Perawat, Penyiar, dan Pejuang Literasi


Mayu Fentami, Pemenang Penghargaan SK Tri Murti 2017
Ia mengoptimalkan semuanya, merawat pasien di puskesmas, melakukan kampanye pencegahan penyakit lewat radio, dan berkontribusi pada akses literasi, agar warga cerdas berdaya.

Aries Munandar

KAYU yang menjadi tempat bertumpu tidak mampu menahan bebannya. Dia limbung sebelum akhirnya tercebur ke sungai bersama tas yang digendong dan dijinjingnya. Tubuh dan seluruh isi tas tersebut pun kuyup oleh air Sungai Kapuas.

“Mungkin karena (saya) berat, ya. Berat bawa buku,” seloroh Mayu Fentami, Pontianak, Rabu (9/8).

Mayu ketika itu hendak bertolak ke sebuah perkampungan untuk menyajikan bahan bacaan kepada warga. Sebanyak dua tas berisi penuh buku sudah disiapkannya sebagai bekal. Namun, rencana hari itu tersendat lantaran sekitar 100 buku tersebut tercebur sehingga harus dikeringkan terlebih dahulu.

“Alhamdulillah, sungainya tidak dalam sehingga saya tidak tenggelam. Pak Camat pun ikut menolong dan mengeringkan buku,” kenang dara kelahiran Sintang tersebut.

Insiden tersebut menjadi pengalaman tidak terlupakan bagi Mayu. Dia bersama dua tas buku tercebur saat hendak melangkah dari lanting atau dermaga terapung ke perahu bermotor. Mayu ketika itu menumpang rombongan dinas dari kecamatan yang akan berkunjungan ke sebuah perkampungan.

Kejadian tersebut pun tidak lantas menyurutkan semangatnya. Dia tetap rajin menyambangi berbagai perkampungan di Kecamatan Bunut Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Perahu bermotor menjadi andalannya untuk menyusuri perkampungan di sepanjang sungai Kapuas tersebut.

Mayu harus mengarungi sungai selama 2 jam dari tempat tinggalnya di Desa Bunut Hilir. Ada kalanya dia juga berjalan kaki atau bersampan dan bersepeda kayuh untuk mencapai lokasi perkampungan. “Kalau dekat, saya pakai sepeda atau anak-anak datang ke rumah.”

Jemput bola
Mayu sehari-hari bertugas sebagai perawat di Puskesmas Bunut Hilir. Aktivitas kedinasan itu cukup menyita waktu karena dia juga bertugas di unit gawat darurat (UGD) dan rawat inap. Kediamannya di samping Puskesmas juga harus siap digedor pada tengah malam apabila ada warga yang membutuhkan pertolongan. (BACA: Kiprah Mereka Menembus Dinding Puskesmas)

Padatnya jadwal kedinasan tersebut tidak membuat perempuan berusia 30 tahun ini terjebak dalam rutinitas. Dia masih menyempatkan diri untuk ikut menyelesaikan problematika sosial warga. Mayu pun bergabung dengan Gerakan Kapuas Membaca (Kaca) untuk membangun budaya literasi.

Gerakan Kaca merupakan program literasi berbasis komunitas di Bunut Hilir. Mayu bersama beberapa rekannya menghidupkan kembali program yang sempat vakum tersebut. Mereka menyewa sebuah toko di pasar di ibu kota kecamatan untuk dijadikan sebagai perpustakaan.

“Uang sewanya dari saweran beberapa teman, termasuk teman kuliah saya, ungkap alumnus Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini.

Walaupun peminatnya banyak, perpustakaan yang dirintis Mayu dan kawan-kawan hanya mampu bertahan tidak lebih dari setahun. Mereka tidak sanggup lagi membayar uang sewa toko. Pengunjung terutama anak-anak pun kerap menanyakan kapan perpustakaan mereka kembali dibuka.

Mayu bersama para relawan akhirnya memutar otak agar gerakan literasi tersebut jangan sampai kandas di tengah jalan. Mereka mengubah strategi pelayanan dengan pola jemput bola. Pengelola mendatangi perkampungan di setiap desa dengan membawakan bahan bacaan untuk warga.

Sejak itu Mayu pun selalu menjadwalkan kegiatan kepustakaan di sela kesibukannya berdinas di puskesmas. Dia mengagendakan minimal 2-3 kali setiap bulan untuk berkunjung ke perkampungan. Karena tidak memiliki biaya operasional, Mayu kerap menumpang agenda lapangan puskesmas atau pemerintah desa. 

“Kami juga sering menumpang ketika ada kawan-kawan dari (organisasi lingkungan) WWF turun ke lapangan,” akunya.

Tugas ganda
Kehadiran Gerakan Kapuas Membaca sangat dinanti dan diminati warga. Mereka menganggap inilah satu-satunya wahana pembelajaran dan sumber ilmu sekaligus sarana hiburan bermanfaat. Gerakan ini hadir untuk memberikan akses informasi yang masih sangat terbatas di Bunut Hilir.

“Hanya sebanyak satu atau dua lokasi permukiman yang tidak bisa kami jangkau. Lokasinya terpencil karena berada di tengah danau, penduduknya juga sedikit,” jelas Mayu.

Tidak sekadar diajak membaca, Mayu juga merangkul anak-anak setempat untuk bermain sembari berimprovisasi dan bereksperimen. Bahannya berasal dari bacaan mereka. Ada juga kuis dan kampanye mengenai kesehatan dan lingkungan yang disisipkan dalam kegiatan berliterasi tersebut.

Mayu menganggap kegiatan ini sangat menunjang tugasnya sebagai tenaga medis karena bisa sekalian mengetahui kondisi kesehatan warga. Kegiatan ini juga sejalan upaya kampanye kesehatan yang dilakukan melalui Surasuta, stasiun radio komunitas di Kecamatan Bunut Hilir.

Dari semula hanya sebagai narasumber, Mayu kini menjadi penyiar sekaligus pengasuh Program Bunut Sehat sejak 2013. Program mingguan ini menyiarkan informasi dan penyuluhan kesehatan serta lingkungan. Dengan jangkauan siaran sejauh 20 kilometer, program ini pun bisa disimak seluruh warga di Kecamatan Bunut Hilir.

“Walaupun capek, saya harus menyempatkan diri. Ini panggilan hati, dan sepertinya tuhan mengasi jalan kepada saya untuk terlibat di radio komunitas dan kapuas membaca,” kata Mayu.

Pejuang literasi
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mengganjar Mayu dengan penghargaan SK Trimurti 2017. Mayu dinilai sebagai pejuang untuk keterbukaan akses informasi bagi masyarakat di Bunut Hilir, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Mayu berhasil menyisihkan 18 nomine yang beberapa di antaranya tokoh terkenal, dan dari luar Indonesia. Seleksi terhadap pemenang dilakukan secara ketat dengan mengacu ke beberapa kriteria. Di antaranya, isu yang diperjuangkan, lokasi pengabdian, serta konsistensi dan durasi pengabdian.

“Saya mempunyai kewajiban untuk berbagi harta. Harta saya itu cuma ilmu. Saya tidak ingin seperti Karun yang mati tenggelam oleh hartanya sendiri,” pungkasnya.

COMMENTS

Name

Beranda Negeri,34,Edukasi,12,Ekologi,55,Ekonomika,45,Inspirasi,34,Jelajah,20,Realitas,16,Riwayat,12,Tekno,11,Tradisi,58,
ltr
item
PeladangKata: Perawat, Penyiar, dan Pejuang Literasi
Perawat, Penyiar, dan Pejuang Literasi
https://1.bp.blogspot.com/-T6YqsAbUOoQ/WaaRbsrommI/AAAAAAAADf8/0IjM2maBEEkWW9zCLbamyT8Jt4xkhtQaQCLcBGAs/s200/Inspirasi_Mayu%2BFentami_2.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-T6YqsAbUOoQ/WaaRbsrommI/AAAAAAAADf8/0IjM2maBEEkWW9zCLbamyT8Jt4xkhtQaQCLcBGAs/s72-c/Inspirasi_Mayu%2BFentami_2.jpg
PeladangKata
http://www.peladangkata.com/2017/08/perawat-penyiar-dan-pejuang-literasi.html
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/
http://www.peladangkata.com/2017/08/perawat-penyiar-dan-pejuang-literasi.html
true
1600297275400218305
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy