajah di depan mata tak tampak. Pepatah ini terasa tidak relevan lagi di zaman serbainternet. Kuman dan gajah, mau berada di seberang lautan, seberang pulau bahkan seberang planet sekalipun tetap bisa kelihatan jelas. Apalagi, cuma di depan mata!

Itu tentu saja ketika kuman dan gajah tersebut dianalogikan sebagai informasi. Peristiwa sekecil apa pun dan di lokasi terpencil sekali pun kini dengan mudah tersiar ke segala penjuru dunia.

Informasi mengenai privasi atau di ruang privat bahkan dengan gampang terumbar ke publik. Seperti kabar mengenai adik seorang pesohor yang sudah bisa membuat telur ceplok!

Tidak penting apakah berita seperti itu lantas memengaruhi nilai tukar rupiah, atau membuat dua bangsa Korea langsung berunifikasi. Sekali lagi, tidak penting! Ingat, ya tidak PENTING. Kalau pun ada analogi kuman, ini adalah kuman sekuman-kuman sebenarnya.

Teknologi internet seringkali memaksa warga untuk disuguhi hidangan berita ala telur ceplok. Setengah matang pula! Serbacepat dan praktis, kalau tidak mau dibilang terburu-buru. Biar lebih seru, media pun menggorengnya dengan komentar warganet. Ini komentar netizen. Ini reaksi netizen. Entah, asli atau palsu akun yang digunakan para warganet tersebut. Tak penting!

Kualitas media kita di era milineal masih belum bergerak jauh dari model berita era koran kuning. Media ternama yang dikenal dengan sajian berita khas nan berkelas pun bahkan mendegradasi atau menurunkan kualitas pemberitaannya manakala berduplikasi ke daring.  

Seperti botol menemukan tutup. Seperti Rangga bertemu Cinta. Kondisi media kita klop dengan tingkat literasi yang berada di titik nadir. Connecticut State University Amerika Serikat yang mengkaji tingkat literasi di dunia, menempatkan Indonesia di peringkat 60 dari 61 negara. Posisi tersebut tidak lebih bagus dari Bostwana di Afrika yang menempati peringkat 61.

Dengan kondisi seperti ini bagaimana media nasional mampu menghadapi tantangan global? Apatah menunggu Gajah Mada hidup kembali dan berduplikasi menjadi Gaj Achmada? Kemudian bersumpah, tidak akan menikmati dunia fantasi dan taman mini sebelum semua media di nusantara bersatu menghadapi globalisasi?
  
Globalisasi media ialah keniscayaan, sebuah hukum alam. Di Negeri Paman Sam yang warganya telah banyak melek literasi dan memiliki industri media mapan sekali pun bahkan grasa-grusu menghadapi globalisasi.

Kenal Hugh Hefner? Gak kenal? Tapi pasti tahu kan? Pemilik Majalah Playboy tersebut akhirnya mengubah format majalahnya. Playboy meniadakan gambar vulgar perempuan yang menjadi ciri khas mereka selama ini. Itu dilakukan untuk menyiasati semakin merosotnya oplah.

Pada masa jayanya di sekitar 1975, Playboy bisa dicetak hingga sebanyak 5,6 juta eksemplar. Oplah tersebut belakangan terus menurun hingga hanya sekitar 800 ribu eksemplar. Seretnya penjualan Playboy lantaran kalah bersaing dengan situs porno di internet yang bisa diakses gratis.

Beruntunglah Enny Arrow yang telah lama berpulang, sehingga tidak mengalami kepiluan seperti Opa Hefner. Apalagi, bila dia menyaksikan acara diskusi kesusasteraan karyanya di Semarang yang diberangus aparat. Oh, NO…, Oh,….!

Walaupun Playboy ternyata tidak konsisten karena kembali ke format aslinya setahun kemudian, mereka telah berupaya membuat terobosan. Mereka mencoba meninggalkan zona nyaman (yang memang betul-betul nyaman). Kata Direktur Kreatif Majalah Playboy Cooper Hefner, seperti dikutip Jawapos.com (15/2/2017) langkah yang diambil mereka setahun lalu itu adalah sebuah blunder besar. Ealah!

Globalisasi memang harus dihadapi dengan strategi dan perencanaan matang. Tidak sekadar mengikuti tren atau latah-latahan. Konvergensi media bukan obat mujarab apabila tidak diikuti peningkatan kualitas konten. Era internet memang menggiurkan tapi tak harus larut dan terbuai.

Penghamba iklan
Indonesia merupakan pengakses internet mobile terbanyak ketiga di dunia, setelah India dan China. Menurut laporan Perusahaan Telekomunikasi Ericsson ada lebih dari 10 juta pengguna baru internet mobile di Indonesia selama quartal pertama 2017. Ini merupakan peluang besar bagi media nasional untuk memenetrasi pasar. Tapi, mereka juga harus berebut dengan media asing yang ikut mengincar pembaca atau pengguna internet di Tanah Air. Apalagi, beberapa media internasional juga terbit atau menyediakan layanan berita dalam bahasa Indonesia.

Media nasional pun mesti berhadapan dengan media sosial. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2016 merilis, sebanyak 71,6 juta atau 54% pengguna internet di Indonesia merupakan pengunjung setia Facebook. Pertumbuhan media sosial juga menambah ketat persaingan dalam berebut ceruk iklan.

Survei DailySocial, 2016 menyebut iklan Facebook, Instragram, dan Googgle berpengaruh besar terhadap keputusan konsumen untuk berbelanja daring. Sejalan dengan itu, Zenith Optima, agensi iklan asal Perancis memperkirakan belanja iklan di media sosial mencapai 50 miliar dollar atau sekitar Rp674,3 triliun pada 2019. Nilai tersebut hampir menyamai belanja iklan di koran.

Perilaku dalam berselancar di dunia maya juga menarik untuk diperhatikan. Riset Opera menyebut sebanyak 32% pengguna internet di Indonesia memasang fitur adblock, pencegah tayangan iklan. Jadi, terlalu menghamba kepada iklan juga bukan perbuatan terpuji. Bisa berdosa besar malah, karena menduakan tuhan. Syirik!

Sekali lagi, peningkatan kapasitas jurnalis dan mutu pemberitaan mendesak dilakukan untuk menghadapi globalisasi media. Kualitas adalah koentji! Yakinlah, kebutuhan terhadap informasi bermutu, aktual dan faktual tetap dibutuhkan masyarakat seiring alih generasi. Masyarakat yang cerdas membutuhkan media yang cerdas dan bernas.

Mulai sekarang berhentilah menyajikan menu telur ceplok di media anda karena masyarakat butuh perbaikan nutrisi. Ganti telur ceplok dengan telur rebus yang disajikan bersama daun singkong, kacang buncis, tahu, mi, lontong dan digaul dengan bumbu kacang. Tambahkan juga kerupuk agar krenyes-krenyes. Tapi, jangan kebanyakan micin! (Aries Munandar)


* Artikel Opini ini ditulis sebagai satu di antara prasyarat mengikuti Uji Kompetensi Jurnalis (UKJ), Pontianak, 4-6 Agustus 2017.  

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Globalisasi Telur Ceplok
Globalisasi Telur Ceplok
https://4.bp.blogspot.com/-cEkg1pJkOb4/WZsfNXBL-0I/AAAAAAAADfM/nrFfHwIPbp4Y71bEB0GDyZ1rR9sMz-98ACLcBGAs/s200/Opini_UKJ.jpeg
https://4.bp.blogspot.com/-cEkg1pJkOb4/WZsfNXBL-0I/AAAAAAAADfM/nrFfHwIPbp4Y71bEB0GDyZ1rR9sMz-98ACLcBGAs/s72-c/Opini_UKJ.jpeg
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2017/08/opini-globalisasi-telur-ceplok_17.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2017/08/opini-globalisasi-telur-ceplok_17.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy